Cara Merayakan Menjadi Seorang Ibu Baru

Cara Merayakan Menjadi Seorang Ibu Baru

Para Bunda baru menjadi makhluk malam yang menangani makhluk kecil yang hanya bisa berbicara lewat tangisnya.

Maafkan kalau kami sangat sensitif di masa itu, karena hormon kepercayaan diri kami terjun bebas, digantikan dengan hormon menyusui bayi kami.

Kami melewati hari-hari yang panjang dan begitu melelahkan. Kadang kami ingin membangunkan suami kami untuk berganti peran, namun juga sungkan karena pasti suami kami melewati hari yang panjang di siang harinya.

Kami juga terkadang bingung, mengapa makhluk kecil itu terus menerus menangis. Diberi susu, dibacakan ayat suci, dikipasi, ditepuk-tepuk, masih terus menangis. Oh.. ternyata Ia hanya ingin dipeluk agar hangat.

Tapi maaf.. Kami sedikit terganggu dengan pertanyaan; lahir normal atau sesar? Full ASI atau susu formula? Kok masih gemuk setelah melahirkan? Kok cara memandikannya begitu? Kok anak masih kecil sudah ditinggal bekerja? Dan berbagai momentar lain.. Mohon maaf sekali lagi, kami cukup sensitif di masa itu.

Sedikit tawaran untuk dipijat, dibuatkan minuman hangat dan mempersilahkan kami menikmati me-time yang sebentar saja, sangat amat membantu kami.

Ah.. maafkan ya sekali lagi.. Kami, para Bunda baru, masih terbata-bata menjalani peran ini, dan amat membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar kami.

“Tak ada pun dari kita yang sampai di sini semata-mata dengan membuka sendiri tali-tali sepatu kita. Kita sampai di tempat ini karena seseorang telah membungkuk dan membantu melepaskannya.” – Thurgood Marshall

Ibu mana yang tidak ingin dipuji sebagai supermom? Ibu super yang bisa menjalankan semua perannya secara seimbang, tanpa cacat dan tanpa cela. Kita mungkin banyak menemukan sosok wanita ‘sempurna’ ini, entah di dunia maya maupun dunia nyata. Para ibu yang berakrobat menjalankan tugas domestik rumah tangga secara efisien, membesarkan putra-putrinya tanpa asisten, mampu mengasuh dan memperhatikan penampilan mereka sendiri, ditambah peran mereka di masyarakat yang tidak diragukan lagi. Sementara kita disini berjuang untuk mengendalikan semuanya. Mati-matian mengurus berbagai urusan. Pontang panting memperhatian semua keperluan.

Pause dulu.

Beberapa dari kita mungkin menganggap menjadi ibu yang ‘gagal’ ketika meminta bantuan. Alasannya standar; mulai dari mempertahankan status kita sebagai wanita super, atau menemukan orang lain melakukan metode yang tidak sebaik yang kita lakukan.

Untuk memahami mengapa kita selalu menolak meminta bantuan, mari instropeksi ke dalam diri kita, ke tingkat yang lebih dalam, yaitu kesehatan mental kita sebagai ibu baru. Ya, para ibu baru amat rentan terkena depresi karena merasakan beban yang terlalu banyak. Being overwhelmed. Hal ini diperparah dengan kelelahan fisik paska melahirkan. Ketika sang ibu mengalami kelelahan fisik maupun mental, yang akan terkena imbasnya adalah bayi kita sendiri.

Saya pernah mempelajari sebuah kasus pembunuhan seorang anak yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Kasus ini saya temukan pada saat saya sedang rotasi di bagian forensik. Penyebab utamanya adalah gangguan pada kondisi mental sang ibu. Pada kasus yang saya temui, sang ibu merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik sehingga sang anak akan menderita bila dibiarkan tetap hidup. Ibunya beranggapan, lebih baik sang anak ini mati karena belum memiliki dosa. Setragis itu.

Belajar dari kasus tersebut, kemampuan seorang ibu untuk tetap menjaga kewarasan dan kesehatan mentalnya amat penting. Kesejahteraan emosi seorang ibu patut diperhatikan karena akan memiliki efek bagi seluruh anggota keluarga.

Pertimbangkan untuk meminta bantuan terhadap apapun yang kita rasa perlu. Buatlah daftar di area-area mana kita memerlukan bantuan dan tentukan kapan waktunya. Ciptakan jaringan pendukung yang siap dihubungi kapanpun apabila kita membutuhkan bantuan, entah itu keluarga, sahabat atau tetangga sekalipun. Jangan lupa, berilah kesempatan untuk para ayah baru untuk belajar berperan menjadi seorang ayah. Mungkin usahanya belum sesempurna yang kita lakukan, namun turunkanlah sedikit standar kita, hargai niat tulusnya.

Pertimbangkan pula waktu khusus untuk me-recharge baterai jiwa kita, misalnya; sekedar menghubungi teman yang sama-sama menjalani peran baru sebagai seorang ibu. Hal itu akan membuat kita semakin realistis dan merasa tidak sendiri.

Bersyukur atas hal yang sederhana

“Salah satu cara untuk memecah ketegangan adalah dengan bernafas dalam.” –Byron Nelson

Saya pernah menyimak seminar seseorang praktisi kesehatan holistik yang bernama Reza Gunawan (beliau adalah suami dari Dewi Lestari, penulis novel best seller). Beliau berpendapat, sebanyak apapun ilmu dan teori pengasuhan yang kita miliki, niscaya semua akan buyar saat kita sedang emosi. Tak saya pungkiri, itu pernyataan yang tepat sekali. Seringkali hal-hal yang vital justru hal-hal yang paling mendasar. Salah satunya kemampuan mengolah emosi, dan hal mendasar yang bisa menjadi penawarnya adalah bernafas dalam.

Mungkin terdengar aneh, atau bahkan mistik. Reza Gunawan bercerita dalam seminar tersebut. Suatu malam, ia, istri dan anaknya tidur bertiga dalam satu ranjang. Menjelang dini hari, ia mendengar suara yang amat keras disusul dengan tangisan yang kencang dari bayi perempuannya. Bayinya terjatuh. Ia dan istrinya kalang kabut dan saling menyalahkan. Tangis bayinya makin pecah. Ia akhirnya berkata pada istrinya, “ayo tenang, tarik nafas dulu.. tenang.. semua baik-baik saja.” Perlahan emosi mereka surut, ajaibnya tangis sang bayi pun ikut mereda. Bayi mereka kemudian terlelap didekapan sang bunda.

Seringkali kita sebagai ibu akan menemui banyak kondisi yang tak ada habis-habisnya. Bayi kita terus menangis tanpa sebab yang jelas. Rumah masih berantakan. Baju kotor masih menumpuk. Tidak ada kesempatan untuk mandi apalagi merawat diri. Semuanya membuat kondisi emosi kita tidak karuan. Dan seringkali membuat kita lupa bersyukur atas sebuah kondisi yang paling vital dan mendasar, yaitu bernafas.

Mengambil nafas dengan pelan, dalam dan penuh kesadaran saat merasa gelisah atau kacau akan me-restart tubuh kita untuk kembali ke keadaan tenang dan memulihkan diri kita. Semua emosi negatif seperti ikut terhembus ketika kita membuang nafas. Semua ketegangan mental seperti ikut melemas seiring dengan keluarnya udara dari saluran pernafasan kita.

Bagi umat Muslim, bernafas dalam diiringi dengan ucapan istighfar, sangat efektif untuk mengontrol emosi negatif kita. Dan yang terpenting, kita seperti mendapat kekuatan besar untuk menghadapi aktivitas selanjutnya.

“Going to the woods is going home.” –John Muir

Bersyukurlah ketika kita menjadi orangtua seorang bayi yang baru lahir. Ini pertanda kita akan mendapat akses yang berlimpah untuk menyatu dengan alam. Pada saat momen kita menjemur bayi kita, kita akan ikut tersinari oleh matahari pagi yang sudah tidak diragukan manfaatnya. Di saat kita mengajak bayi kita untuk berkeliling mendapatkan udara pagi, kita akan ikut menikmati udara sehat yang sebenarnya.

Saat bayi saya berusia 8 bulan, suami saya membelikan sepasang kelinci yang kami pelihara di halaman rumah. Setiap pagi saya membawa bayi saya ke halaman rumah, berjemur sambil bermain kelinci. Saya perhatikan dengan seksama bagaimana binatang tersebut beraksi. Berlari kesana kemari. Menggigit rumput-rumput halaman lalu mengunyahnya sampai pipi mereka terlihat sangat kembung.

Selanjutnya mereka membersihkan kedua pipinya dengan mengangkat kedua kaki depannya. Sesekali telinga dan kumis mereka bergoyang tak tentu arahnya. Kemudian mereka bersembunyi di balik semak-semak, namun mata mereka tetap awas dan sadar penuh. Menjelang siang, mereka berbaring di halaman. Gumpalan bulu-bulu halusnya menempel di atas rumput yang tinggi rendah. Saya terkesima. Saya terkesan pada keagungan dan detail yang luar biasa pada sebuah kreasi Tuhan. Seekor kelinci.

Ya.. sesibuk apapun kita menjalani peran sebagai seorang ibu baru, seringkali kita disuguhkan kesempatan untuk mengambil pilihan bersyukur. Salah satunya saat kita berinteraksi dengan alam. Alam seperti menyediakan sebentuk pelepasan yang biasanya tidak diikuti oleh label harga yang mahal. Daya penyembuhan yang misterius namun sangat hebat dari alam.

Dan betapa pun sibuknya kita, jadilah Ibu yang selalu dirindukan. 

Maka, rayakanlah peran kita sebagai seorang ibu baru. Karena panggilan terindah adalah dipanggil sebagai “Mamah.”

Berbahagialah Bunda, karena kunci ketenangan dan kedamaian keluarga terletak pada ketenangan jiwa Bunda..

Comments

Pratami Diah Herliani

Seorang ibu dengan satu putra yang beraktivitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, dan praktek sebagai dokter umum di sela-sela waktunya.
Close Menu