Cinta Tulus dari Suami yang Jarang Dianggap oleh Istri

Cinta Tulus dari Suami yang Jarang Dianggap oleh Istri

Aku bersama suamiku bermula dari cinta yang tulus, penuh dengan rasa kagum, tempat bersandar yang nyaman, penuh kasih sayang yang dalam, dan tanggung jawab yang penuh, terutama perihal harta yang membuat siapa saja akan dijamin bahagia bersamanya.

Di bulan ketiga setelah saya mengenal suami, akhirnya kami menikah. Memang terlalu cepat dan singkat, tapi mau bagaimana lagi dia terlihat sungguh sempurna. Tak disangka, tanpa berpikir panjang, tiba-tiba cinta turun begitu saja membuat aku tak bisa berkata-kata apalagi, selain mengungkapkan kata-kata cinta yang sama.

“Aku sekarang mencari pasangan yang bisa dijadikan istri, aku tidak mau berpacaran lagi, maukah kau menikah denganku ?” tanyanya waktu itu.

“Iya aku mau,” jawab saya.

Dalam perjalanan yang begitu singkat untuk ukuran anak muda yang seharusnya masih menghabiskan waktu untuk bermain, saya malah memilih menikah. Dan ternyata setelah lima bulan pernikahan, saya hamil muda. Sembilan bulan mengandung akhirnya saya melahirkan, tetapi tiga bulan kemudian setelah anak kami diberikan nama, ia justru meninggalkan saya dan suami dalam kesedihan.

Tentu saya harus menelan pil pahit, tiap hari menahan tangis yang tak bisa dihitung jumlahnya. Untungnya suami selalu mememberikan motivasi untuk selalu bersabar atas cobaan ini.

Dua tahun berjalan saya mengalami rasa bosan yang luar biasa. Saya bosan dengan perlakuan suami yang hanya begitu-begitu saja. Sedangkan saya termasuk tipikal orang yang cepat bosan jika hanya diperlakukan begitu-begitu saja apalagi rasa sakit ditinggal anak masih saja membekas di hati.

Saya ingin suami melakukan hal lain, seperti sesuatu yang romantis, memberi sedikit kejutan dan beberapa hal lainnya. Tapi saya  tak mendapatnya hari ini, saya pun bertanya kemanakah cinta dan keindahan yang selama ini bisa saya tatap di mata suami?

Tapi ternyata suami menafikan hal itu pada saya. Memang saya tak menafikan kebutuhan lainnya seperti belanja, dan ranjang. Tapi jujur saya sudah bosan dan merasa tak nyaman dengan suami, saya merasa dia tiba-tiba menjadi lelaki yang kaku, hanya bisa menyibukkan diri dengan pekerjaannya.

Hingga pada akhirnya derita ini semakin membuat larut dalam kesedihan, saya pun mencari kesempatan untuk berbicara bahwa saya minta bercerai dengannya.

Keputusan ini sudah final. Tapi setiap kali ada kesempatan saya tak berani menatap matanya, aura kasih sayang masih saja terselip sedikit di dalam hati ini.

Tiba suatu saat, dalam sebuah kesempatan sebelum kami beranjak tidur, ia masih berbaring sembari membaca buku, akhirnya saya memutuskan untuk menceritakanya semua hal yang saya rasakan selama ini.

“Mas aku pengen cerai!” ujar saya.

Tentu saja ucapan saya membuat suami kaget, dengan mata yang sayu dan bertanya-tanya, di mana saya lagi-lagi tak berani menatap matanya yang tajam, meski dalam hati ada rasa ingin selalu setia padanya, tapi mau bagaimana lagi saya bersikukuh dengan pikiran bahwa saya sudah bosan dengannya.

“Emang kenapa ma, kok tiba-tiba ngajak cerai, adakah yang salah dari papa?” tanyanya.

“Aku bosan mas,” ucap saya lirih.

“Kamu tidak pernah romantis mas, aku kurang suka gaya kamu memperlakukan aku, serasa tidak dihargai sebagai seorang perempuan, Akhir-akhir ini.” ujar saya.

“Terus mama mau minta cerai beneran sama papa, apakah mama tega meninggalkan papa yang begitu tulus mencintai mama?” lanjutya.

“Seandainya aku bertanya sama papa, jika di samping sungai ada hewan yang mau tenggelam, dan aku melarangnya untuk menolong, papa lebih memilih yang mana?” tanyaku lagi.

“Tidak usah dijawab, papa jawab besok,” katanya.

Saya terkejut dengan sikap suami yang begitu tegas mengambil keputusan untuk tidak menjawab pertanyaan tadi. Saya pun tak berani untuk bertanya lagi, Akhirnya saya tidur sampai pagi.

Tapi betapa saya sangat kaget ketika sehabis bangun suami sudah tidak ada di samping, dia sudah pergi dan meninggalkan sepucuk surat di atas meja tidur. Sungguh saya merasa gemetar dan takut untuk membacanya. Tiba-tiba tidak ada dia di samping, kok saya langsung merasa kehilangan.

“Betapa terpukulnya suamiku ketika aku terlebih dahulu meninggalkannya,” gumam saya.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk membaca suratnya:

“Buat istriku tersayang, maaf !!!. Dengan selembar surat ini aku ingin mengatakan suatu yang pahit, yang tidak pernah aku ucapkan buat orang yang aku sayang.”

Aku semakin terpukul membacanya.

“Sayang kamu tahu? ketika kamu sibuk bermain dengan hp, aku mencoba untuk tidur lebih awal, karena aku takut kelak ketika kamu di usia tua tidak bisa melihat lagi, aku akan menuntunmu dan menceritakan perihal senja yang selalu kita rindu setiap saat di pantai itu.”

“Ketika kamu sibuk bermain, serta belanja setiap bulan dengan teman-teman kamu, aku hanya diam di rumah, aku lebih memilih menyimpan uang sakuku untuk belanja demi hari esok. Aku cuma khawatir kelak ketika kamu sakit aku tak punya tabungan hingga tidak bisa mengantar kamu ke rumah sakit untuk berobat, betapa aku akan lebih sakit melihat kamu menderita.”

Sambil tersedu dan menangis, saya lanjutkan membaca isi suratnya, betapa ia lelaki yang sangat baik dan romantis sekali dan parahnya saya tak menyadari itu.

“Maaf aku tak memilih pertanyaanmu, tapi jika kamu sayang aku sebagai suami, sekarang kamu buka pintu depan aku sedang menunggumu di balik pintu itu, membawa susu tawar dan roti kesukaanmu.”

Aku langsung lari ke depan pintu dan membuka pintu, aku langsung memeluknya betapa aku tak mau pisah dengannya.

Satu bulan kemudian dari kejadian itu aku hamil lagi, dan masa depan anakku akan lebih bahagia jika aku tak meninggalkan dia, sebab dia lelaki yang terbaik yang bisa menjaga anak-anaknya.

 

*Seperti diceritakan ibu Vonny dari Depok kepada Tim Tutur Mama*

Comments

Close Menu