Anak Rewel Seharusnya Bisa Membuat Kita Jadi Orang Tua yang Lebih Baik. Setuju?

0
195
anak rewel

Anak rewel? Sudah menjadi hal yang sangat, sangat, sangat biasa bukan?

Tiba-tiba anak menangis dan kita bingung sebabnya. Suatu ketika mungkin kita akan mengalamai hal itu. Bukan mungkin menurut saya, tapi kemungkinan sangat besar. Hampir mendekati kepastian.

Sebenarnya apa penyebab anak rewel? Buanyaaaakk banget Bunda. Bisa karena ia sedang sakit, bisa jadi karena ia sedang takut, sedang lapar, sedang ingin sesuatu, atau sebab-sebab yang lain.

Lihat saja, akan ada suatu momen saat anak yang tadinya berjalan dengan manisnya saat diajak ke mall. Lalu ia melirik ke arah gerai yang menjajakan banyak mainan. Atau ia tiba-tiba tertarik pada penjaja es krim.

Ia berdiri di sana. Merengek. Dan tidak akan berpindah tempat sebelum keinginannya terpenuhi. Kadang sampai harus menangis, berguling-guling di lantai.

Kadang seorang ibu bisa kehilangan kesabaran hanya gara-gara anaknya susah banget untuk disuruh mandi. Saya kira kita semua mengalami hal ini. Saat dimana rasanya pengen banget memarahi anak hanya karena ia tidak mendengarkan omongan kita; ibunya.

Rasanya pengen banget ngomong sama anak betapa ibu sudah capek, lelah dan ingin ia menurut sekali saja.

Ya, kita semua pernah mengalami hal ini.

Kita semua bisa jadi akan berkata pada anak, “Dengerin ibu enggak sih?!” Dan kalau anak tidak menurut, kita membentaknya.

Pertanyaannya apakah si anak lalu jadi memperhatikan?

Tidak, kata Shefali Tsabary dalam bukunya The Awakened Family. Anak justru tidak akan belajar memberi perhatian dari kejadian itu.

“Sama sekali tidak bisa. Si anak akan tumbuh penuh kebencian dan, oleh karenanya, semakin sering membangkang,” katanya.

Kita seringkali hanya berfokus pada sikap anak yang rewel itu. Ya, pada si kecil tanpa melihat diri kita, yang lebih dewasa dan lebih bisa berpikir tenang dan rasional. Kita seringkali menyalahkan anak, tanpa mau mengoreksi diri terlebih dahulu.

Menyalahkan anak memang paling mudah. Anak tidak bisa balik menyalahkan kita.

Tapi sebaiknya kita mengubah fokus pengasuhan. Bukan fokus pada sikap anak yang rewel, tapi lebih berfokus pada perubahan sikap kita dalam menghadapi anak.

Misalnya gini.

Kalau kita ingin anak merapikan mainannya, maka sebaiknya kita bercermin dahulu; sudahkah kita hidup dengan rapi di rumah?

Saat kita ingin menyuruh anak mandi, dan ia tidak mau, sebelum memutuskan untuk membentak anak, sebaiknya kita cari tahu dalam diri kita terlebih dahulu; sudah tepatkah cara kita memintanya?

Itulah yang dimaksud oleh Shefali Tsabary sebagai pengasuhan yang sadar. “Fokus pengasuhan adalah mencari akar dari sikap kita terhadap anak, lalu bertransformasi seiring kita menghadapi konflik dengan anak untuk menajadi lebih baik dan mendewasakan diri,” katanya.

Sebenarnya masih banyak yang dibahas, namun saya kira tulisan ini saya cukupkan pada intinya saja. Pada poinnya bahwa setiap tingkah anak, seharusnya bisa membuat kita menjadi orang tua yang lebih baik.

Bahwa pada setiap perilaku anak-anak kita, entah itu yang ia rewel, entah itu yang ia manis, membuat kita untuk bertransformasi menjadi orang tua yang lebih, lebih, dan lebih baik lagi.

Ya, terus begitu, karena mengasuh anak adalah sebuah perjalanan yang tidak akan pernah berhenti.

Setuju kan BundSay..? Kalau Setuju Mohon SHARE tulisan ini sebanyak-banyaknya yaa.. ^_^

Semoga menjadi amal jariyah penulisnya.. 🙂 Terima kasih..

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here