Berebut Anak, Pilih Tinggal dengan Mama atau Kakek Nenek?

Published by Vyntiana Itari on

Tuturmama – Ini pengalaman pribadiku menghadapi anak-anak yang sempat memilih tinggal bersama kakek dan neneknya ketimbang denganku. Rasanya seperti berebut anak karena beragam tragedi terjadi saat itu.

Semua berawal saat aku menikah lagi dua tahun lalu. Dua orang anak perempuanku tidak ada yang mau langsung tinggal bersama di rumah mertua alias kakek dan nenek mereka yang baru. Saat itu aku memaklumi dan mengalah karena pasti butuh waktu untuk menerima.

Setiap beberapa minggu sekali mereka main dan menginap di rumah mertuaku. Butuh berkali-kali rayuan agar anak-anak perempuanku ini mau tinggal bersama. Setelah berusaha, aku bersyukur sekali akhirnya mereka mau. Aku pun mengurus surat pindah sekolah anak keduaku yang saat itu akan naik kelas dua Sekolah Dasar.

Semuanya berjalan lancar sampai akhirnya mereka mengeluh tentang papa mertuaku yang terlalu banyak melarang. Semisal, “Jangan jajan terus! Jangan main ke luar! Jangan berisik!” dan lain sebagainya. Sampai pada akhirnya anak-anak merasa tidak nyaman, apalagi mengingat papa mertua yang hanya kakek sambung.

Anak-Anak Tidak Mau Tinggal Bersamaku

Masa liburan sekolah ternyata dimanfaatkan anak-anak untuk stay di rumah orang tuaku dan mereka tidak ingin kembali lagi. Terlebih saat itu baru muncul pandemi COVID-19 yang mewajibkan anak-anak mengikuti pembelajaran jarak jauh. Jadi, aku hanya bisa mengontrol tugas anak-anakku dari jauh saja.

Kehidupan Rumah Tangga Tidak Selalu Berjalan Mulus

Sebagai seorang ibu tentu saja aku merasa sedih. Tidak adanya anak-anak di rumah membuat hati ini benar-benar hampa. Lambat laun aku juga berubah menjadi istri pemalas yang tidak suka beres-beres rumah. Bahkan untuk menyetrika baju anak-anak pun aku enggan. Ngapain nyetrika baju, anaknya aja nggak ada, itulah yang terlintas di dalam benak.

Sampai suatu hari aku berseteru dengan ibu. Aku meminta agar anak-anak bisa dibujuk untuk tinggal lagi denganku. Namun yang terjadi justru orang tuaku seolah seperti ingin mengambil mereka. Aku merasa frustrasi, aku ingin selalu dekat dengan anak-anakku.

Terpaksa Menculik Anak Sendiri

Di tengah rasa gundah gulana itu, aku nekat menculik anak-anakku sendiri. Aku pergi sendirian untuk menjemput mereka, tapi tujuanku tidak ke rumah orang tua. Aku sembunyi di warung tetangga dan memanfaatkan keponakanku yang kebetulan lewat untuk memanggil anak-anakku dengan berpura-pura mengajak jajan.

Sambil menunggu anak-anak, aku memesan taksi online. Sampai akhirnya mereka tiba di warung dan terkejut melihatku. Aku hanya tersenyum lalu membelikan es krim dan membawa keduanya pergi.

Pada saat itu ayahku datang menyusul ke warung karena kakak ipar memberitahukan kehadiranku. Ayahku berusaha mencegah, tapi aku tidak peduli. Aku tetap membawa anak-anak meski di sepanjang jalan mereka menangis.

Beberapa bulan berhasil kami lalui dengan mudah dan biasa saja, anak-anak mulai terbiasa tinggal denganku. Hubunganku dan orang tua yang sempat memanas pun membaik. Namun ada satu kesalahanku yang membuat keadaan kami kembali emosional.

9 Keburukan Tinggal di Rumah Mertua Bagi Seorang Istri

Anak keduaku meminta izin ingin menjalani bulan Ramadhan di rumah neneknya dan aku setuju. Sekitar satu bulan sebelum bulan puasa tiba, kakek sudah menjemput anak-anak. Bahkan saat itu aku memiliki niat untuk menjalani tradisi munggahan ke rumah orang tua dan buka puasa hari pertama di sana.

Namun karena terjadi sesuatu antara aku dan papa mertua, segala rencanaku gagal. Suami tiba-tiba mengajak untuk mencari kontrakan di dekat rumah orang tuaku.

Siapa yang tidak senang akan tinggal lagi bersama anak-anak dan tidak perlu berebut anak?

Belum lagi ternyata aku tengah hamil beberapa minggu. Aku pun menyetujuinya dan bertambah semangat ketika mendapat kontrakan yang masih tetangga dengan orang tua. Itu artinya anak-anak bisa tinggal denganku sekaligus masih bisa bolak-balik ke rumah kakek dan neneknya.

Kaburnya Anak-Anak Kedua Kalinya

Namun ternyata aku salah karena anak-anak tetap tidak ingin tinggal denganku. Padahal jarak dari kontrakan ke rumah orang tua hanya sekitar 200 meter saja. Orang tua menyalahkanku atas tindakan penculikan tempo hari lalu. Mereka bilang anak-anak trauma sehingga mereka tidak mau tinggal dengan ibunya.

Baiklah, sampai di titik ini aku masih bersabar dan mengalah tidak berebut anak. Bagiku yang terpenting adalah bisa melihat anak-anak kapan saja.

Sampai akhirnya masa kontrakan habis dalam waktu lima bulan, aku dan suami pindah lagi ke rumah mertua. Kami juga sudah tidak berusaha membujuk atau mengajak anak-anak, mengingat papa mertua sedang sakit keras. Aku dan suami khawatir kehadiran anak-anak akan mengganggu.

Membangun Kebiasaan Harmonis ala Ridwan Kamil

Tiga hari berselang, papa mertua meninggal dunia. Di satu sisi aku sedih tapi di sisi lain aku merasa ini adalah kesempatan untuk mengajak anak-anak tinggal bersama lagi. Mereka, kan, selalu beralasan “kakek galak,” tapi sekarang kakek sudah tidak ada.

Namun yang terjadi justru orang tuaku lebih merangkul anak-anak. Bahkan ayah memindahkan kembali anak keduaku ke sekolah lamanya tanpa seizinku.

Aku jadi merasa seperti orang tuaku itu sengaja memisahkanku dari anak-anak. Maka dengan berbagai upaya aku meminta tolong kepada pihak sekolah agar menolak kepindahan sekolah anakku itu.

Apapun Kulakukan Agar Anak-Anak Selalu Dekat

Di sini aku merasa sangat stress, terlebih kehamilanku sudah menginjak usia 8 bulan. Mengapa orang tuaku sama sekali tidak memahami perasaanku sebagai ibu? Apa mereka ingin nanti aku terkena baby blues gara-gara masalah anak-anak?

Ah, aku hanya ingin anak-anakku! Aku lelah harus berebut anak terus-menerus!

Untuk kedua kalinya, aku kembali menculik anak-anak, tapi kali ini aku mendatangi rumah orang tuaku. Aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan mengobrol santai dengan ibu seperti biasa. Menginjak sore hari, aku mengajak anak-anakku untuk jajan ke mini market. Setelah jajan, aku memesan taksi online dan membawa mereka pergi.

Kondisi semakin panas dan sengit, terjadi perang antara aku dan orang tua. Bahkan aku memblokir kontak orang tua baik dari daftar kontak ponselku maupun ponsel suami. Ini karena suami juga turut menjadi sasaran ibu dan ayah. Padahal ini semua adalah atas kemauanku sendiri, dengan kata lain suami hanya mendukung saja.

Jangan Menyentuh Anak Saya Sembarangan!

Setelah beberapa waktu akhirnya suasana mulai mencair. Orang tua sudah bisa legowo cucu-cucu perempuannya ada bersamaku. Anak-anak pun mulai memahami dengan siapa seharusnya mereka tinggal atau berkunjung ketika liburan sekolah.

Sekarang, tidak ada lagi kata “perang” atau “penculikan”. Jika tiba waktu liburan, anak-anak tetap kuizinkan main ke rumah kakek dan neneknya dengan syarat harus pulang lagi.

“Kalau Teteh sama Dedek nggak mau pulang, nanti Bunda sama nenek berantem lagi.” Begitulah pesanku pada kedua anakku agar aku tidak berebut anak lagi dan mereka mengerti.

Mengapa Anak Harus Tinggal dengan Orang Tua?

Bagi sebagian orang, mungkin masalah ini sepele. Mungkin mereka berpikir tidak masalah anak-anak tinggal dengan kakek dan neneknya yang penting anak-anak sehat dan hidup mereka terjamin. Namun hal itu tidak berlaku bagiku. Ada banyak faktor mengapa aku bersikeras ingin anak-anak tinggal denganku.

Pertama, anak-anak adalah tanggungan orang tua. Sudah jadi tanggungjawabku untuk mengasuh dan mendidik mereka. Aku pun ingin anak-anak merasakan limpahan kasih sayang dari ibu dan ayah, bukan dari kakek dan nenek.

Kedua, orang tua sudah sepuh untuk mengurus cucu. Tidak masalah dengan anak pertamaku yang sudah beranjak ABG, tapi untuk turut serta mengurus adik-adiknya yang masih kecil pasti kerepotan. Orang tua memang merasa sanggup tapi tidak bisa dipungkiri juga jika fisik mereka capek.

Belajar Mendidik Anak dengan Rumus 7×3

Ketiga, gadget dan uang jajan tiada henti selama anak-anak dalam pengasuhan kakek dan neneknya. Gadget selalu menjadi teman terbaik dan mereka seolah tidak ada batasan untuk jajan pagi, siang, sore, bahkan malam hari.

Bukannya anak-anak tidak boleh main HP atau tidak boleh jajan, tapi semua ada batasnya dan jangan sampai anak kecanduan game online. Ini karena sudah terbukti bahwa dampak buruk game online sungguh berbahaya bagi masa depan mereka.

Itulah kisahku berebut anak dengan orang tua sendiri. Pada intinya anak-anak adalah tanggung jawab kita dunia dan di akhirat. Sesayang apa pun kakek dan neneknya, tetap saja gaya pengasuhan orang tua pada anak adalah yang terbaik.

Semoga kisahku ini bisa memberikan pelajaran karena aku yakin di luar sana pun banyak juga mama dan papa yang pernah atau sedang mengalami hal serupa. Baik berebut anak dengan orang tua, mertua, atau bahkan dengan suami sendiri karena perceraian yang membutuhkan penjelasan hak asuh anak dalam perceraian.

Sumber Gambar: freepik.com


Vyntiana Itari

Aku ibu 6 orang anak, seorang penulis novel, dan editor naskah fiksi.

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dhankasri hindisextube.net hot bhabi naked rebecca linares videos apacams.com www tamilsexvidoes lamalink sexindiantube.net chudi vidio sex mns indianpornsluts.com hd xnxxx shaving pussy indianbesttubeclips.com english blue sex video
savita bhabhi xvideos indianxtubes.com xxx bombay live adult tv desitubeporn.com mobikama telugu chines sex video indianpornsource.com video sex blue film sex chatroom indianpornmms.net old man xnxx aishwarya rai xxx videos bananocams.com sex hd
you tube xxx desixxxv.net xossip english stories sanchita shetty pakistaniporns.com mom sex video cfnm video greatxxxtube.com sex marathi videos mmm xxx indianpornv.com sexxxsex xvideosindia indianhardcoreporn.com ajmer sex video