Sebaik-baik Pernikahan adalah Pernikahan yang Membuat Kita Jadi Lebih Baik

Sebaik-baik Pernikahan adalah Pernikahan yang Membuat Kita Jadi Lebih Baik

Pernikahan, menurut saya, adalah jalan menuju kepada kebaikan. Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menikah sebab dengan itu bisa menghindarkan seseorang dari maksiat. Itu artinya pernikahan ditujukan agar seseorang menjadi lebih baik. Lalu saya sering bertanya pada diri sendiri, apakah setelah menikah, saya jadi lebih baik?

Tentu saja baik dalam segala hal. Terutama baik dalam tingkah laku. Jadi lebih kuat, tabah, sabar, dan penyayang buat suami dan anak-anak.

Saya tak ingin merugi sebab jadi lebih buruk dari hari ke hari. Seharusnya manusia itu jadi lebih baik dari ke hari. Tapi namanya manusia, sering khilaf. Contohnya saja bagaimana kita berlaku terhadap suami.

Iya, salah satu tugas istri adalah mengurus suami, bukan? Menyiapkan makanan di rumah dan lain-lain sebagaimana semua istri yang baik di dunia ini. Itu kewajiban, menurut saya. Dan itu cara menjadi istri sholehah.

Inginnya selalu bersikap baik seperti itu. Tapi sering juga gagal menjalankan keinginan baik itu. Kalau lagi kecapekan bawaannya kesel dan ogah-ogahan ngurus rumah. Masak buat tiga orang, suami dan dua orang anak, rasanya males banget.

Akhirnya milih beli di luar. Padahal suami saya enggak suka tuh makan makanan dari warung. Dia pilah-pilih banget sama makanan. Makanya dia lebih percaya sama masakan istri sendiri sebab saya tahu betul apa yang disukai suami.

Jujur, saya enggak pinter-pinter banget masak. Masakan saya kalah jauh enaknya sama restoran mahal. Cuma itu, sesuai dengan selera suami. Jadi bagusnya suami saya itu tidak suka makan di luar. Lebih irit buat pengeluaran rumah tangga.

Seharusya saya cukup masak sayur sederhana dan sambal terasi buat dia. Sudah cukup. Sederhana banget dan dia lebih suka itu dari ayam goreng tapi dibeli di warung.

Tapi sekali lagi, kalau lagi capek memang mikir mending beli di luar. Sekali-kali, saya juga pengen bersantai di rumah, begitu pikiran kalo lagi capek. Akhirnya suami terpaksa makan meski dengan roman wajah yang agak cemberut.

Mungkin dia mikir, ngapain sih beli di luar segala, tinggal masak juga. Tapi dia enggak langsung protes, mungkin memahami istrinya yang lagi capek.

Ya, kalo lagi capek ibu-ibu mah enggak ngurus suami cemberut. Soalnya muka saya mungkin lebih serem kelihatannya.

Baru deh pas lagi merenung kayak gini, mikir-mikir lagi, kok aku masih belum bisa jadi istri yang seutuhnya baik buat dia. Baik itu butuh konsistensi. Kayak konsisten masakin suami apa yang dia suka.

Ya, di tengah kesibukan istri yang bejibun, ada baiknya kita merenung sejenak. Menyendiri di kamar atau ruang tamu juga boleh, buat mikir, kita ini sudah jadi lebih baik atau belum?

Kalau belum ya intropeksi diri sendiri, biar bisa jadi istri yang lebih baik lagi. Sebab tujuan menikah ya itu, jadi orang yang lebih baik. Lebih baik dari hari ke hari. Bukan begitu?

Kalau tidak jadi lebih baik, pernikahan itu belum menemukan formulasi yang tepat buat diri kita.

Gimana ya, pernikahan itu dimulai dari akad dan janji suci. Diawali dengan doa dan mengharap ridho dari Allah SWT. Diawali dengan restu orangtua. Awal yang sangat baik buat hubungan dua orang manusia.

Awal yang baik seharusnya bisa jadi kunci menuju jalan kebaikan. Bukan malah kebalik, awal baik terus kemudian mundur ke belakang. Rugi banget kalau begitu jadinya.

Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Menciptakan teman hidup seorang suami agar keduanya bisa saling belajar dan menegur kalau berbuat kesalahan. Saya ingin jadi istri yang lebih baik dari hari ke hari.

Meninggalkan hal buruk yang diselimuti kegelapan menuju terang yang menenangkan. Pernikahan yang sukses itu pernikahan yang membuat suami dan istri menjadi lebih baik.

Comments

Close Menu