Beginilah Dahulu Ibu Mengasuhku..

Beginilah Dahulu Ibu Mengasuhku..

Di tanganku, tergenggam foto ukuran kartu pos. Pinggirnya sudah berjamur. Namun gambarnya masih tampak jelas. Di foto itu ada aku, ibuku, dan satu orang anak tetangga yang dulu sering main kerumahku.

Aku tak bisa mengingat foto itu tahun berapa. Yang kutahu, bahwa di foto itu wajahku masih terlihat duduk di sekolah dasar.

Kami duduk di sebuah bangku yang cukup luas. Sebenarnya itu ranjang, yang ditaruh di luar rumah.

Ibu ada di belakangku. Aku nampang di depan. Sambil memegang mainan. Ibu sedang membuat kerajinan yang akan ia jual kembali ke esokan harinya. Anak satunya duduk di sepeda roda tiga sambil mendongak ke atas. Melihat kamera.

Aku sendiri hanya melihat kebawah. Tidak senyum. Rasanya waktu itu, aku memang tak begitu suka di foto.

Menurutku ibu adalah wanita luar biasa. Dan mungkin setiap ibu adalah wanita yang luar biasa. Hal luar biasa yang ibu lakukan padaku misalnya saja, yang sederhana, adalah menyiapkan susu sebelum aku berangkat sekolah.

Saban pagi, semenjak aku duduk di bangku TK selalu saja tersaji susu hangat di meja makan yang akan ku minum sebelum berangkat sekolah. Dan ibu tak memandang bahwa aku sudah dewasa atau masih anak-anak, susu itu selalu ada walaupun aku sudah duduk di perguruang tinggi. Mungkin bagi seorang ibu, segede apa pun anaknya akan tetap menjadi anak-anak dimata ibunya.

Kalau saja bisa dihitung, misalnya aku sekolah TK 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan kuliah, ehm, 5 tahun. Maka totalnya ada 18 tahun. (Duh, lama juga ya sekolah di Indonesia ini… 😀

Selama 18 tahun lebih ibuku selalu membuatkan aku susu coklat.

Mungkin hanya itu yang bisa dilakukan ibuku untuk membekali anaknya ini menempuh pendidikan. Agar jadi anak pintar. Cerdas dan bisa membanggakan. Bukankah setiap orang tua ingin anaknya begitu bukan? Cerdas.

Silahkan bunda bisa juga membaca tips mendidik anak cerdas sejak dini disini ya… 13 Tips Mendidik Anak Cerdas Sejak Dini. 

Itu yang bisa dilakukan ibuku, karena ia tak bisa mendampingiku belajar. Ya, karena ibuku hanya sekolah sampai kelas 2 SD saja. Maka ibuku termasuk dari sekiar 47ribu (data tahun 2014) orang yang masih buta huruf yang ada di Jogja.

Aku ingat, saban malam setiap ada PR dari sekolah, ibuku hanya bisa melihat. Saat aku bertanya padanya, ia selalu menggeleng. Tidak tahu. Aku yang mesti mencari-cari jawabannya sendiri. Kadang bisa bertanya pada ayah, tapi jarang ku lakukan.

Yang sangat ku sesali saat ini adalah bahwa dulu aku selalu merasa malu bila ibu mengambil raportku. Bukan karena aku malu mendapat ranking jelek, tidak. Jelas bukan itu. Tapi aku malu bila ibu mesti diminta untuk membaca dan menandatangai raportku. Aku malu bila guruku tahu bahwa ibuku hanya sekadar tanda tangan saja tak bisa.

Padahal seharusnya aku malah bangga pada ibu. Ibu yang buta huruf, bisa membesarkan anak yang nilainya yah, saat sekolah dasar sih biasanya juara kelas.

Begitulah salah satu fragmen hidupku tentang bagaimana ibu dulu mengasuhku. Mungkin pengasuhan yang ibuku lakukan tidak sesuai dengan teori-teori parenting masa kini.

Harusnya ibu mendampingi anak belajar, tapi itu tidak dilakukan ibuku.

Baiknya ibu membacakan cerita untuk anak sebelum tidur, tapi itu tidak dilakukan ibuku. Baiknya ibu mendampingi anak bermain, tapi ibuku malah sibuk bekerja. Tapi ibuku tidak pernah kekurangan cinta dan kasih sayang dalam membesarkanku.

Ibuku mungkin kurang pintar, tapi ia punya lebih cinta.

Saat ini tentu kondisinya berbeda. Sebagai orang tua yang lahir pada jaman lebih baik, tentu kita akan menerapkan pola asuh yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tua dahulu. Ada ilmu baru yang bisa kita dapatkan untuk mengasuh anak dengan lebih baik.

Ada tantangan yang lebih besar di masa mendatang. Ada masalah-masalah yang lebih kompleks untuk menyiapkan anak-anak kita. Ada persoalan yang dulu tidak ada, misalnya saja gadget, dan kita harus mengahadapinya kini.

Maka menjadi orang tua saat ini, tentu berbeda dengan menjadi orang tua masa lalu.

Itulah kenapa orang tua adalah orang yang tidak pernah selesai belajar. Seperti yang dikatakan oleh Fauzil Adhim, pakar parenting, bahwa Parenting is a journey. Mengasuh mendidik anak merupakan perjalanan tiada henti, perjalanan yang meminta kesediaan untuk terus belajar dan berbenah.

.

.

Oleh: Rini Kusuma, Asal Jogja.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu