Aleppo dan Anak-Anak Kita

Aleppo dan Anak-Anak Kita

Belakangan ini Aleppo membara. Bombardir pasukan sekutu Bashar Asad meluluhlantakkan sebagian besar kota. Siapa korbannya? Rakyat sipil tak berdosa.

Foto anak-anak tertimpa reruntuhan, bersimbah darah, menangis sendirian, antrian panjang di pengungsian semua menyayat hati. Apalagi bagi seorang ibu. Kami para ibu, menonton film saja bisa membuat sedih berhari-hari. Sedangkan kenyataan ini benar-benar terjadi di belahan bumi yang sama yang kita tinggali. Kebrutalan yang menjadikan anak-anak berubah yatim, jiwa-jiwa emas yang terperangkap trauma, jangankan rumah bahkan rasa aman sudah punah. Bilakah masa depan masih menyisakan harapan?

Kami para ibu hanya bisa tertunduk pilu, menyaksikan wajah-wajah polos tercekam ketakutan. Tubuh-tubuh kecil bergelimpangan di tengah reruntuhan. Tangan-tangan kecil membekap mulut, menutup mata dan telinga mereka, mencoba menguatkan diri di tengah peperangan yang ‘mengapa harus kami yang mengalami?’ Tubuh-tubuh kecil itu tak mengerti bagaimana mengusir ketakutan yang tiba-tiba menyergap mereka melebihi ribuan mimpi buruk yang mungkin pernah mereka alami. Ini nyata, bukan mimpi!

Kami para ibu hanya bisa menangis. Menangisi ketidakberdayaan, kelemahan, dan kekerdilan jiwa kami. Andai tangan kami bisa menjulur hingga kesana, betapa inginnya kami mendekap mereka. Memeluk seraya mengusap kepala-kepala, membawanya ke dunia kami yang aman dan sentausa.

Rasanya kami ingin berteriak di telinga sekjen PBB dan seluruh kepala negara di dunia: Hey, ini pembantaian terjadi di depan mata kita! Kenapa tak ada upaya serius menanganinya? Kenapa Bashar Asad bisa hidup merdeka sementara rakyatnya ia bunuhi sedemikian keji? Tidak adakah upaya menurunkan Asad dan jabatannya, dan menyeretnya ke mahkamah pengadilan dunia? Dimana kalian, hey, para pejuang HAM! Ini tragedi kemanusiaan kenapa dibiarkan!

Sayangnya, kami hanya mendengar gema dari teriakan kami sendiri.

Lalu saya pribadi hanya bisa berkaca. Menekuri kembali apa-apa yang terjadi setiap hari. Disini saya bisa tertawa-tawa mendengarkan lucu dan riangnya celoteh anak-anak. Mencandai mereka dalam keadaan lapang. Mengajaknya tamasya dan bersenang-senang. Menemani belajar sambil istirahat tenang. Hidup dalam alam yang sangat sedikit kerusuhan, hampir tak ada.

Saya bisa setiap hari pamer masakan dengan mengunggahnya ke semua akun social media. Saling bercengkerama dalam komen-komen ala emak-emak sosialita. Ngerumpi sana-sini membicarakan hal tidak penting bahkan tak sadar perihal aib sendiri. Hidup dalam kenyamanan yang sering melenakan.

Dimana rasa kemanusiaan saya, Bu? Masihkah saya ibu; yang hatinya lembut mencintai tidak hanya darah daging sendiri tetapi seluruh anak-anak di dunia? Masihkah saya ibu; yang pelukannya menenteramkan menghilangkan luka lara. Masihkah saya ibu; yang suaranya menggelegar menyampaikan kebenaran yang diyakininya? Masihkah saya ibu; yang dari rasa kepeduliannya mampu menggerakkan orang untuk turut peduli? Masihkah saya ibu; yang berani tampil dan berjuang?

Baiklah, saatnya berkontribusi. Mulai dari yang saya bisa aja.

Pertama, berdoa. Ya, itu kekuatan utama seorang ibu. Doa-doa yang melangit, memohonkan kebaikan dan keselamatan bagi saudara-saudara kami yang sedang diuji disana. Serta keberkahan dalam ujian itu sendiri. Mereka adalah orang-orang terpilih. Allah swt memuliakan mereka dengan ujian hebat. Seandainya kami disini yang ditimpa ujian serupa, barangkali kami tidak sanggup memikulnya. Kami mendoakanmu, yang tengah berjuang membela kehormatan dan martabat kemanusiaannya. Jika dunia tak berpihak kepadamu, semoga akhirat sempurna Allah balaskan bagianmu.

Dalam tengadah yang lirih di penghujung malam, mari kita doakan saudara-saudara kita. Dalam sujud-sujud yang panjang, mari kita ingat kesedihan dan penderitaan mereka. Kala kita berbuka puasa, ingatlah ada perut lapar yang bahkan tak terasa lapar saking debar ketakutan lebih besar daripada itu semua. Mari doakan dalam napas kita.

Kami para ibu berdoa untuk kedamaian dunia. Agar tidak ada anak-anak yang terluka jiwa raganya. Agar anak-anak bisa hidup sebagaimana seharusnya mereka bertumbuh. Agar jiwa-jiwa muda itu mampu melalui semua ujian, mengalahkan segala ketakutan, dan menjemput masa depan yang gemilang.

Kami mendoakan agar para pemimpin dibukakan hatinya untuk membela dengan kekuasaannya. Membela kemanusiaan yang kian hari digerogoti kepongahan para penguasa lalim. Agar para pemimpin diberikan kekuatan mengubah peperangan menjadi perdamaian yang saling menjaga.

Kedua, menyebarluaskan informasi dan perkembangan terkini lewat social media maupun dalam perbincangan keseharian.

Tragedi kemanusiaan ini bukan masalah kecil yang bisa kita selesaikan sendiri. Dengan menyebarluaskan berita yang terpercaya, semoga kita mampu menggalang kekuatan untuk membantu sesama. Setidaknya lewat berita-berita yang tersampaikan mampu memunculkan rasa kemanusiaan kita sebagai penghuni bumi yang sama.

Lewat social media pula kita bisa melakukan gerakan dukung perdamaian, hentikan peperangan, dan adili penjahat perang.

Ketiga, ajakan donasi untuk Aleppo.

Dengan tersebarnya informasi itu besar harapannya ada langkah nyata untuk berbuat. Salah satunya lewat donasi kemanusiaan. Mereka yang menjadi korban perang berhak mendapatkan santunan dan huluran tangan kita. Dan donasi adalah salah satu bentuk konkritnya. Semoga donasi kita merupakan salah satu bentuk syukur atas kehidupan yang berkecukupan dalam aman dan damai di Indonesia.

Saat ini telah banyak lembaga swadaya masyarakat yang menjadi corong tersalurkannya bantuan hingga ke Suriah seperti ACT (Aksi Cepat Tanggap) dan Sahabat Suriah. Lewat organisasi-organisasi ini bantuan kita insya Allah bisa sampai kesana.

Aleppo, mungkin hanya sebagian kecil potret kemanusiaan yang terpinggirkan. Barangkali bahkan ada banyak kedzaliman yang tidak sempat sampai ke telinga kita. Peran kita sekecil apapun, semoga bisa menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari perhitungan kelak. Save Aleppo! Save Humanity!

Comments

Wahtini

Mamahnya Wahida, tinggal di Jogja. Suka menulis.
Close Menu