Anakku Galak Banget Sama Teman-Temannya, Padahal Usianya Baru 2 Tahun. Gimana Cara Mengatasinya?

0
1404
tips mengatasi anak galak

Tanya:

Curhat dong, Mah…..

Anak saya umur 2 tahun 10 bulan. Jenis kelaminnya perempuan. Jadi gini, Bund.. Gimana ya caranya biar anak saya itu gak galak sama teman-temannya.

Heran deh, baru 2 tahun sudah bikin nangis anak-anak lain. Kadang saya suka gak enak sama ornag tua anak-anak yang digalaki anak saya itu.

Dilema banget rasanya. Masak anak saya gak boleh main sama temen-temennya, kalau main sama temen-temennya, eh anak saya suka bikin nangis. Gimana ya baiknya Bund?

– Novita Sari

Jawab: 

Dear, Mamah Novita..

Menurut pakar parenting ya Bund, setiap anak itu membawa karakter yang berbeda-beda. Ada anak yang pendiam, penurut, tapi juga ada anak yang aktif, cerewet, usil dan anak yang butuh beradaptasi dengan lingkungan.

Nah, kita-kita aja nih Bund, yang suka banget melabeli karakter anak yang beda-beda itu. Anak yang aktif, banyak gerak, punya rasa ingin tahu besar, dan usil sering banget kita labeli dengan nakal atau tidak bisa diatur.

Padahal yaa itu karakternya anak-anak aja. Apalagi kalau usianya masih batita.

Maksud saya, gini, jadi perilaku anak yang galak itu sebenarnya mungkin adalah pembawaan dari karakter anak saja. Ia tidak bermaksud untuk menjadi “anak galak,” tapi bisa jadi ada sebab-sebab lain.

Nah, saya sering banget mengatakan untuk mengatasi perilaku negatif anak harus dicari akar penyebabnya dulu.

Coba ingat-ingat saat anak bersikap “galak” sebenarnya apa yang menyebabkannya? Apakah si kecil ternyata “dinakali” sama anak lain? Direbut mainannya? Atau mungkin karena ia sedang lapar?

Orang dewasa aja kalau sedang lapar kan rese banget, apalagi anak-anak. Kalau lapar lebih rese lagi kan ya?

Sebab yang lain, apakah anak meniru dari teman-temannya atau dari televisi atau bahkan bisa jadi sikap anak yang galak itu meniru orang tua, keluarganya di rumah. Kadang tanpa sadar kita, sebagai orang tua, mencontohkan pada anak perilaku negatif lho Bunda.

Kata Bunda Elly Risman, pakar parenting, anak-anak adalah produk pengasuhan kedua orang tuanya. Ketegangan yang dialami anak pun bisa dipicu oleh beragam penyebab. Indikasi adanya agresivitas baik verbal maupun tindakan menunjukkan anak sedang membutuhkan perhatian. Mungkin dia sedang mengalami tekanan apakah dari sekolah, teman bermain atau lingkungan.

Boleh jadi pula anak sedang membutuhkan rasa aman dengan cara ingin selalu berada di sekitar ayah dan ibu. Pada saat seperti ini seharusnya orang tua ‘ngeh’ (memahami) bahwa ada sesuatu dengan anak.

Jadi, sebaiknya Bunda coba deh gali perasaan anak dulu. Apakah ia merasa tidak aman dan nyaman saat bersama teman-temannya? Alasannya apa? Apa saja yang membuatnya tidak senang dan apa yang membuat dia senang?

Setelah itu Bunda bisa memberikan arahan yang tegas dan jelas. Bila si kecil akan memukul anak lain, segera katakan padanya “tidak boleh!” dan jelaskan alasannya. Jangan cuma melarang saja tanpa menjelaskan alasannya pada anak.

Bunda juga bisa menangkap perasaan anak. Dekati dia, berjongkok agar tinggi bunda sejajar dengannya, lalu katakan, “Adek kesal ya? Sini Nak, peluk Mamah. Coba adek cerita apa yang bikin kamu kesal?”

Dengarkan anak cerita anak dan bilang padanya. “Iya, Mamah ngerti kalau adek kesal. Tapi adek tetap tidak boleh memukul temannya ya. Karena memukul itu membuat orang jadi sakit.”

Ajarkan pada si kecil untuk berani mengeluarkan perasannya ya Bunda. dan ingat semarah apa pun kita dengan perilaku anak, jangan memukulnya atau mencubitnya sebagai cara untuk mendisiplinkan anak. Karena anak juga akan lebih mencontoh perilaku itu. Dan ingat, bahwa orang tua kadang juga bisa salah, maka jangan ragu untuk meminta maaf pada si kecil juga.

Mengasuh anak, bagi saya sendiri, adalah sebuah seni. Kadang ada cara-cara yang kita perlu tegas, tapi ada juga cara-cara kita harus bersikap lembut. Kita harus pintar-pintar saja menyesuaikan dan menggunakan cara yang pas dan tepat.

Dan selalu ingat ya Bunda, bahwa segala tingkah laku anak, adalah cara dia untuk mengajarkan kepada kita -orang tuanya- untuk terus belajar menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Karena mengasuh anak tidak ada akhirnya, ia adalah perjalanan sampai akhir hayat.

Semoga jawaban di atas bermanfaat. Kalau ada yang menurut Bunda baik, silahkan bisa diterapkan. Bila ada yang kurang, silahkan Bunda tambahkan. Kita masih sama-sama saling belajar untuk menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kita.

Rini Kusuma ~

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here