Yang Dibutuhkan Anak Adalah Bermain Bersama Orang Tuanya

Yang Dibutuhkan Anak Adalah Bermain Bersama Orang Tuanya

Pagi-pagi rumah sudah heboh dengan tingkah Farah, anak saya yang usianya baru hampir tiga tahun.

Ia ambil dua ember yang ada dibelakang rumah. Ditaruh di ruang tengah. Kemudian tiba-tiba ia memanggil saya.

“Ummiii….”

“Ya,” jawab saya. “Farah mainan aja dulu disitu.”

Eh, tak berapa lama kok Farah malah menangis. Kencang.

Saya dan suami bingung. Saling bertatap. “Ini anak kenapa ya?”

“Farah kenapa nangis?” tanya saya.

“Oaa..oaa…” ia malah menjawab dengan tangisan makin kencang.

Saya ambil ember yang tadi diambil oleh Farah. Ia rebut kembali. Ia letakkan dalam posisi terbalik seperti semula. Sambil menangis.

Sudah menjadi tabiat anak-anak bahwa tingkah mereka kadang kala sulit dipahami oleh kita; orang dewasa. Ditambah lagi anak-anak usia batita tentu belum bisa mengucapkan kata dengan fasih dan lancar. Bicara mereka masih terbata-bata. Sulit untuk menangkap maksudnya apalagi bila mereka mengucapkannya sambil menangis.

Menangis adalah bahasa yang paling mudah untuk mereka, namun paling sulit untuk diterjemahkan oleh orang dewasa. Termasuk oleh orang tuanya sendiri. Seperti saya yang bingung dengan maksud dan inginnya Farah pagi itu.

“Ummii…. ummmii…..” kata Farah sambil menangis. Kali ini ia melakukannya sambil memukul-mukul ember yang ia balik tersebut.

“Iyaa, Nak. Gimana?”

“Ummiii… aa… duuuudukkk….”

Oh, Farah meminta saya duduk di dekatnya. Saya lalu duduk di kursi disampingnya.

“Ini, Ummi udah duduk.”

Ia masih menangis. Sambil memukul-mukul ember lagi.

“Siniiii……..!!”

Duh, ternyata saya salah sangka. Hehehe. Farah tidak meminta saya duduk di kursi. Coba tebak dimana?

Ya, betul. Farah meminta saya duduk diatas ember itu. 

Tak masuk logika bukan? Masa’ sebuah ember dijadikan tempat duduk? Tapi memang dunia anak adalah dunia yang unik.

Setelah saya duduk di ember, tangisnya pelan-pelan reda. Lantas ia juga ikut duduk di ember yang satunya. Tak lama kemudian tangisnya reda.

Ia ternyata meminta saya untuk menemaminya bermain. Entah permainan apa. Hanya duduk di atas ember. Farah menggoyang-goyang badannya. Kedua tangannya diangkat. Tak lama kemduian tangisnya berubah menjadi senyuman plus ketawa-ketawa.

Ya, hanya anak-anak yang fasih mengubah suasana hati dengan cepat. Setelah menangis lantas tertawa. Bar sabtu minggu bar nangis ngguyu, istilahnya begitu.

Banyak orang salah mengira bahwa keinginan anak itu rumit. Banyak maunya. Namun pagi itu saya jadi tahu bahwa ternyata keinginan anak itu cuma simpel. Sederhana. Mudah dan gampang.

Kita sebagai orang dewasa saja yang kadang sulit untuk mengetahuinya.

Dunia anak adalah dunia yang berbeda dengan dunia orang dewasa. Seorang anak memandang dunia dengan cara pandang anak-anak. Untuk memahaminya kita harus mengubah cara pandang itu; cara pandang sebagai seorang anak-anak.

Maka kadang kala dunia anak selalu menghadirkan kejutan-kejutan yang tak bisa ditebak. Dunia anak selalu unik dan berbeda.

Kadang kita sebagai orang tua berpikir untuk membelikan mainan ini dan itu. Membelikan mainan yang menurut kita, orang tua, bakal disenangi anak. Kadang tebakan kita bisa tepat, dan anak memang suka. Namun sebenarnya, yang lebih penting dari itu, adalah seorang anak membutuhkan bermain bersama orang tuanya. Dengan mainan apa pun. Bahkan dengan sebuah ember yang dibalik.

Ya, lebih penting adalah anak hanya ingin bermain bersama orang tuanya.

.

.

Oleh: Ummi Lia, asal Yogya, Ibunya Farah.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu