Yang Penting Diketahui Saat Anak Belajar Berjalan

Yang Penting Diketahui Saat Anak Belajar Berjalan

Arjuna bulan Maret lalu genap berusia satu tahun. Namun sampai bulan ini, Arjuna masih saja belum bisa berjalan sendiri. Namun ia sudah mulai rajin belajar berdiri.

Saya lihat Arjuna hanya mau merambat tembok atau meja. Ia mulai rajin untuk mengambil berbagai benda di luar jangkauanya. Tepatnya adalah membuat berantakan kembali. Mainan-mainannya yang telah saya susun rapi di atas meja, tak berapa lama akan kembali berhamburan di lantai karena ia sudah bisa meraihnya sambil berpegangan.

Saat ia melakukannya, dan ada yang menghentikannya, ia akan mengamuk. Meronta-ronta. Seolah-olah hendak berkata, “aaa…. hhaaa… jangan ganggu aku…!!”

Saat belajar berjalan, Arjuna tidak mau dipegangi tangannya. Itu lho, dalam bahasa jawanya “ditetah.” Maunya ia berdiri sendiri, merambat di tembok, atau mendorong mainan truknya yang gede.

Di usianya yang hampir 13 bulan ini, Arjuna masih saja belum bisa berdiri sendiri –tanpa pegangan- dalam waktu yang lama. Tiap kali saya latih dia untuk berdiri, ia cuma bisa bertahan selama tiga detik. Setelah itu ia akan duduk kembali.

Jujur, saya jadi agak khawatir. Saat anak-anak seusianya, sepupu-sepupunya, sudah bisa berjalan pada usia 1 tahun.

Namun setelah saya baca-baca berbagai artikel tentang tumbuh kembang anak, ternyata perkembangan Arjuna masih dalam tahap wajar lho, Ma.

Menurut William Sears, MD nih –ahli parenting luar negeri nih kalau dilihat dari namanya- anak belajar berlajan pada usia 12 bulan, namun sebagian besar bayi berjalan pada usia 9 – 16 bulan. Arjuna baru berusia 12 bulan. Masih tahap aman, belum dikatakan terlambat berjalan.

Mengapa bisa begitu, lanjutnya, ternyata berjalan melibatkan kekuatan otot, keseimbangan dan tempramen anak. Nah, faktor terakhir ini banyak mempegaruhi usia berjalan bayi. Misalinya, anak yang cenderung takut-takut dan hati-hati. akan melalui tahapan merangkak, berdiri, dan berjalan secara perlahan dan lebih berhati-hati, memperhitungkan setiap langkah, dan mengalami kemajuan sesuatu kecepatan yang diinginkan.

Begitu ia (akhirnya) berjalan, ia akan berjalan lancar, kok. Sebaliknya, anak yang cepat berjalan, biasanya impulsif. Ia akan mengebut melalui setiap tahapan perkembangan motorik. Umumnya, anak ini memiliki kebutuhan yang tinggi sehingga dengan cepat akan meninggalkan tahapan perkembangannya.

Nah, bentuk tubuh juga menjadi salah satu penyebab bayi lambat atau cepat berjalan. Anak yang berat badan normal cenderung lebih cepat berjalan.

Tapi, Ma..

Sebenarnya yang perlu kita perhatikan adalah, orang tua kadang ingin cepat-cepatnya anaknya bisa berjalan. Namun setelah anaknya bisa berjalan dan bermain-main, orang tua kadang malah menyuruh anaknya untuk duduk diam.

Sama seperti yang dibilang oleh Ayah Edy, “kita dulu mengajari anak untuk bicara, namun setelah ia banyak bertanya dan bicara kita menyuruhnya untuk diam.”

Semoga kita dihindarkan dari hal begituan ya, Ma.

Pokokmen, happy parenting, Ma…

.

.

Oleh: Dewi, Mamanya Arjuna. Tulisannya lain dari Mama Dewi silahkan baca disini. 

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu