Betapa Mudahnya Kita Mencela Anak, Betapa Sulitnya Kita Memuji Anak

Betapa Mudahnya Kita Mencela Anak, Betapa Sulitnya Kita Memuji Anak

Indonesia adalah bangsa yang dikenal dengan adat sopan santun yang adiluhung. Sayang, budaya baik itu tidak berlaku saat kita harus mendukung usaha teman sendiri.

Kita adalah masyarakat yang gemar menyerukan kebaikan moral tetapi sekaligus mudah mencela jika orang berbuat salah. Kita adalah masyarakat yang gemar menghukum tapi mahal memberikan pujian.

Mudah mencela dan mahal memuji tercermin dari peristiwa yang dialami I Made Andi Arsana, seorang bapak sekaligus dosen Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada. Lebih tepatnya bukan mengalami, tetapi Sang Dosen membuktikan hipotesanya tentang masyarakat kita yang mudah mencela dan mahal memuji.

Ceritanya begini, saat memberi kuliah Penetapan dan Penegasan Batas Wilayah (PPBW) di Teknik Geodesi UGM, Pak Dosen mengalami kendala pada projektor. Setelah berusaha mengatasi dan tidak bisa, dosen itu berkata: “Ada yang bisa membantu?”

Baca juga: Manfaat Gizidat Untuk Anak Agar Lahap Makan & Tidak Gampang Sakit

Semenit ditunggu, tidak ada yang maju. Dua menit ditunggu, tidak juga ada yang maju. “Gimana, ada yang mau bantu?” tanya sang dosen sambil tersenyum. Ia heran lalu menatap mahasiswanya itu.

Tatapan itu berbalas gerutu mahasiswa yang sayup-sayup menyebut nama salah seorang mahasiswa. Derai tawa khas mahasiswa mulai ramai. Itu biasa terjadi. Selalu ada seseorang di kelas yang menjadi ‘bulan-bulanan’ dan orang itu biasanya baik hati, sabar dan tidak sombong.

Si Dosen melanjutkan pertanyaannya. “Kenapa tidak ada yang maju ya?” tanyanya setengah tertawa.

Ia menjawab pertanyaannya sendiri dengan nada menebak apa yang ada di balik perasaan mahasiswanya. “Takut kalau tidak bisa ya?”. Suasanya berangsur-angsur hening.

Dosen itu melanjutkan ucapannya. “Kan tidak apa-apa, kalian bukan teknisi.” Bapak itu masih meneruskan hipotesanya: “Takut malu ya?” tanyanya lagi. Mahasiswa satu kelas itu mulai saling lihat dan mengiyakan.

Tiba-tiba terdengar sebuah jawaban: “Takut tidak bisa memenuhi harapan” kata seorang mahasiswa. “Takut mengecewakan Pak” kata yang lain lagi. Sang Dosen tersenyum dan semakin tertarik mengeksplorasi apa yang sedang terjadi.

Ia lantas meminta semua mahasiswanya keluar kelas kecuali satu orang mahasiswi yang ia minta tinggal di kelas. Setelah seisi kelas pergi dan pintu tertutup, Pak Dosen meminta tolong pada mahasiswi tersebut menyiapkan proyektor. Tanpa berpikir panjang, satu-satunya mahasiswa itu maju dan membantu Sang Dosen.

Baca juga: Apakah Kita, Orang Tua yang Tergesa-Gesa dan Suka Memaksa Anak?

Syahdan, setelah urusan proyektor kelar Sang Dosen mengizinkan kembali semua mahasiswanya masuk. Si dosen belum juga melanjutkan tentang mata kuliahnya. Ia masih membahas peristiwa tadi. Ia bertanya kepada mahasiswi yang membantunya.

“Kenapa ketika ramai Anda tidak mau membantu, ketika sendiri mau membantu? Bukankah ketika ramai dan sendirian, kemampuanmu tetap?” tanyanya. Mahasiswa ini tersenyum lalu tawa kecil terdengar di ruangan.

Lagi-lagi tak ada yang menjawab. Si Dosen mulai menjawab sendiri pertanyaan dengan nada bertanya. “Kalian takut terlihat memalukan ya?”

Sebagian orang menganggukkan kepala tanda setuju dengan hipotesa sang dosen. Dan sepertinya seisi kelas mengamini perkataan sang dosen.

Dosen itu melanjutkan. “Tahu apa sebabnya kalian takut terlihat memalukan?” tanya sang dosen bergaya pertanyaan interogasi ala psikolog.

Semua orang diam. Lalu sang dosen menjelaskan bahwa perasaan takut karena terlihat memalukan adalah dialami mayoritas orang Indonesia. Ini akibat kebiasaan buruk di tengah masyarakat yaitu gampang menghina, gampang mengolok-olok jika seseorang melakukan kesalahan atau gagal.

Baca juga: Wahai, Ayah Bunda.. Jangan Suka Marah-Marah, Buatlah Anak Nyaman dan Senang di Rumah

“Kalian terbiasa sejak TK menertawakan orang yang salah atau gagal dan itu menjadi hal yang diterima umum. Lebih parah lagi, kalian tidak dibiasakan memuji orang yang melakukan kebaikan atau keberhasilan. Sebagian besar dari kita terbiasa mengolok-olok orang yang salah atau keliru tetapi tidak mengapresiasi mereka yang berhasil,” kata Song Dosen.

Suasana kelas jadi sedikit serius. Kebanyakan dari mereka manggut-manggut. Mereka terlihat berpikir dan merenung. Sang dosen mengembalikan ingatan mahasiswanya kepada peristiwa permintaan tolong dia kepada mahasiswa untuk menyalakan proyektor. Ia menyebut bahwa tidak adanya orang yang membantunya menyalakan proyektor di depan kelas adalah bukti bahwa mahasiswa itu takut dengan sifat dan kebiasannya sendiri yang mudah mengolok-olok orang yang gagal atau berbuat salah.

Dosen itu mengakhiri pembahasannya dengan harapan agar kita yang menyadari baha budaya mengolok dan menghina adalah buruk, segera mengubah kebiasaan. “Biasakanlah mengapresiasi dan memuji orang dan menghilangkan kebiasaan mengolok-olok serta menghina kegagalan orang.”

Dosen itu memberikan rumus agar kita terbiasa memuji dan mengapresiasi usaha orang lain dengan Formula 3 + 1. Artinya tiga kali memuji dan sekali mengkritik sambil memberi masukan.

“Di kelas ini, tidak perlu ada orang yang mengolok-olok teman yang membuat kekeliruan.” katanya. Materi kuliah PPBW pun dimulai.

***

Peristiwa di atas patut kita renungkan sebagai orang tua. Mari kita lihat keseharian kita. Apakah kita lebih banyak memuji anak-anak kita atau justru sebaliknya? Lebih sibuk mencaci kekurangan anak?

Baca juga: Tidak Ada Ibu Sempurna di Dunia Ini, Tapi Selalu Ada Ibu yang Dicintai Anaknya

Anak, apalagi yang usianya masih balita, memang terkadang menyebalkan, dibilangin bandel, suka merengek dan lainnya. Lalu dengan itu, dengan gampangnya kita mencacinya, “Kamu nakal!”

Tidak. Seharusnya sebelum kita mencaci anak sebaiknya kita tidak lupa pula untuk memujinya. Tidak lupa untuk menghargai anak. Karena kalau bukan kita yang menghargai dan mencintai anak-anak kita, lantas siapa lagi?

 

anak susah makan

Comments

Close Menu