Kisah Seorang Guru, Saksi Bullying Salah Sasaran

Published by Mbak Yeol on

Tuturmama – Menjadi saksi bullying acapkali menjebak pada kondisi serba salah dan tak nyaman seperti apa yang kurasakan setiap mengenang nama Rahmadi Wijaya. Nama yang telah berkali-kali bahkan puluhan kali mengganggu pikiranku beberapa hari terakhir ini.

Bukan karena nama pria rupawan yang jadi idaman semua wanita yang belum menikah seperti aku. Tetapi Adi adalah salah satu muridku yang sudah 3 hari tidak masuk. Tepatnya setelah tragedi pensil warna dengan teman sekelasnya yang menggemparkan lembaga sekolah dasar tempatku mengajar.

Sebuah tragedi yang membuatku menjadi satu-satunya guru yang disalahkan, bukan hanya oleh kepala sekolah tetapi para rekan guru bahkan wali murid.

Tiga hari yang lalu, tepatnya pada hari Senin tragedi itu terjadi. Hari yang ku awali dengan penuh semangat untuk mengajarkan materi berhitung kepada anak didik di kelas 1C. Kelas yang terkenal dengan murid-muridnya yang nakal suka mem bullying satu sama lain, juga wali murid yang sering komplain hanya karena hal sepele.

Namun itu bagi orang lain, bagiku, semua muridku adalah murid yang aktif dan hanya perlu perhatian dan kasih sayang yang lebih. Tentu saja agar mereka lebih manut dengan segala nasehat dan perintahku, tak terkecuali dalam mengerjakan tugas.

“Bu, pensil warnaku, Bu?” rengek Adi sambil menunjuk ke salah satu muridku yang sering menjadi sasaran bullying.

Sebelumnya, aku sudah tau karena sepintas mataku bisa melihat Rio memasukkan pensil warna kepunyaan Adi ke dalam tasnya. Dengan sengaja, kupanggil Rio agar mengembalikan pensil warna Adi, secara tidak langsung.

“Rio, tolong bantu Adi ya, Nak, untuk menemukan pensil warnanya!” kataku kepada Rio.

Baca Juga: Cerpen : Kisah Lara Mencintai dan Mengikhlaskan

Itu adalah salah satu jurusku agar Rio mau mengembalikan pensil warna milik Adi. Meski sudah jelas-jelas dia sudah tahu keberadaanya dan sengaja menyembunyikan.

Jurus seperti ini kupelajari ketika mengikuti berbagai seminar yang menekankan untuk tidak menuduh anak sebagai pencuri. Apalagi sebagai pengambil milik orang lain meski sudah jelas anak tersebut telah mengambilnya, karena bisa memunculkan tindakan bullying pada anak.

Kita harus bisa mengganti kata-kata dengan ‘tolong, bantu carikan’, atau ‘tolong, siapa yang tahu.’ Daripada kata-kata, ‘ayo, lekas kembalikan’ yang bersifat menuduh.

“Aku gak tahu bu, Adi itu lho bu yang nakal, nuduh-nuduh sembarangan. Lagian, siapa sih yang mau ngambil pensil warna jelek itu!” seru Rio mengelak.

Sebagai guru, aku tahu bahwa ia memang sering menyembunyikan barang-barang perlengkapan sekolah Adi. Namun baru kali ini ia menyembunyikan pensil warna milik Adi tersebut. Pensil warna yang sangat berharga bagi Adi, melebihi uang sakunya yang juga sering Rio minta ketika lengah dari pengawasanku.

Bahkan tak jarang sepatu Adi yang sering Rio buang ke selokan belakang sekolah ketika istirahat. Atau bahkan tas Adi yang sering Rio sambar ketika menjelang berdoa mau pulang dan dibuang di atap ruang gedung kantin.

Namun kali ini, bukan sepatu atau tas, tetapi pensil warna yang sangat berharga bagi Adi. Pensil warna yang selalu ia bawa setiap hari semenjak dia masih belajar di TK. Pensil warna itu tak pernah ia raut karena takut patah atau habis terkikis.

Baca Juga: Ucapkan “Tolong” ya Rey!

Pensil warna yang selalu ia bungkus plastik berlapis tiga agar tak basah ketika kehujanan. Kutahu itu satu-satunya pemberian ibunya yang pergi keluar negeri yang tak pernah pulang dan tanpa kabar. Pensil warna yang mengisyaratkan kerinduan seorang anak akan kasih sayang dan belaian seorang ibu yang telah lama tak ia jumpai.

“Nih, makan pensil warnamu yang jelek itu!” kata Rio sambil melemparkan pensil warna tersebut yang langsung  Adi ambil tergopoh-gopoh.

“Patah bu, gimana ini, Bu. Pensil warna ibuku patah!” tangis Adi pecah seketika melihat patahan demi patahan pensil warna kesayangannya.

“Gak apa-apa, Nak, bu guru bisa kok memperbaiki,” kataku sambil beranjak ke kantor mengambil selotip dan gunting untuk memenuhi janjiku.

Tak berselang lama, mungkin hanya beberapa menit aku berada di kantor untuk mengambil peralatan demi memperbaiki pensil warna yang patah tadi. Ketika memasuki kelas, betapa terkejutnya aku melihat wajah Rio yang berdarah dan kerumunan wali murid sedang mengancam Adi dengan kata-kata kasarnya.

Rio yang sedang berada di gendongan ibunya tampak membersihkan luka. Segera aku menghampiri Adi yang sedang mendapat makian dan hinaan dari beberapa wali murid dan bersembunyi di bawah meja guru.

Bahkan saat itu akupun tak lepas dari sasaran amukan wali murid. Mereka dengan garang mengatakan aku membela pembully, lalai dalam mengawasi anak-anak, bahkan kalimat-kalimat lain bernada kekesalan yang tertuju padaku.

“Maaf, ibu-ibu, tolong bersikap lebih bijak, bukannya saya membela pembully seperti yang anda katakan, tapi yang berkelahi ini keduanya anak-anak. Jadi harus sama-sama kita lindungi, dan gak ada yang namanya pelaku dan korban bullying karena mereka sama-sama masih anak-anak,” kataku berusaha tetap tenang.

Baca Juga: Kisah Ibu Mengasuh Anak Adopsi: Nada yang Dicintai

“Selain itu, kronologi awalnya juga harus anda ketahui agar tidak ada salah paham. Justru ketika anda marah-marah, memaki, dan menghina Adi, justru akan membuat kasus bullying baru yang korbannya anak tersebut. Saya mohon maaf atas kelalaian saya ini, tapi saya juga mohon untuk lebih bijak dalam menanggapi masalah ini,” lanjutku dengan kata-kata yang lebih bersifat menjelaskan panjang lebar. Tentu saja agar para wali murid mau sadar atas tindakan mereka.

“Gak bu, pokoknya saya gak terima. Saya akan bilang kepada kepala sekolah agar diadakan sidang!” Tegas ibu Rio yang masih penuh dengan emosi.

Ibu Rio selama ini memang mempunyai hubungan baik dengan kepala sekolah karena selain menjadi ketua komite, ia juga merupakan donator tetap lembaga ini.

“Monggo bu, saya juga akan bertanggung jawab atas kasus ini, apapun keputusannya. Sekali lagi saya minta maaf,” jawabku pasrah.

Pikiranku hanya ingin menjelaskan mereka bahwa anak-anak yang melakukan bullying, semuanya adalah korban. Korban dari lingkungan masyarakat yang kerap mempertontonkan kata kasar kepada orang lain, kenyataan yang baru saja kulihat tadi. Atau bahkan korban dari orang tua yang tidak bisa jadi role model untuk seorang anak.

***

Tak butuh waktu lama. Hanya dalam beberapa menit saja buku-buku tugas milik Adi telah selesai kususun rapi di meja kerjaku. Sebelum beranjak ke rumah Adi dan memberikan tumpukan buku tersebut, sekali lagi aku memastikan pemberitahuan kepala sekolah di layar ponselku.

“Dunia kadang tak adil bahkan untuk seorang anak”, gumamku.

Adi yang menjadi korban bullying teman kelasnya sendiri, justru harus mendapat perlakuan tidak adil. Hanya karena tidak ada yang mau mengusut lebih jauh dan tentu saja, karena uang dan jabatan pelaku yang tak tertolakkan.

Sumber Gambar: freepik.com

dhankasri hindisextube.net hot bhabi naked rebecca linares videos apacams.com www tamilsexvidoes lamalink sexindiantube.net chudi vidio sex mns indianpornsluts.com hd xnxxx shaving pussy indianbesttubeclips.com english blue sex video
savita bhabhi xvideos indianxtubes.com xxx bombay live adult tv desitubeporn.com mobikama telugu chines sex video indianpornsource.com video sex blue film sex chatroom indianpornmms.net old man xnxx aishwarya rai xxx videos bananocams.com sex hd
you tube xxx desixxxv.net xossip english stories sanchita shetty pakistaniporns.com mom sex video cfnm video greatxxxtube.com sex marathi videos mmm xxx indianpornv.com sexxxsex xvideosindia indianhardcoreporn.com ajmer sex video