Aku Menyesal Membentak Anakku, Akibatnya Sangat Menyedihkan

Aku Menyesal Membentak Anakku, Akibatnya Sangat Menyedihkan

Aku menyesal berkepanjangan tiada henti. Seolah ini adalah sebuah kutukan yang menimpa diriku sendiri. Anak sebagai permata masa depan dan mahkota kebahagiaan keluarga mengalami derita trauma berkepanjangan sebab perilaku ayah-nya sendiri.

Ya. Ayahnya sendiri.

Ia jadi tidak suka bergaul. Sering murung. Cenderung penakut. Bahkan nilai pelajaran di sekolah selalu rendah.

Sungguh ini adalah cobaan berat yang aku alami, aku juga ikut sakit dan pedih sebab menyesali tindakanku yang tak senonoh pada darah dagingku sendiri.

Walaupun sujud syukur hampir di sepertiga malam aku hajatkan pada yang Maha Kuasa sebagai tanda ampun, supaya anakku kembali seperti semula, ceria dan penuh canda tawa. Hal itu tak mampu membuat Tuhan percaya padaku sebagai ayah yang banyak dosa.

Kejadian ini terjadi dua tahun yang lalu disaat ia menginjak masuk sekolah dasar kelas tiga SD (Sekolah Dasar).

Usianya baru sekitar sembilan tahun.

Baca juga: Wahai, Ibu.. Menyesalah Bila Kesibukanmu Membuat Jauh Dari Anak

Ceritanya anakku menjadi korban dari emosi yang meluap dariku. Sehabis pulang dari kantor dengan kondisi penuh stres. Omset menurun, terjadi krisis di kantor. Badan lelah, pikiran penuh tekanan. Dan itu semua aku bawa sampai rumah. Aku tumpahkan pada anakku yang tidak tahu apa-apa!

Saat aku pulang, ia datang minta bermain denganku. Ia menyambutku dengan wajah ceria, tapi yang aku lakukan malah melukai hatinya.

“Minggir sana! Ayah lagi sibuk! Jangan ganggu!”

Bodohnya, aku membentaknya dengan spontan. Sehabis itu ia diam mematung, aku lihat mukanya pucat, dan berlahan kelopak matanya yang manis sayu dan menites linang air mata. Aku tak sadar apa-apa, seketika itu aku langsung melempar tas rensel yang biasa aku bawa ke kantor, berlari kencang langsung mendekap Alisa sayang, dan mencium keningnya.

Tapi ciuman itu tak membuat Anisa kembali tersenyum. Ia terus diam, dan tak mau makan sampai malam. Gunda sekali yang kurasa.

Esok harinya aku langsung ke dokter, aku khawatir dengan kondisi mentalnya. Aku membaca berbagai artikel dan pergi ke psikolog anak penuh dengan penyesalan.

Tapi semua itu nihil dan tak bisa membuatnya kembali menyapa aku sebagai ayahnya dan ibunya sampai beberapa waktu.

Baca juga: Ini Lho, Caranya Agar Anak Patuh Pada Orang Tua Tanpa Perlu Dibentak atau Dipukul

Setiap harinya ia hanya mengguk dan tak bersuara jika diajak bicara. Anisa yang manis dan jelita kebanggan ayah, mengalami kejiwaan hati dan tak mau bicara kisaran 65 hari. Sebagai ayah yang sebelumnya tak pernah melakukan tindakan kasar pada Alisa, kini terasa di rundung gelisa tiada tara.

Disitupula sebagai ayah, baru bisa menyadari arti dari sebuah harta yang membuat jiwa lebih nyaman dibandingkan aset kantor, yaitu  Anisa sebagai harta yang paling berharga tiada tara yang sekarang mengalami luka.

Tiga bulan sudah, Anisa tak ada perkembangan selain hanya berbicara “ma aku laper”. Suara itu, terasa senandung nyanyian yang selama ini akur rindukan, seolah menyimpan kalimat tuhan menyentuh sanubari dengan syahdu.

Hal itu membuat ibunya dan termasuk aku, serasa di beri nikmat yang tidak perna di rasakan sebelumnya.

Seketika itu, aku menyuruh ibunya untuk berhenti membantu bekerja di kantor, supaya Anisa bisa ditemani kemanapun ia pergi.

Aku bilang sama ibunya, apapun yang ia minta walaupun harus menjual separuh aset perusahan akan aku akan lakukan. Asalkan Alisa bahagia.

Tapi Alisa tak lagi banyak meminta selain kata-katanya hanya bisa di baca yang maha kuasa. Tapi apa daya, aku tetap dalam penyesalan yang mengiris hati yang setiap hari harus menumpahkan air mata pada sujud ilahi.

Tapi semangat dan usahaku sebagai ayah yang berkewajiban untuk menjadikan ia seperti semula tak berhenti begitu saja, aku menyuruh ibunya untuk mengajak Anisa ketempat berlibur sesuai petunjuk dan konsultasi dari berapa ahli yang berapa bulan terakhir sejak kejadian itu aku lakukan.

Baca juga: Selagi Ada Waktu, Habiskanlah Bersama Anak. Sebelum Semuanya Terlambat

Dua Tahun Sudah

Di usia sampai sebelas tahun, Anisa tetap saja belum bisa pulih betul. Ia masih trauma. Dikantor pikirku selalu dilanda perasaan bersalah, kenapa Anisa yang menerima akibatnya, apakah ini adalah teguran yang diatas sana, bahwa seorang ayah tidak hanya bertugas pemberi nafkah batil, di sisih yang lain juga harus memberikanya nafkah batin.

Ada waktu denganya dan mengerjakan PR bersama sembari menonton film karton kesukaanya.

Tapi, bentak yang aku lakukan pada Anisa, membuatnya ia terluka selamanya, batinya begrjolak antara benci dan cinta pada ayahnya. Ia tidak mau lagi dekat-dekat dengan aku, yang biasanya menjadi teman sejati ketika aku menonton sepak bola.

“Ayah merindukannya Anisa sayang,”

Aku sebagai ayah terasa sepi, tak ada pelibur lara, kecuali dosa-dosa yang tak seharusnya di lakukan sebagai ayah. Penyesalan tentunya adalah dosa, setiap dosa penuh dengan risiko yang harus tabah di hadapi, tapi derita alisa dan sakitnya hati yang kuderita sampai kapan ?

Kuharap ini tidak hanya menjadi pelajaran buat diriku sendiri. Melainkan buat ayah bagi anak-anak yang lain, bahwa tidak ada kebahagian dan harta yang perlu di jaga dengan sempurna selain intan permata yang lahir dari rahim ibunya.

Baca juga: Tetaplah Mencintai Ibu Mertuamu Walau Dia Jahat Padamu

Salah satunya adalah anakku Anisa yang menderita gejala penyakit trauma dan mental yang tak bisa aku sembuhkan dengan resep apapun.

Kesalahan yang seolah sepele dan kebanyakan hal biasa seorang ayah memarahi anaknya, justru berakibat pada masa depanya.

Tak ada yang bisa aku perbuat selain penyesal dan dan berharap Anisa sayang, kebanggaan ayah semoga di beri jalan kesembuhan. Untuk Anisa yang lagi medekap dalam kesendirian disetiap harinya dalam ruang kamar ibunya.

“Maaf Ayah menyesal.“

Walaupun kata maaf tak cukup membuatmu lebih baik, akan tetapi ayah berjanji semua dosa yang kamu terimah kelak di akhirat ayah akan menanggungnya. Sebab Ayah sayang dan cinta pada Anisa.

Semoga bisa menjadi hikmah.

(diolah dari berbagai kisah & sumber)

Baca juga: Ayah Bunda, Jangan Bersikap Begini, Karena Bisa Menyebabkan Anak Jadi Durhaka

gizidat

Comments

Close Menu