Buat Para Ayah, Engkaulah Penyebab Anak Jadi Nakal atau Jadi Sholeh

Buat Para Ayah, Engkaulah Penyebab Anak Jadi Nakal atau Jadi Sholeh

Siapa yang membuat anak jadi jahat?

Seorang pembunuh di kota X, menikam seorang lelaki dengan sadis. Ia mempersiapkan pisau dari rumah, menikam berkali-kali, dan melakukan hal lain terhadap korban dengan cara mengejutkan. Katakan namanya Jahal. Melihat tindakan Jahal yang diluar batas kewajaran, anda mungkin bertanya : jahatkah Jahal pada semua orang?

Tidak.

Jahal tidak dapat bersikap kasar pada perempuan. Jahal tidak mau memukul perempuan.   Bahkan istri Jahal berkali-kali selingkuh, Jahal tetap maafkan. Namun, Jahal  punya banyak masalah dengan rekan laki-laki. Ia sangat membenci laki-laki yang main perintah, merasa punya otoritas lebih tinggi, dan benci laki-laki yang dominan.

Dapatkah anda meraba, apakah ayah atau ibu yang meng-implant kejahatan pada Jahal?

Ya. Ayah Jahal pemabuk. Sangat dominan di rumah, selalu menang sendiri, meremehkan si ibu dan menindas siapa saja. Tidak ada yang boleh punya suara di rumah, kecuali ayah. Ketika remaja, Jahal ingin berduel dengan sang ayah namun ibu melerai. Jauh di lubuk hati, Jahal punya skema tersendiri di benaknya : siapakah musuh paling utama hidupnya? Jawabannya, lelaki yang punya otoritas.

“Sudah kuduga, bapaknya tidak beragama. Kalau bapaknya ahli agama tentu lain kejadiannya!” itu yang sempat terbersit di benak.

Mari kita cermati seorang pemuda bernama Toyib.

Ayahnya ahli agama, mengisi acara dimana-mana, penerjemah kita-kitab. Tetapi Toyib menjadi pencuri kambuhan yang entah berapa kali dipukuli warga hingga wajah dan kepalanya luka. Toyib menghabiskan uang hasil curiannya dengan bermain game dan hura-hura bersama temannya. 

Sang ibu punya cerita tersendiri terkait sang ayah yang memang sangat cerdas dalam hal agama.

Di rumah mereka tidak boleh ada hiburan, termasuk music dan acara televisi. Apa alasannya, yang penting haram. Semua anak di rumah Toyib sebetulnya ingin membantah ayah, namun tidak berani. Toyib pernah terpergok menonton televisi. Hasilnya, ayahnya murka. Memukul Toyib dan merusak televisi (mereka punya TV sekedar untuk menonton berita). Seperti pemuda kebanyakan,

Toyib mengecat rambut, memakai jeans belel yang robek di lutut dan menindik telinga. Ayahnya kembali berteriak haram dan mengusir Toyib dari rumah. Pada akhirnya Toyib mengembalikan warna rambut menjadi hitam, melepas anting dan mengganti dandanannya ala pemuda baik-baik .Toyib mengalihkan kesukaannya bermain game di warnet dan tiap kali uangnya habis, ia akan mencuri barang-barang tetangga.

Apakah syariat yang ditegakkan ayah Toyib salah? Tentu tidak.

Ulama sebagian memang benar-benar tegas terkait music, film, gaya berpakaian. Namun bagaimana cara menyampaikannya, itu yang penting. Ruang-ruang diskusi yang tidak dibiasakan di rumah, dialog terbuka antar ayah anak, mendengarkan apa keinginan anak dan mengarahkannya; membuat Jahal dan Toyib kehausan mencari posisi sebagai human being di tengah konstelasi kehidupan. Toyib bukan pemuda 100% brengsek. Kalau ia dapat rezeki halal dari kerja serabutan, ia akan membelikan sang ibu  nasi goreng kesukaannya.

Anak pasti menolak aturan yang sangat mengikat dan membatasi.

Di luar sana orang antri nonton bioskop, kok aku nggak boleh? Di luar sana remaja nonton konser music, kok aku nggak bisa? Kenapa ayah hanya menyuruhku sholat, baca Quran, menghafal Quran, masuk surga, taat orang tua, pintar belajar, dan sejenisnya?

Ayah adalah pemilik otoritas.

Ibu, biasanya tunduk pada ayah. Apalagi di tengah kultur timur, istri dan ibu akan mendengar kata suami/ayah. Bila ayah berkata ya atau tidak, maka ibu akan cenderung mendukung, tak peduli hati anak penuh pemberontakan. Ibu mungkin dapat bijak menjelaskan perkara music, televisi, gaya berpakaian, dsb; namun tetap saja ada luka menganga yang tak mudah disembuhkan dalam hubungan ayah anak.

Apa salahnya menjadi ayah yang toleran dan pendengar aktif? Toh tidak mengurangi bobot kehormatan. Toleran bukan berarti permisif. Ketika anak berulah negative, membangkang, melanggar norma agama, coba dengarkan baik-baik luapan hatinya. Seringkali, anak melakukan tindakan di luar batas, bukan karena ia memang ingin melakukan kejahatan, tapi karena ingin didengarkan. Ketika jeritan hati anak-anak tak didengar orang, termasuk orangtuanya, ia akan membentuk alur berpikir sendiri. Menggurat skema dalam pikiran, membuat proyeksi terhadap orang-orang yang bermasalah dengan dirinya.

Sebagaimana Jahal yang membenci lelaki pemilik otoritas. Sebagaimana Toyib yang akhirnya membenci agama dan para ustadz.

Apakah ayah yang otoriter tidak baik?

Hamka adalah ayah yang otoriter dalam skala tertentu. Beliau akan menarik sabuknya dan menghukum putranya bila lalai membaca Quran. Namun Hamka tidak melakukan itu untuk semua anak. Ia hafal betul satu demi satu watak anaknya dan ada satu orang putranya bernama yang tampaknya membutuhkan perlakuan lain.   

Sang putra suka menonton film India pula. Maka Hamka memutuskan, anak laki-laki dengan energy lebih seperti itu lebih baik diajarkan bela diri. Daripada terus menerus memarahi putranya yang tampaknya punya jalur berbeda dari sang ayah yang ahli agama serta sastrawan, Hamka mengajak sang putra untuk belajar bela diri. Di luar perkara membaca Quran, Hamka adalah pribadi yang hangat dan lucu bagi siapa saja, termasuk anak-anaknya. Ia suka mengajak anaknya berdiskusi, dan menyelipkan filosofi-filosofi hidup.

Ayah, adalah peng-implant moralitas. Ayah, adalah peng-implant kejahatan, disisi lain. Apakah ibu tidak punya peran? Tentu punya. Bila ayah berakhlaq buruk, dibutuhkan sosok ibu yang kuat luarbiasa untuk mereduksi kesan-kesan buruk. Tetapi bila sosok ibu tak cukup kuat untuk menghapus kesan tersebut, dapat kita bayangkan bagaimana kepribadian anak-anak terbentuk.

Ayah atau Ibu?

Ada orang yang bisa baik tanpa ayah. Ada orang yang bisa tetap baik tanpa ibu. Ada orang yang berhasil dan tetap baik tanpa ayah ibu. Begitupun ada orang yang tetap baik dengan adanya ayah ibu. Walaupun, premis di atas juga berlaku sebaliknya. Ada orang yang bisa jahat sekalipun memiliki ayah ibu lengkap, ataupun kehilangan salahs atunya.

Tulisan ini tidak untuk menyudutkan peran ayah dan membuat ibu berleha-leha tidak mendidik anaknya. Sesungguhnya, peran ayah dan ibu di zaman modern ini sama pentingnya. Dulu orang tak  masalah hidup tanpa figure ayah, namun jangan sampai hal tersebut terjadi sekarang.

Kehadiran ayah secara fisik namun tidak secara psikis, juga menimbulkan kerapuhan pada anak. Ibu yang hadir namun sibuk dengan urusan sendiri, juga menimbulkan kekacauan pada diri anak.

Dalam Islam, arrijalu qowwamuna ‘alaa nisa. Lelaki itu pemimpin kaum perempuan, dalam banyak aspek. Lelaki yang mampu menjalani peran sebagai suami dan ayah, akan meninggalkan jejak luarbiasa dalam sejarah kehidupan anak-anaknya. Betapa banyak kita melihat ayah yang sesungguhnya, tidak mampu mencukupi nafkah anak-anaknya namun ia selalu ada di sisi anak-anak. Mendidik, mendorong, mengayomi. Maka anak-anak tidak mengalami tekanan berarti akibat kehidupan ekonomi yang sulit. Dewasa ini, karena tuntutan ekonomi yang semakin melilit, ayah terfokus pada pemenuhan kebutuhan materi.

Duh, terbayang lelahnya ayah bila harus juga memberi perhatian pada keluarga di rumah. Mengapa tidak ibu saja yang mengurus anak-anak dan ayah focus di luar?

Tidaklah demikian. Sosok Ibrahim dalam kitab suci, dipahatkan luhur sebagai sosok luarbiasa. Artinya, selelah apapun ayah di luar, kehadirannya tetap dinanti. Wejangannya memberikan penguatan. Belaiannya memberi kehangatan. Sepak terjangnya mencari nafkah halal akan menjadi inspirasi anak-anak.

Ketidakhadiranmu Ayah, atau kehadiranmu yang menyakitkan, adalah gulita bagi masa depan.

Comments

Sinta Yudisia

Istri, Bunda, Psikolog & Penulis
Close Menu