Bisnis Rumahan Jadi Solusi Terbaik Ibu yang Sibuk Ngurus Anak

Bisnis Rumahan Jadi Solusi Terbaik Ibu yang Sibuk Ngurus Anak

Saya kehilangan kreativitas sejak saya melahirkan anak pertama, pada awalnya saya ambil cuti kerja, kebablasan pada akhirnya memutus kontrak  di salah satu perusahan di tempat saya tinggal, di Kepulauan Riau. Tentunya, Hal ini atas perintah sang suami agar saya bisa merawat Rama, anak kami dan mengurus pekerjaan rumah tangga lainya.

Suami selalu meminta ke saya agar bisa merawat Rama dengan baik dan membuatnya tumbuh sebagai anak yang baik dalam lindungan orangtuanya.

“Aku tidak ingin anak kita jauh dari kasih sayang, sebab kita sibuk bekerja semua Ma,” ujarnya waktu itu. Dan saya menyetujui saja sembari menganggukkan kepala.

Pada awalnya saya berjalan dengan nyaman, hingga sekarang anak saya memasuki usia  3 tahun. Tentu tidak mudah buat suami saya yang hanya sebagai pegawai biasa di sebuah perusahan, dengan menanggung setiap kebutuhan yang kian bertambah.

“Sayang, sekarang ibunya ngalah dulu ya jika butuh apa-apa,” begitulah kalimat yang sering diucapkannya sembari mengecup kening.

Bagi saya tak masalah, cukup dikaruniai anak sudah alhamdulillah.

Tapi, tetap saja saya tidak tega memberikan tanggung jawab penuh sama suami, terkadang saya melihat mata yang sayu dan lelah seharian bekerja keras demi keluarga, terkadang ia pulang larut malam karena menambah jam kerja (Lembur) demi mendapat uang tambahan. Tentu saja saya merasa kasihan padanya, apalagi sebentar lagi Rama akan mendaftar sekolah pendidian dasar pertama (PAUD), butuh biaya yang tidak murah.

Selama ini saja kita hidup pas-pasan tidak pernah ada lebihnya, terlebih buat saya sendiri sebagai istri, setidaknya barang seperti perhiasan, kecuali hanya dihabiskan untuk beli susu, popok, minyak telon dan hal kebutuhan pokok lainya, seperti bubur.

Tentunya sebagai seorang perempuan yang sudah memiliki anak, butuh perawatan baik tubuh maupun baju agar bisa tetap tampil menawan di mata suami. Saya tak mau suami melirik wanita selain pada saya. Sebab itu saya berpikir keras bagaimana caranya mendapatkan pendapatan setidaknya buat diri sendiri.

Akhirnya saya membujuk suami untuk memberikan kesempatan  saya bisa kembali bekerja, biar Arya bisa masuk di PAUD. Tapi tetap saja suami bersikeras saya harus di rumah, ia menolak berapa alasan yang diajukan. Namun saya tidak memberikan alasan bahwa itu semua untuk perawatan diri sendiri juga, takutnya ia berpikir yang macam-macam.

Akhirnya saya memutuskan untuk di tetap di rumah bersama Rama meski rasa jenuh harus dihadapi sehari-hari. Nonton TV di saat Rama tidur siang, kadang pula main Hp walaupun sekedar buka Facebook serta chatting bersama teman sekolah. Sampai suatu hari saya mendapat pesan di FB dari Dian, teman semasa sekolah. Ia menanyakan kabar serta kondisi saya.

Setelah bercerita panjang lebar tentang masa putih abu-abu dulu, tanpa sengaja saya menanyakan kesibukan Dian sekarang.

“Dian kamu sibuk apa sekarang?” tanya saya pada Dian.

“Aduh aku sibuk ngurus anak di rumah, he he,” jawabnya. Dipikir-pikir saya dan Dian mempunyai nasib yang sama.

“Selain itu kamu sibuk apa Dian,” tanya saya lagi.

“ Ya sembari ngurus anak, aku jualan batik online, buat anak-anak, lumayan bisa nambah pemasukan,” katanya.

“Kamu tau sendiri kan, perempuan selalu butuh sesuatu, dan mudah tertarik pada suatu  hal yang baru, he he,” tambahnya.

Saya pikir Dian ada benarnya, kenapa saya tidak jualan online juga ya, kan pekerjaan ini bisa dilakukan di rumah tanpa harus meninggalkan Rama. Pikir saya dalam hati.

“Tapi pasti suami tidak mau memberikan modal, ujung-ujungnya begini lagi,” gumamku.

Tapi saya berencana mencoba bicara baik-baik, semoga kali ini ia merestui dan memberikan jalan.

Akhirnya saya menutup obrolan dengan Dian, saya pun bergegas ke dapur masak makanan kesukaan Mas Wisnu, sayur asem dan ikan teri panggang yang dibungkus dengan daun pisang. Hingga tiba pada malam hari kami makan bertiga di meja makan, sembari ngobrol.

“Mas saya ingin bisnis online, jualan kerudung dan baju anak boleh kan? Tapi mama minta modal,” saya membuka obrolan.

“Papa belum punya modal Ma,”ungkapnya.

“Ya sudah,” ucap saya ketus.

“Mama bosen Pa seperti ini terus,” lanjut saya.

“Ya sudah Ma, Papa punya kenalan teman di Jogja, jika mama ingin jualan online gimana jika jadi agen susu dan madu anak saja, tawarkan sama ibu-ibu yang punya anak dan teman-teman mama,” ujarnya.

“Iya Pa mama mau,” jawab saya.

Setelah berselang tiga hari sejak waktu itu suami bilang bahwa produk datang di pagi hari kisaran jam 10, saat itu saya langsung mempostingnya di grup ibu-ibu, Dan beranda facebook, tanpa  disadari langsung banyak permintaan dari ibu-ibu maupun teman lainnya. Padahal postingannya belum ada satu jam.

Dari situ pada akhirnya saya berpikir untuk menjadi agen reseller online ternyata sangat mudah, dapat duit dan bisa merawat anak dengan baik. Alhamdulillah ini semua berkat doa Rama. Dan saya menjalani hari dengan happy, happy dan happy, tidak ada lagi kejenuhan.

Dan pesan saya jika menjadi ibu rumah tangga, jadilah kreatif walaupun hanya di rumah. Berdasarkan Pengalaman pribadi, suami tidak perlu kerja larut malam lagi. Hingga keluarga kami makin bahagia, baik secara finansial, kesehatan anak, penampilan dan juga hubungan suami istri dalam rumah tangga.

Comments

Close Menu