Anak Adalah Cayaha Keluarga yang Tidak Pernah Redup

Anak Adalah Cayaha Keluarga yang Tidak Pernah Redup

“Meskipun kita mencoba mengajarkan anak-anak kita semua tentang kehidupan, Anak-anak kita telah mengajarkan pada kita semua tentang kehidupan” – Angela Schwindt.

Saya tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Angela Schwindt di atas, tidak hanya ada rasa ketertarikan semata, tetapi renungan yang dalam sebagai ibu bagi buah hatinya. Perihal penganjaran dan dan tutur kasih sayang pada seorang anak.

Hal ini berawal dari perjalanan panjang untuk menghabiskan akhir pekan bersama suami dan anak. Pada suatu sore terlihat sekumpulan awan yang mendung, di balik jendela mobil pun sudah tampak pula percikan basah hinggap rinai, membuat saya harus membuka payung untuk keluar dari Mobil. Hal ini agar anakku tak kena rintik hujan dan jatuh sakit.

Kala itu, sembari menunggu menu makanan dan minuman penghangat datang, aku membaca satu artikel menarik yang ditulis oleh Angela. Sungguh artikel ini benar-benar menarik. Sehabis satu artikel aku baca, hatiku sungguh terketuk, jika selama ini benar adanya,berarti saya tumbuh dan dibesarkan olehnya, Agustina Dewi.

Sedikit merenung hingga pada kesimpulan di atas yang saya tulis, Agustina Dewi telah menjadikan hidupku menjadi lebih dewasa dan berarti. Semakin membuat hubungan keluarga menjadi lebih dewasa, kami hadapi daripada dulu, saya dan suamiku yang selalu merasa muda yang tak cukup banyak berpikir ke depan.

Layaknya pemuda, seakan dunia hanya segenggam tangan yang mudah kita putar kapan saja…

Sore itu hujan yang semakin membuat bumi jadi basah, petani yang ceria dan hatiku yang gembira sembari memeluk Dewi dengan penuh rasa cinta. Sadarku, Betapa ia juga harapan yang sama dengan petani yang girang karena hujan telah datang, beberapa bibit padi tumbuh lebih tajam.

Saya akui, saya lebih dewasa bersamanya, ketimbang dengan suamiku. Sebelum Dewi lahir, pertikaian, rasa mau menang sendiri, egois yang keterlaluan seringkali menimpali kami berdua. Apalagi di akhir pekan tidak ada jadwal camping, dipastikan kami akan bertengkar habis-habisan.

“Anaknya cantik banget..” tiba-tiba orang di sebelahku memujinya, itu karena Dewi yang mendekatinya sembari membawa sendok dari gelas jeruk anget yang saya pesan di Warung Makan Joglo Pak Wid, tadi.

“Makaci bunda,,,” jawabku mewakili Dewi yang masih belum lanjar bicara hanya bisa berjalan itupun belum lincah dan kuat.

“Namanya siapa?” tanya orang itu pada Dewi.

“Dewi Bunda,” jawabku kembali dengan nada Dewi yang masih aku tuntun untuk bisa bicara menyebut namanya sendiri.

Dari situ aku menyadari arti sebuah pujian bisa menjadi sumber kebahagian bagi sebagai seorang ibu saat anaknya dipuji habis-habisan karena kelucuan yang dibuatnya.

Aku senang sekali. Ini kebahagian kedua yang sangat luar biasa setelah akad nikah waktu dulu karena disunting oleh Mas Dilan. Tapi sekarang, Betapa bahagianya menjadi ibu.

Semenjak itu, aku punya motivasi lain dalam hal mendidik anak, di mana semua yang dia kerjakan adalah sebuah proses pembelajaran bagiku sendiri untuk lebih dewasa. Akhirnya aku tidak bosan, tidak pernah malas, dan tidak pernah letih jika itu atas nama Dewi.

“Mas, semenjak kita punya anak apakah sampean merasa berubah?” tanyaku pada Mas Dilan.

“Maksudnya berubah, pengen punya istri lagi gitu?” jawabnya bercanda.

“Ah.. Mas ini becanda mulu, aku tanya serius, apakah ada perubahan dalam diri mas?” ulangku.

“Apa ya ma, papa bingung, mau ngomong apa, lebih dewasa paling, he he,” ujarnya.

“Masa secara naluri atau sikap masih tetap seperti dulu sebelum punya anak. Apakah sampean tambah bosan atau sayang sama keluarga ?” ucapku tegas.

“Tambah sayang dong, kan beristri lagi tidak boleh he he….” balasnya sambil tertawa nyengir.

“Tukan gitu lagi…sebel ah !!” aku pura-pura ngambek.

“Jangan tanya sayang atau tidak ma, papa memang sayang sama mama sejak dulu. Jika mama tanya apakah papa tambah sayang atau tidak, semenjak papa dengar jika mama hamil, seketika itu papa berubah lebih sayang pada mama,” jelasnya.

“Gombal !!” kataku sambil berpura-pura ketus.

“Papa serius, papa kerja pengen selalu cepat pulang, ingin memastikan mama baik-baik saja, mama minta ini, itu pasti langsung papa turuti seketika itu, naluri ayah membuat aku lebih percaya diri dalam setiap tindakan di kantor, semangat yang luar biasa, entahlah darimana kekuatan itu.” tegasnya.

Begitulah yang disampaikan suamiku, semenjak Dewi ditakdirkan menemani hidup kami berdua, kehidupan rumah tangga sangatlah banyak berubah. Cahaya kebahagiaan di dalam rumah tangga tidak pernah redup, selalu optimis untuk menjalani hari walaupun hanya hidup sederhana.

Comments

Close Menu