Waspada! Ini Dampak Negatif Anak Sekolah Terlalu Dini

Waspada! Ini Dampak Negatif Anak Sekolah Terlalu Dini

“Aduh, lucunya. Usia berapa? Udah sekolah belum?”

“Ya, elah.. Moms.. kan bisa dilihat sendiri, anak saya baru berusia dua tahun. Masak udah ditanya sekolah atau belum. Ya, jelas belumlah..” batin saya.

Saya jadi mikir, kenapa sih ibu-ibu sekarang ini kok demen banget kalau lihat anaknya sekolah sejak usia satu tahunanan. Bahkan ada pula sih yang menyekolahkan anaknya sejak bayi.

Memang sih ada dampak positif menyekolahkan anak sejak dini. Tapi ya Mommy perlu waspada juga ya dampak negatifnya. 

Manfaatnya nih, kalau anak sekolah pada usia dini, sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang seringkali menjadi poin positif untuk anak yang ber-‘sekolah’ sejak usia dini.

Pada usia dini atau sejak usia tiga tahun, anak sudah mulai diperkenalkan pada dasar-dasar belajar formal. Kata kuncinya adalah pengenalan melalui pembiasaan. Dan selama metode yang digunakan oleh sekolah tepat, proses pengenalan tersebut akan membawa dampak positif bagi anak.

Pendidikan yang sifatnya terstruktur dan rutin sebaiknya baru dimulai ketika anak masuk SD. Sikap formal dalam belajar biasanya dicapai anak-anak pada usia delapan tahun. Pada masa ini tanggung jawab belajar sudah berkembang.

Jadi, intinya kalau mau menyekolahkan anak sejak usia dini, carilah sekolah yang isinya cuma BERMAIN doang. Bukan kayak sekolah umum yang kita kenal. Kalau anak sudah dikenalkan dengan metode belajar yang seperti pada umumnya, dikhawatirkan nanti anak jadi BOSAN sekolah lho..

Dampak negatifnya nih ya Moms, menurut ahli, menyekolahkan anak terlalu dini bisa menimbulkan masalah anak-anak menjadi lebih mudah frustrasi dengan tanda-tanda lebih sering menangis, kesulitan untuk fokus, kurang perhatian, sulit mengendalikan emosi, serta kemampuan memecahkan masalah menjadi berkurang.

Sementara itu, Moms.. kata Bunda Elly Risman, bahwa memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker.

“Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul dan dalam jenis apa. Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar. Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired). Anak yg mengalami BLAST, lebih rentan menjadi pelaku & korban bullying, pornografi dan kejahatan seksual,” kata Bunda Elly.

Lantas bagaimana ya mendidik anak di usia bawah tiga tahun yang tepat itu? 

Pada usia dibawah tiga tahun, anak harus lebih banyak berinteraksi dengan kedua orang tuanya. Elly Risman menekankan pentingnya pengasuhan orangtua dalam membentuk akhlak anak dan ini dibutuhkan kerjasama kedua orangtua baik ayah maupun ibu. Bayangkan mengasuh anak seperti bermain sepakbola. Bermain bola saja ada gawang yang dituju, bagaimana mungkin mengasuh anak tidak ada tujuan?

Jangan cuma sibuk dengan urusan pekerjaan atau yang lainnya, pendidikan anak jadi terbengkalai. Hasil penelitian kebiasaan pengasuhan anak, ternyata sebagian besar orangtua: Tidak merumuskan TUJUAN PENGASUHAN dan Tidak memiliki KESEPAKATAN BERSAMA bagaimana menjalankan pengasuhan untuk anak-anak mereka.

Hal inilah yang kemudian menjadikan pendidikan anak terbengkalai. Lebih parahnya, anak-anak di negeri kita FATHERLESS, punya ayah tapi tiada. Pergi pagi pulang malam dan tidak menyapa dengan emosi.

Anak-anak adalah harta yang paling berharga. Uang bisa dicari, tapi seorang anak adalah pemberian dari Gusti Allah. Anak adalah penyelamat orang tua kelak di masa depan.

Semoga bermanfaat yaa.. Silahkan kalau mau share, langsung aja.. 🙂

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu