Anakmu Bukanlah Anakmu

0
400

Ungkapan itu benar adanya. Ia membuktikan bahwa pengasuhan anak bukan sekadar urusan orang tua semata. Ia menasbihkan sebuah hal yang tak terbantahkan; bahwa anak akan menjalani takdirnya masing-masing.

Ungkapan itu, yang saya kutip dari puisi Kahlil Gibran, adalah anakmu bukanlah anakmu. Lebih lengkap Kahlil Gibran menuliskan bahwa Anakmu bukanlah milikmu,mereka adalah putra-putri sang Hidup,yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau,tetapi bukan dari engkau,mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.”

Gibran menjelaskan bahwa memang betul anak-anak lahir “melalui” orang tuanya, tapi bukan orang tuanya yang memberi anak-anak itu kehidupan, Tuhanlah yang memberikannya.

Anak-anak hanya dititipkan oleh Tuhan kepada orang tua mereka. Dan meski orang tua sudah merawat dan membesarkan anak-anaknya, namun mereka bukan hak orang tua untuk menguasainya.

Kita sebagai orang tua wajib memberikan kasih sayangnya kepada anak-anak. Namun itu bukan berarti orang tua boleh memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya “atas nama” kasih sayang. Orang tua juga tidak layak memaksakan pikirannya, karena anak-anak (sebagai manusia yang utuh) mempunyai pemikiran sendiri.

Maka masih saja ada hal yang menarik tentang pengasuhan anak. Ada cerita tentang anak yang dibesarkan dengan disiplin tinggi, sebagian besar waktunya dipaksakan untuk belajar dan les berbagai macam hal, namun saat dewasa anak ini malah tidak tumbuh sesuai harapan. Jiwanya rapuh dan jenuh.

Ada juga seorang anak yang besar di kalangan keluarga yang kurang berpunya. Orang tuanya tidak berpendidikan. Namun keikhlasan hati kedua bapak ibunya, dengan tekad dan doa tulus, ternyata anak-anaknya setelah besar malah bisa menempuh pendidikan tingkat tinggi.

Maka, jika anakmu menjadi baik, pintar dan sholeh, jangan sekali-kali menganggap bahwa itu adalah buah kesuksesan dan kerja kerasmu dalam mendidiknya. Dengan itu, tanpa sengaja engkau telah menjadikan apa yang kau upayakan sebagai sebab dan penentu, dan lupa bahwa hanya Dialah yang berhak menjadi sumber dari segala sebab.

Jika kau meyakini bahwa usahamulah yang menjadi sebab, perlu kau renungkan; mengapa tak sedikit anak guru/kyai yang terbukti berhasil mendidik ribuan anak/santri menjadi sholeh, pintar dan baik, malah anaknya sendiri tak mau sekolah dan jadi anak nakal?

Mungkin itulah caraNya mengingatkan bahwa jangan sekali-kali kita mengalamatkan sebab dan hasil akhir kepada usaha kita.

Bahwa sesungguhnya kita orang tua hanya wajib melaksanakan yang menjadi bagian kita yakni berusaha sebaik-baiknya menjaga titipan amanah dari Sang Pemilik yang juga hanya kepadaNyalah segalanya bersandar.

Barangkali ada baiknya bila mendapati anak kita pintar, manis, baik ataupun sebaliknya nakal, nangis meronta, bahkan bandel luar biasa. Cukup renungkanlah apakah kita telah melaksanakan dengan baik apa yang menjadi kewajiban dari bagian kita, dan selanjutnya pasrahkan dan sandarkanlah kembali titipan itu kepada Sang Pemiliknya.

.

.

Oleh: Widya

Nb. Keterangan foto feature diambil dari sebuah film berjudul Taree Zameen Par. Sebuah film inspirasi tentang tumbuh kembang anak. Tontonlah, Ma.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here