Bahagianya Istri Saat Suami Mau Berbagi Pekerjaan Rumah dengan Dirinya

Bahagianya Istri Saat Suami Mau Berbagi Pekerjaan Rumah dengan Dirinya

Meski kerap disepelekan, pekerjaan rumah tangga bukan hal yang mudah dan ringan. Menyelesaikan seabrek tugas domestik dalam rumah membutuhkan tenaga dan waktu yang banyak, sebanyak bekerja di luar rumah. Tentu saja bikin capek dan stres. Apalagi setelah punya anak, habis sudah waktu buat bersantai.

Baru aja mulai masak, eh, si kecil rewel. Mau enggak mau masak ditinggal buat nenangin anak dulu. Akhirnya waktu memasak mengulur jadi tambah lama. Biasanya selesai satu jam nambah jadi dua jam. Jelas capeknya nambah berkali-kali lipat.

Bukan, bukan salah anak kok itu. Mau rewel sesering apapun, orangtua tetap harus mengurus anak dengan baik, yang salah itu kalau mengabaikan anak sama sekali. Didiemin waktu nangis, dibiarin waktu ngompol, ditinggal waktu bermain. Itu salah banget.

Jadi, kalau pekerjaan istri di rumah numpuk dan terus nambah, solusinya adalah berbagi pekerjaan rumah dengan suami.

Iya, itu solusi terbaik daripada menyalahkan anak. Segala macam kerempongan khas ibu yang capek akan hilang kalau saja suami mau ikut mengerjakan tugas rumah.

Memang, bukan berarti enggak bakalan capek lagi. Bekerja tetap capek, tapi lelah bisa berkurang sebab ada teman yang siap menemani mengerjakan semua itu. Plus ditambah rasa bahagia melihat suami yang mau mengambil alih pekerjaan.

Baca juga :

Apa Sulitnya Memberi Perhatian pada Istri?


Istrimu adalah Ratumu, Jadikan Dirinya Istimewa


Suamiku Hebat Tidak Hanya Pada Istri, tapi pada Anak-Anakku Juga

Hai para Suami, Anda bisa mencoba trik ini untuk mengubah wajah istri yang biasanya cemberut jadi segar dan ceria. Agar saat di rumah, Anda tidak perlu pura-pura sibuk menghindari tatapan mengerikan istri. Hehe..

Teman saya sudah mempraktikkan ini  dan terbukti berhasil. Keduanya masih muda dan baru memiliki satu anak berusia delapan bulan. Tentu mengurus bayi berusia dini membutuhkan banyak sekali curahan perhatian.

Tapi nyatanya pekerjaan rumah bisa terselesaikan dengan baik. Sebab mereka berdua mau mengerjakannya bersama.

Sejak pagi hari setelah shalat subuh, suami mau ikut bergerak bareng istri. Suami mengepel lantai, menyapu, atau mencuci. Sementara istri masak di dapur dan memandikan bayinya. Kombinasi yang keren.

Jam enam pagi semua pekerjaan sudah beres dan keduanya bisa berangkat kerja. Benar-benar pasangan muda yang bersemangat dan penuh cinta.

Wajar saja jika di tempat kerja, si istri masih bersemangat. Meski sudah bekerja sejak pagi hari tapi tidak kelelahan dan kehabisan tenaga. Jelas saja demikian sebab dia memiliki suami yang mau berbagi pekerjaan di rumah.

Suami seperti dirinya adalah suami hebat yang memilih membantu istri daripada tidur sampai pagi atau sekadar mengisi pagi dengan minum kopi. Dia tidak semalas itu.

Apa suami Bunda juga sehebat dirinya?

Jika iya, berbahagialah. Berhenti mengeluh sebab suami mau membantu. Namun jika suami Bunda belum begitu, maka beritahukan kisah teman saya itu. Barangkali dengan mengetahuinya, dia siap membantu Bunda beres-beres rumah biar enggak berantakan. Semoga, ya.

Wajar sekali jika raut muka ibu-ibu selalu cemberut dan kelelahan saat suami enggan membantu. Dipikir pekerjaan rumah itu enteng dan mudah. Tentu saja tidak. Semua itu melelahkan tanpa bantuan suami.

Kita menikah untuk saling membantu, bukan? mungkin pertanyaan untuk suami ini menggema di dalam hati Bunda. Ingin sekali suami ikut cuci piring, cuci baju, atau mengurus anak.

Istri enggak menuntut suami melakukan semua kok. Atau mengerjakan sesuatu yang tak bisa ia lakukan seperti masak. Enggak. Kalau enggak bisa masak enggak usah masak. Ambil tugas lain yang lebih ringan juga enggak apa-apa. Cukup membereskan tempat tidur, mengantar anak ke sekolah, atau cuci baju.

Masih banyak tugas lain yang bisa diambil alih oleh suami. Itu saja sudah membuat hati istri berbunga-bunga, bahagia berkali lipat.

Hai Suami, bayangkanlah perasaan istri saat ia memasak sementara Anda masih tidur pulas di atas kasur. Sebel bukan main tau. Dirinya sedang meracik bumbu dan mengiris sayuran, eh, suami malah enak-enakan tidur.

Makanya, ikut bangun dan ambil bagian. Jangan cuma diam saja melihat istri bekerja. Maunya cuman makan waktu udah matang. Udah gitu enggak mau memuji masakan istri sendiri lagi. Tambah sebel deh.

Berbagi pekerjaan itu romantis. Seperti bareng-bareng membangun Candi Borobudor. Kalau semua beres, semua juga bahagia. Enggak ada yang merasa menderita sebab kelelahan sendiri.

Kalau suami mau bekerja sama dengan istri dalam hal mengurus pekerjaan rumah, niscaya keduanya akan merasa bertanggung jawab atas rumah dan menemukan kebahagiaan tinggal dalam rumah. Jadi enggak ada lagi kebiasaan buruk suami keluar rumah malem-malem sama teman. Dan seperti istilah terkenal, suami dan istri merasa “Home Sweet Home,” atau “Baitii Jannatii.”

Comments

Close Menu