HomeTutur KamiAku Ingin Membeli Waktumu, Ibu

Aku Ingin Membeli Waktumu, Ibu

Ibu, kenapa engkau terus menerus sibuk bekerja seharian? Waktu aku bangun ibu hanya menyuruhku untuk mandi, ganti baju, dan makan dengan cepat. Aku turuti saja. Kalau tidak, wajah serius ibu buat aku takut.

Iya, sepertinya sekarang ibu memang jarang tersenyum sama aku. Setiap pagi yang terlihat cuma wajah serius. Keliatan suntuk dan terburu-buru mau berangkat kerja. Jadi, aku merasa ibu memang jarang banget pasang wajah ceria. Melihat wajah ibu yang selalu murung, aku jadi enggak bisa ikut senyum.

Sesekali aku ajak ibu ngobrol saat sarapan, ibu hanya balas singkat-singkat. Bilang iya atau bagus. Kalau ada yang kurang ibu cuma bilang “Makanya, kamu itu yang rajin.” Selalu bilang begitu sampai aku bosan dan hafal sama ucapan itu.

Padahal, aku pengen ibu mau diajak ngobrol. Banyak bicara kayak waktu aku masih kecil dulu. Iya kan, bu?

Waktu aku belum bisa ngomong, ibu ajak aku bicara terus. Padahal aku belum bisa balas apa-apa. Waktu itu ibu bilang supaya aku cepat besar, tumbuh jadi anak yang cerdas dan rajin.

Sekarang aku sudah gede dan bisa ngobrol sama ibu. Tapi ibu lebih sering mendiamkan aku. Belum sempat aku bicara, ibu sudah pergi meninggalkan aku di meja makan. Ibu selalu gitu. Terlalu sibuk kerja sampai jarang punya waktu sama aku buat ngobrol.

Ibu gimana sih? aku kan pengen banyak ngobrol sama ibu di rumah. Tapi dasar ibu sibuk, aku jadi enggak punya waktu sama sekali.

Foto : Ilustrasi


Aku ini anakmu, ibu. Anak yang engkau tunggu sejak umurku baru sebulan di dalam rahim. Anak yang selalu ibu harapkan akan sehebat ayah. Ibu ingat, kan, pertama kali menggendong aku di rumah sakit. Ibu kelihatan senang banget lihat aku yang badannya mungil dan ringkih.

Aku lihat ibu menangis terharu. Bahagia banget lihat bayi mungil yang baru dilahirkan. Aku memang lahir prematur, tetapi Ibu enggak peduli. Waktu itu Ibu berjanji akan benar-benar menjagaku seumur hidup, sebaik mungkin sampai aku bisa hidup mandiri nanti.

Dalam hati, Ibu pernah janji begitu, kan?

Mendengar ibu bicara seperti itu, aku merasa lega. Aku merasa beruntung lahir dari rahim sebaik Ibu. Sejak itu aku tak ragu lagi buat terus ada di dekat Ibu. Aku pengen cepet besar biar tidak merepotkan ibu lagi.

Aku tahu kok bu, kalau aku sering ngompol. Aku juga sering bikin ibu enggak tidur semalaman buat menjaga aku. Bulan-bulan pertama aku lahir memang ngerepotin banget ya, bu. Tidur semaunya dan bangun juga semaunya. Minta ASI terus. Tapi mau bagaimana lagi, aku belum bisa makan yang lain.

Umur 6 bulan, waktu gigiku yang kecil mulai tumbuh, ibu senang banget. Ibu udah membayangkan bisa masak macam-macam makanan buat aku. Iya, aku mau menghabiskan makanan yang ibu masak. Aku juga tahu, kok, masakan ibu memang paling enak di dunia. Bukan karena ibu masak dengan bumbu rahasia. Tapi karena masakan itu dibuat dengan kasih sayang dan cinta. Maka, jadilah masakan terenak di dunia.

Kini aku sudah besar, usiaku delapan tahun, sudah bisa membaca dan sedikit berhitung. Gigiku juga sudah tumbuh. Aku siap diajak bicara dan makan masakan ibu.

Tapi ibu malah tidak mau bicara atau masak buat aku, jarang ada di rumah. Pagi hari sudah pergi. Pulang sekolah juga aku enggak lihat ibu di rumah. Enggak tahu di mana. Mungkin ibu di kantor, di jalan, atau masih sibuk, sibuk, dan sibuk terus.

Kalau aku protes, ibu malah marah. Ibu bilang kalau aku akan mengerti waktu sudah dewasa. Iya, aku memang belum dewasa. Jadi aku enggak mau mengerti apa yang dilakukan orang dewasa di luar sana.

Aku cuma ingin bisa duduk bareng, menemani ibu masak, dan ditemani waktu mengerjakan PR. PR-ku banyak, Ibu. Aku kerjakan malam hari waktu ibu baru pulang. Aku pikir ibu akan ke kamarku buat bertanya apa yang aku lakukan.

Tapi makin ke sini, ibu makin jarang bertanya sama aku. Lebih suka istirahat, atau nonton tv sendirian. Apa ibu masih sayang sama aku? Apa Ibu sudah enggak lagi mau ngajak bicara kayak dulu?

Foto : Ilustrasi


Mungkin ibu selalu tampak murung. Jarang mau tersenyum dan bikin aku ketawa kayak dulu. Tapi mau bagaimanapun, anakmu ini  masih sayang sama ibu. Masih selalu berharap kalau suatu hari nanti ibu bakalan lebih banyak waktu luang buat anak satu-satunya ini. Anak yang selalu jadi harapan ibu.

Aku mau kok belajar keras. Mau berusaha sekuat tenaga biar dapat nilai yang bagus. Tapi buat apa nilai bagus kalau Ibu tidak pernah lagi tanyakan kabar sekolahku. Tidak pernah lagi mau tahu soal cerita-cerita yang ada di sekolah. Padahal semua usahaku di sekolah itu hanya ingin buat ibu senang.

Mungkin ibu akan terus begini. Akan selalu sibuk dan tak punya waktu buat aku. Memang berapa banyak uang yang ibu dapatkan dari bekerja? Aku tidak pernah tahu. Yang aku tahu ibu selalu memberi uang jajan padaku. Itu saja.

Tapi uang jajan saja tidak berarti. Aku ingin yang lebih. Aku ingin membeli waktumu, Ibu. Biar waktumu hanya diperuntukkan buat anak kesayanganmu ini. Biar ibu tak perlu lagi bekerja di luar sana.

Biar aku beli waktumu, Ibu. Biarkan aku menabung uang yang banyak agar Ibu tidak perlu lagi bekerja. Ibu capek kan terus bekerja. Capek sampai enggak punya tenaga lagi buat duduk bareng anak sendiri.

Iya bu, aku mau menabung uang yang banyak. Aku mau membeli waktumu, Ibu.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *