Cara Agar Seorang Ibu Tidak Depresi Setelah Melahirkan

Cara Agar Seorang Ibu Tidak Depresi Setelah Melahirkan

Menjadi ibu memang dambaan semua wanita, namun ternyata ada sebuah fakta yang cukup menyedihkan lho, Moms. Saat kelahiran anak malah seorang ibu menjauhi dan enggan mendekat dengan buah hatinya.

Bisa dibayangkan Mah?

Sudah mengandung selama 9 bulan, namun begitu lahir, kok tiba-tiba si ibu merasa “takut” dengan anaknya sendiri.

Ini dinamakan baby blues.

Kali ini ijinkanlah saya berbagi cerita mengenai pengalaman baby blues syndrome yang pernah saya alami beberapa bulan lalu. Usai membuka beberapa blog di internet, saya tahu bahwa tidak sedikit ibu yang mengalami syndrome sebelum atau setelah melahirkan tersebut.

Baca juga: Wahai, Ibu.. Sebelum Engkau Tidur Doakanlah Anakmu. Hasilnya Sungguh Menakjubkan..

Sebuah blog menyatakan kalau tiga dari empat perempuan mengalaminya. Iya, mengalami perasaan aneh semacam bersedih atau bahkan depresi usai bayi terlahir adalah hal sangat normal yang kaum ibu rasakan. Saya merasakaannya begitu berat. Mungkin Moms semua juga merasakannya. I know it’s not easy, Moms. but we have to go through this syndrome

Baby blues bisa terjadi pada ibu usia berapa pun. Pada anak pertama, kedua, atau bahkan ketiga. Saya mengalami baby blues yang cukup menguras emosi pada kelahiran yang terakhir, anak kedua. Seorang bayi perempuan bernama Kayla. Dia baru berusia sebelas bulan. Itu artinya, bulan depan Kayla akan berulang tahun untuk yang pertama kali dan genap berusia satu tahun. Ucapin selamat dong, Moms. *ngarep

Saya sekarang sebahagia ini meski beberapa bulan lalu begitu stres. Perasaan selalu diliputi kesedihan dan rasa bersalah. Entah datang dari mana.  Mood yang sering bergonta-ganti ini membuat Kayla mendapat perlakuan yang tidak seharusnya ia terima.

Baca juga: Saat Dua Anak Cemburu dan Saling Berebut Perhatian Orang Tua

Saya merasakaan baby blues sudah sejak mengandung pada bulan ke tujuh. Saat perut terus bertambah besar. Saya mulai susah tidur, terkadang muntah sesekali. Kondisi demikian membuat fisik cepat lelah. Sudah begitu, anak pertama sering tantrum, bersikap manja sadar akan memiliki adik sebentar lagi. Mungkin adik adalah ancaman yang akan mengalihkan perhatian dan kasih sayang darinya.

Maka sempurnalah perasaan stress itu. Hufft.

Saat melahirkan saya hanya ditemani orang tua. Sementara suami sedang berada di puncak kesibukan. Menangani pekerjaan yang enggak selesai-selesai di luar kota. Gimana perasaan saya enggak campur aduk coba, Moms? Lha, pas anak pertama suami ada dan menemani dengan sangat sabar.

Hmm, memang sih, kondisi ekonomi keluarga kami sudah lebih baik saat ini dibanding dulu. Dan konsekuensinya, kesibukan suami bertambah padat. Kala itu ia berada di Medan. Saya di Surabaya. Walau saya mengerti semua yang dilakukan suami adalah demi keluarga, tapi tetap saja, perasaan marah meledak-ledak dalam hati.

Barulah sehari setelah saya telpon dia sambil menangis pelan, ia pulang langsung menuju ke rumah sakit tempat saya berada dengan si bayi. Suami saya langsung membopong bayi, menciumi pipinya. Terlihat air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Saya merasa bahagia sesaat.

Sebab setelah itu, saya tumpahkan semua perasaan saya padanya. Soal proses kelahiran yang mendadak, soal beratnya melahirkan anak kedua tanpa kehadirannya dan banyak lagi.

Pendeknya, saya menyalahkan suami atas absennya menghadiri proses kelahiran Kayla. Padahal, ya, dia masih capek setelah perjalanan jauh dari Medan ke Surabaya.

 Dan begitulah saya menjalani bulan-bulan pertama merawat Kayla. Seharusnya saya bahagia dengan kehadiran Kayla di rumah. Anggota keluarga jadi empat. Tetapi memang, keharusan merawat Kayla kembali mengubah pola aktivitas saya. Berbulan-beulan setelah itu, saya tak pernah bisa tidur nyaman. Pola makan begitu kacau sebab hilangnya mood. Padahal seharusnya saya banyak menyantap makanan demi kelancaran ASI untuknya.

 Saya harus menyususi setiap dua jam sekali, ditambah merawat si sulung dengan intensitas kehadiran suami yang tidak banyak. Saya sangat membutuhkan kehadiran dan perhatian suami di saat-saat seperti itu. Memang, ada ibu saya yang selalu berkunjung ke rumah untuk membantu. Tetapi saya merasa itu tidaklah cukup.

Bagaimanapun, ujungnya saya merasa bosan merawat si bayi. Seringkali menangis sendirian malam hari di kamar. Kalau sudah bosan, akan saya biarkan Kayla sendirian di dalam kotak ranjangnya. Sementara saya duduk di hadapannya sambil menangis.

Perasaan itu begitu acak tak terjelaskan dan saya simpan sendirian. Saya merasa jenuh ingin kembali merasakan bebas dari tanggung jawab mengasuh seorang bayi dan anak pertama yang sering tantrum berat.

Di saat bersamaan, emaknya Kayla ini juga merasa bersalah atas ketidakmampuan merawat si mungil dengan baik. Saya merasa jadi ibu yang buruk. Buruk sekali. Lagi-lagi, aku menangis tiap kali membuka ingatan itu.

Perubahan pola hidupku yang tidak teratur membawaku pada puncak kebosanan yang mengesalkan. Kakak Kayla sering kena marah saat sedikit usil atau berisik dalam rumah. Emosi saya memang seringkali meledak-ledak ketika ada hal-hal yang saya rasa mengusik ketenenangan. Sekecil apapun.

Saya ingin sendiri, selalu sendiri, dan enggan bertemu dengan orang lain. Malas bersosialisasi dengan orang padahal mengurung diri dalam rumah juga sangat membosankan. Tahu sendirilah, ibu masa sekarang yang butuh jalan-jalan setiap bulan.

Saya lampiaskan kekesalan saya pada suami. Untung dia sabar sehingga tidak membalas tingkah buruk saya itu.

Dia memang selalu mau mendengar keluh kesah saya. Tapi terkadang, respon darinya terasa kurang pas di hati emak yang sedang gampang tersinggung dan saya malah jadi tersinggung. Duh, saya juga enggak tahu apa yang saya inginkan waktu itu.

Kata dokter, baby blues itu disebabkan hormon yang naik turun usai melahirkan. Fisik yang berubah dari mengandung dengan perut besar menjadi kurus lagi memang mengaduk hormon. Ditambah rutinitas yang membutuhkan waktu begitu banyak.

Ibu mana cobak yang enggak kesel ngadepin kondisi kayak gitu? Meski begitu, ya, emaknya Kayla maju saja pantang mundur. Meneruskan perawatan Kayla meski sesekali keselnya enggak tertahankan. Ya sudah, siapa yang di rumah dia kena marah.

Begitu terus sampai saya terbiasa dengan keadaan baru itu dan belajar menjadi tenang. Fisik saya pulih lagi usai empat bulan setelah melahirkan, cukup lama memang.

Dan fisik yang bugar sangat membantu dalam merawat si bayi dengan lebih baik. Meski sempat mengalami baby blues dan beberapa bulan terlihat seperti orang stres, tapi saya tetap mengasuh bayi.

 Baca Juga: Wahai, Ibu.. Menyesalah Bila Kesibukanmu Membuat Jauh Dari Anak

Jangan sampai kejadian yang pernah menimpa seorang ibu umur 29 tahun dan bayinya kembali terjadi. Si ibu yang depresi berat memilih bunuh diri dengan melompat bersama bayinya dari kamar apartemen di lantai 29. Harapan ibu malang itu jelas, ia  ingin mati bersama anak. Konon sebabnya baby blues yang berujung pada depresi berat.

Menyedihkan sekali kisah seperti itu. Suami dan keluargannya pastilah diliputi kesedihan serta penyesalan yang panjang. Hal tragis itu tak boleh terjadi pada keluarga kecil ini, juga keluarga mommies sekalian di rumah, ya.

Kalau merasakan adanya tanda baby blues, ajak suami mendengarkankan keluh kesah mommies. Wajib mendegar seperti yang sauami saya lakukan. Meski memang, di bulan-bulan pertama saya menganggap tindakan suami itu tidak membantu sama sekali.

Mendapat perhatian serta bantuan secukupnya adalah kunci menyembuhkan baby blues. Solusi terbaik menghilangkan perasaan-perasaan kelabu seperti terdampar sendirian di sebuah pulau sunyi itu adalah bicara.

Bicarakanlah segala hal yang tersimpan di hati dengan siapa pun yang dianggap paling mengerti. Tujuannya satu, kita dapat mengungkapkan perasaan yang begitu banyak dan menumpuk. Bunda lega, anak sehat terawat dan tumbuh besar.

 

Comments

Close Menu