Ayah Pemarah Menghasilkan Anak Pembenci Orang Tua

Ayah Pemarah Menghasilkan Anak Pembenci Orang Tua

Saya adalah seorang anak yang dibesarkan dalam kekerasan. Pelakunya adalah orang tua sendiri. Memukul, membentak, dan memaki adalah tindakan lumrah bagi saya. Semasa masih berusia belasan tahun, saya merasa perlakuan orang tua itu hal yang biasa saja.

Tetapi seiring bertambahnya usia dan saya akhirnya menjadi seorang ayah, bayang-bayang kekerasan ayah saya dulu itu masih saja terasa dan  membekas dalam ingatan saya. Kenapa kekerasan di masa kecil sulit untuk dilupakan? Kenapa rasa sakitnya justru lebih terasa sekarang ini. Seperti trauma yang terlambat saya rasakan.

Bagi anak kecil, dipukul ya dipukul. Sakit sebentar saja, setelah itu ia akan kembali bergembira atau tertawa. Sakitnya berhenti hanya pada tubuh anak-anak yang masih kecil. Tetapi bagi orang dewasa, sakitnya masuk ke hati.

Baca juga : Jadilah Ibu yang Sabar dan Penyayang Bukan Pemarah

Tanpa kendali, kadang saya terbawa masuk pada kenangan masa kecil yang dipenuhi kekerasan. Tidak enak sekali. Sampai saat ini saya masih belajar mengobati diri sendiri dan memaafkan masa lalu agar siap menyambut kedatangan anak pertama saya nanti.

Ya, istri saya ini, sudah empat bulan hamil setelah dua tahun pernikahan kami. Senang, tentu saja. Dari cerita teman-teman yang sudah menjadi ayah, mengasuh anak itu bukan persoalan gampang. Jadi, saya senang sekaligus was-was akan bayangan saat anak saya lahir nanti.

Apa saya sudah siap membesarkan seorang anak? Apa sudah siap jadi seorang ayah? Apa bisa berhasil? Wah, jika dituliskan semua, kekhawatiran saya sepertinya sangat banyak.

Tetapi justru, hal paling mengkhawatirkan adalah sikap saya sendiri. Apa saya akan mengulangi perbuatan ayah saya dulu? Memperlakukan anak dengan kasar dan seakan-akan berkuasa penuh atas dirinya.

Baca juga : Ini Lho, Caranya Agar Anak Patuh Pada Orang Tua Tanpa Perlu Dibentak atau Dipukul 

Ketakutan ini saya rasakan sebab karakter temperamen yang sesekali keluar dari diri saya. Sebisa mungkin memang sudah saya tahan agar tetap tenang dan sabar. Tapi dalam situasi lelah dan pusing akibat pekerjaan dan berbagai urusan, rasa marah saya terkadang meledak keluar.

Beberapa kali istri saya pernah jadi korban karakter yang ingin saya hilangkan ini. Suatu hari saya dapat jatah kerja lembur mendadak, saya tak dapat menolak. Lewat pukul lima sore istri saya menelpon menanyakan ke mana perginya saya. Ya, sebelumnya saya memang tak memberi kabar.

Masalahnya, dia bertanya seperti tengah menginterogasi dan menganggap saya keluyuran. Mendengar tuduhan seperti itu, sontak saya membentak istri seperti mengancamnya agar tidak sembarangan bicara. Saya tutup telpon dan melanjutkan bekerja.

Malam hari saat saya puang ke rumah, ternyata istri merasa tersinggung dengan cara saya bicara tadi sore. Baginya, itu nada keras yang keterlaluan tajam. Tetapi dasar saya lelah, saya abaikan dan memilih tidur di sofa di ruang tamu daripada berusaha menjelaskan kondisi. Dan dapat diduga, besoknya ia ogah membuat sarapan pagi.

Baca juga : Ayah Bunda, Jangan Bersikap Begini, Karena Bisa Menyebabkan Anak Jadi Durhaka

Tanpa sadar, cara saya berkomunikasi memang tidak cukup baik. Dibesarkan dalam bentakan dan amarah, saya tumbuh sebagai orang yang dikenal bermulut pedas dan cukup sinis. Duh, ini biasanya terucap tanpa sadar. seperti di luar kontrol. Tidak jarang bikin sakit hati orang lain.

Saya pernah membentak, berlaku sarkas, dan lain-lain. Sungguh saya menyesal. Mengapa saya begitu terbiasa dengan kekerasan verbal dan ucapan-ucapan kasar semacam itu. Perempuan mana yang tahan diperlakukan dengan tidak baik seperti itu. Untung dia begitu sabar dan pemaaf. Satu lagi, dia sangat pengertian.

Foto : Ilustrasi


Tapi apakah anak kami nanti akan sanggup bertahan saat mendapat perlakuan buruk dari ayahnya? Rasanya anak sama sekali tidak pantas diperlakukan kasar. Sebab semua pasangan mendambakan kehadiran anak. Begitu Tuhan menitipkannya pada kita, eh, malah disia-siakan. Dimarahi setiap hari sampai tumbuh bibit kebencian di hatinya yang akan ia bawa sampai dewasa nanti. Mungkin seperti saya sekarang ini.

Benar, saya sendiri ingin menghapus memori masa kecil itu. Tetapi ingatan manusia bukan memori komputer yang dapat dihapus hanya dengan menekan tombol delete. Ingatan manusia, membekas seumur hidup. Musim boleh berganti, teman boleh datang dan pergi, tetapi ingatan tetap bertahan dan membekas. Akan selalu begitu.

Daripada kenangan yang manis, ingatan pahit sepertinya lebih lama membekas. Bukankah begitu?

Saya jadi ingat, sikap orang tua saya dulu itu disebabkan oleh hubungan pernikahan yang tidak harmonis. Jalinan hubungan yang kurang baik antara Ayah dan Ibu. Saya jarang melihat mereka berdua saling bercerita atau memberi perhatian.

Di waktu istirahat, ibu lebih suka melihat televisi sementara ayah mengurusi hewan peliharaannya. Ibu tidak suka burung-burung yang ayah pelihara di halaman rumah. Sebaliknya, ayah tak suka melihat televisi. Dan mereka tidak saling mendukung satu sama lain.

Benar-benar suasana rumah yang sangat dingin kala itu. Saya tak pernah menerima kehangatan dan perhatian dari orangtua. Justru lebih banyak dimarahi dan dibentak, sesekali ditendang juga pernah. Anak kecil mana yang tahan dengan perlakuan seperti itu.

Tetapi perlakuan buruk seperti itu memang sangat banyak diterima anak zaman dulu. Cara-cara pola asuh yang baik belum banyak beredar. Saya pikir dengan banyaknya informasi mengenai pola asuh yang baik, anak akan dibesarkan dalam suasana rumah yang jauh lebih baik.

Meski orangtuanya merupakan produk pola asuh yang buruk, bukan berarti anaknya akan mendapat perlakuan yang sama. Anak bukan tempat kita membalas rasa kesal akibat perlakuan buruk di masa kecil dulu. Jika itu terjadi, maka akan jadi lingkaran setan tanpa ujung.

Anak disakiti sewaktu kecil, tumbuh besar jadi ayah, lalu mengulangi perlakuan orangtuanya yang buruk pada anak. Terus saja begitu tanpa ujung.

Ya, sebesar apapun rasa sakit yang diterima saat kecil, sebaiknya kita mampu menghapus itu. Jika tak bisa, maka semampu kita untuk menahan diri agar tidak meledak di depan anak. Ingat, memori anak begitu kuat dan akan membekas sampai dewasa nanti.

Jika ia dibesarkan dalam atmosfer penuh amarah, ia akan tumbuh jadi pendendam , pemarah, dan tipikal orang yang kesulitan bergaul dengan teman. Sebab ia tidak pernah merasa aman, selalu curiga dengan orang lain, dan bersikap pesimis pada segala hal yang ada di dunia ini. Sungguh, karakter demikian tidak akan menutun seseorang pada jalan kesuksesan. Saya pernah merasakan itu, tapi anak saya tak perlu merasakannya juga.

Comments