Umpatan Ahok di Mata Mamah Muda

Umpatan Ahok di Mata Mamah Muda

“Taaa****…!!!! Nenek Lu….!!!! “

Kata-kata itu akrab di televisi. Dilontarkan oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta yang terhormat, Basuki A. Purnama. Saya tidak tahu apa yang dirasakan Pak Ahok saat mengucapkan hal itu. Dan saya lebih gagal paham lagi mengapa banyak televisi yang kemudian menyiarkan hal itu berulang-ulang.

Padahal saat ini, sedih rasanya banyak orang tua yang “menitipkan” anaknya di depan TV agar dia bisa duduk tenang. Anteng. Dan Bundanya lalu bisa masak, nyetrika, nyuci atau nonton televisi juga. Memang sih hal itu sangat efektif untuk membuat anak diam. Tinggal disediain kasur, camilan, dan layar yang menyala-nyala bergerak-gerak.

Tapi bagaimana bila anak malah menonton seorang pejabat membentak-bentak dan mengumpat? Sebenarnya bukan cuma Ahok yang seperti itu. Walaupun sebenarnya banyak juga pejabat publik yang di televisi saat ini rasa-rasanya mulai bertingkah sama. Ada apa ini..? Apakah ini adalah rekayasa opini? Tidak sadarkah hal itu bisa berimbas pada anak-anak? Mana ada orang tua yang ingin anaknya masih unyu-unyu tapi sudah pandai mengumpat.

Itulah pentingnya menjaga anak yang usianya masih balita dari perilaku-perilaku yang tidak etis. Itulah pentingnya anak dijauhkan dari televisi, karena dia bisa meniru. Karena anak adalah peniru yang sangat mahir.

Dan gagal paham pula saya bahwa Ahok -dulu, sebelum kini di demo besar-besaran yang membuat memilih sikap politik; diam dan menunggu- malah “bangga” dengan kelakuannya. Katanya tegas, katanya tidak apa-apa kasar, tidak apa-apa nakal yang penting tidak narkoba, eh. 

Tapi itu salah.

Saya rasa bukan tegas namanya, itu karakter yang sudah tertanam. Segera jauhkan tayangan-tayangan seperti itu dari anak-anak kita. Children see, children do. Duh, Ahok yang asyik mengumpat, tapi mamah-mamah muda yang repot. 

Anak bisa meniru berteriak, membentak atau mengumpat sesuka hati kepada siapapun.  Iya, anak-anak akan mengikuti segala tingkah laku, atau ucapan yang dia lihat dan dengar. Apalagi anak-anak dalam masa golden age, bak alat rekam yang siap menyimpan memori dengan resolusi yang tinggi.

Lucu bila ada seorang bapak yang melarang anaknya merokok sedangkan dia sendiri bisa menghabiskan satu bungkus rokok perharinya. Bukan komunikasinya yang tidak efektif, tapi contoh yang ia dapatkan, teladannya yang menjadi panutan.

Apalagi anak-anak yang memiliki gaya belajar audio-visual, akan dengan mudah merekam apa yang mereka dengar dan lihat. Nah, ada contohnya juga betapa konyol televisi di negeri Indonesia. Mentang-mentang yang punya televisi adalah ketum parpol, lalu menayangkan setiaaaappp hari pada jam prime time Mars parpolnya. Lagu Indonesia Raya saja, tidak pernah seperti itu. Lha, ini Mars Parpol.. Hadeeuh biyuuung…

Saya sudah mensurvey di sekolah dasar tempat saya mengajar, luar biasa hasilnya mereka hafal dengan baik. Dari tingkat kelas bawah sampai kelas atas. Padahal lagu Indonesia Raya banyak yang belum hafal. Hal tersebut membuktikan betapa TV itu berdampak besar bagi anak-anak kita.

Lantas kalau yang mereka tonton adalah para pejabat yang suka marah-marah, membentak-bentak tidak jelas, dan berteriak keras tanpa paham kita apa maksudnya, apa jadinya?

Saya terkaget ketika anak lelaki saya memanggil dengan berteriak keras, “Buu.. Ibu…” atau saat meminta sesuatu dengan berteriak, padalah kami tak pernah mengajarinya demikian. Ternyata belakangan kita tahu, dia meniru saudara sepupunya. Ngga butuh waktu lama, hanya dengan melihat dan mendengarnya.

Disini kita yang mengajarinya dengan pelan dan butuh waktu lama, akhirnya harus kalah dengan apa yang dia lihat dan dengar.

Kami mengajarinya memanggil bunda, tapi ternyata yang terekam di memorinya bukan seperti yang kami ajarkan. Ya sudahlah tetap lanjutkan meski belum berhasil. Dan untuk hal meminta sesuatu dengan berteriak-teriak, kami selalu soundingkan padanya untuk meminta dengan baik. Mengatakan padanya bahwa kami tidak suka dengan caranya.

Belum lagi ketika rasa gregetan saya diujung tanduk, saya tak berteriak atau membentaknya tapi menekan hidungnya sebagai pelampiasan rasa gregetan saya. Dan taraa.. dia dengan cepat mempraktikannya pada sang ayah. Bila dia meminta sesuatu atau sedang mainan sampai geregetan, dia langsung menekan hidung ayahnya, memancung-mancungkannya.

Persis seperti apa yang saya lakukan padanya. Maaf ya Nak.. bunda khilaf. Setelah kejadian itu saya selalu mengingat bahwa para anak dengan usia golden age adalah peniru hebat. Mereka dengan baik merekam dan melakukan kembali apa yang  telah ia dapatkan.

Seringkali kita saking gregetannya sama anak, atas ulah mereka kita tak cukup sabar menghadapinya, sering berteriak sambil marah, palagi saat kondisi hati kita sedang tidak baik. Sebaiknya dihindari ya bun, meski tembok penuh coretan, baju putihnya penuh tanah, rumah berantakan kayak kapal pecah, dan dikejar deadline.

Segera tarik napas dalam-dalam. Stop berteriak di depan anak. Berteriak dan membentak bukan komunikasi yang efektif. Justru membuat mereka kaget, takut dan defensif.

Pernahkah mendapati anak memecahkan piring atau gelas? Dan kita berteriak histeris. Atau sekedar ngomel-ngomel dengan suara keras “Tuh kan baru aja bunda bilang, ngga boleh mainan piring nanti pecah” justru omelannya cenderung menyalahkan.

Hal ini akan berdampak buruk pada psikologinya. Dari beberapa literatur mengungkapkan bahwa jutaan sel otak anak akan rusak ketika terjadi bentakan atau teriakan keras. Jadi jangan salahkan mereka kalau nantinya mereka menjadi pribadi yang keras kepala, suka berteriak-teriak. Mereka hanya mempraktikan apa yang ada dalam memori mereka.

Sebaliknya, dukung tumbuh kembangnya dengan kasih sayang yang tulus dan belaian yang lembut. Berikan contoh yang baik, perlakukan mereka sesuai usia tumbuh kembangnya. Jadilah rumah yang nyaman bagi mereka, sehingga mereka tidak mencari kenyamanan di luar.

Disisi lain, teriakan-teriakan pada mereka membuatnya tertekan, dan tingkat kepercayaan dirinya cenderung rendah, mudah tersinggung, dan mudah marah. Hasil  penelitian yang dilakukan oleh Lise Gliot pada anaknya sendiri.

Penelitian Lise Gliot ini dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya.

“Hasilnya luar biasa, saat menyusui terbentuk rangkaian indah, namun saat ia terkejut dan sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian indah menggelembung seperti balon, lalu pecah berantakan dan terjadi perubahan warna. Sungguh diluar dugaan, dampaknya begitu besar pada perkembangan otak anak,” katanya.

Ayah dan bunda mana yang tak ingin menemani tumbuh kembang putra-putrinya dengan baik? Tentu saja, kita ingin yang terbaik untuk buah hati kita. Oleh karnanya, selalu isi ulang saldo kesabaran ayah bunda.

Pendidikan anak bukanlah tanggung jawab sekolah atau tempat penitipan anak. Bukan mereka yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak, tetapi kita. Orangtualah yang memiliki tanggungjawab penuh atas anaknya. Baik buruknya anak adalah tanggungjawab orangtua. Ini juga menjadi catatan besar bagi saya pribadi.

Semoga putra-putri kita bisa bertumbuh dengan baik, menjadi pribadi yang kuat dan penuh tanggung jawab. Mari perbaiki dan terus belajar menjadi orang tua yang sabar, baik, dan bijak. Jauhi berteriak, membentak, marah-marah dan mengumpat pada anak. Dan jauhkan anak-anak dari televisi.

Ditulis oleh: Nurul Aeni, Seorang ibu seorang guru.

Comments

Nurul Aeni

Seorang guru, seorang Ibu..
Close Menu