Cintaku Hanya pada Anakku

Cintaku Hanya pada Anakku

Sendu yang kian hari membatu, terus saja melewati waktu. aku tumbuh sebagai perempuan yang kian hari mengisi waktu dengan tangis, murung menatap langit-langit kamar, sembari menikmati irisan luka yang masih saja membekas begitu dalam hingga kesakitan ini tidak bisa dihitung dengan waktu.

Aku terus saja menangis, melewati banyak purnama yang tak bisa aku lihat dengan indah. Pancaran mataku kian memerah memar, sebagai tanda diriku masih saja tak bisa melepas nasib ditinggal orang yang begitu aku sayangi dan kucintai sepenuh jiwa. Anakku dan suamiku.

Suamiku tidak hanya merenggut ketulusan aku sebagai istri, tetapi juga buah hatiku yang seharusnya menjadi bagian terindah yang harus aku lalui bersama. Mencium keningnya sehabis dan sebelum berangkat sekolah, serta banyak bercerita lucu tentang kancil cerdik melawan buaya.

Tapi itu hanya mimpi, bayangan yang melekat itu bukan sebagai obat, tetapi racun yang kian hari membuat aku mengering. Aku serasa pengen mati saja, meninggalkan dunia fana yang begitu menyakitkan ini. Tapi Tuhan masih saja menghalanginya, mata sayu dan wajah anakku di setiap kali aku mencoba bunuh diri selalu tampak terlihat dengan jelas sembari berteriak memanggilku.

“Mama…mama..”

Semua niat aku urungkan, aku tahu bahwa aku sedang tidak stabil. Tapi aku terus berusaha melawan waktu, mencoba untuk terbuka, berkenalan dengan dunia yang baru. Menjadi janda malang dengan ijasah SMA mencari kerja. Hingga akhirnya saya diterima di perusahan herbal, menjabat marketing konten.

Dua tahun berlalu, perasaanku masih saja sama, memikirkan Intan anak semata wayang yang entah ada di mana dia berada sekarang, dibawa pergi jauh oleh ayahnya. Aku ingin sekali melihatnya walaupun hanya sekali saja, pasti ia sekarang tumbuh sebagai anak yang lucu, ingin sekali aku mendengar suaranya dan memperkenalkan diri jika aku mamanya.

Lima tahun berpisah ia pasti tidak mengenal siapa lagi mamanya. Betapa terpukulnya aku, menjadi wanita yang sungguh tidak sempurna.

“Anita, kurasa sebaiknya kamu menikah lagi, biar kamu tidak selalu kepikiran keluargamu lagi, lagian Arjun perhatian banget sama kamu, dia pasti akan menjadi suami yang baik buat kamu” ungkap Sarah, teman sekantorku.

Aku sadari semenjak 4 bulan aku bekerja, Arjun teman sekantorku menaruh perhatian lebih padaku, dari mulai sering ngajak makan siang bareng sampai chating sebelum tidur ketika aku di rumah. Tapi entah kenapa aku belum begitu terbuka padanya.

“Aku belum siap Sarah, aku masih pengen bebas dulu,” timpalku atas ucapan Sarah.

“Kurang apa coba Arjun, orangnya baik, wajahnya bersih, dan juga ekonomi cukup. Pokoknya lebih menarik dari mantan suamimu yang dulu,” balas Sarah.

Setiap kali aku melihat Arjun, aku sama sekali belum bisa melepas wajah mas Rangga, dia cinta pertamaku, suami pertamaku, aku juga punya anak pertama sama dia, tidak mudah aku melupakannya walaupun aku ditinggalkan begitu saja.

Di malam hari sehabis kerja, aku termangu di meja makan, menatap kosong kedua mata orangtuaku yang sudah lanjut usia. Tiba-tiba ponselku bergetar dari dalam kamar.

“Drrrrrrrrrtt, drrrrrrrrrrrrtt..!!!!”

Aku lihat ponselku ternyata ada dua panggilan tidak terjawab dari mas Arjun. Dua menit kemudian dia kembali menelpon.

“Selamat malam mas Arjun, ada apa kok telfon malam-malam?” tanyaku.

“Aku kirim dua pesan, tapi tidak dibalas-balas oleh kamu, aku khawatir,” jawabnya di ujung telepon.

“Aku lagi makan malam sama keluarga mas,” kataku.

“Aku besok mau ngomong hal penting sehabis kerja Ev,” timpalnya.

“Boleh,” jawabku.

“Makasih sekali lagi Ev, sorry ganggu kamu,” tutupnya.

“Biasa saja kali mas he he..” ujarku sambil menutup panggilan.

Usai memutus pembicaraan di telepon, aku beres-beres di ruang makan dan cuci piring, setelah itu aku langsung ingin bergegas tidur, tak sabar menunggu pagi datang, penasaran sama apa yang ingin disampaikan mas Arjun. Tiba-tiba hatiku berbunga-bunga, sedikit lupa sama mantan suamiku yang sudah 5 tahun lebih tanpa ada kabar.

Setibanya di pagi hari, jam 7 pas, aku bermaksud mandi tiba-tiba bel pintu gerbang berbunyi, ternyata tukang pos, aku menerima satu amplop berwarna kuning mas ditujukan buat diriku sendiri.

Tertulis di situ ‘For Eva’ pikirku ini pasti mas Arjun soalnya, tidak ada ditulis pengirimnya. Akhirnya aku membuka amplop itu, dan membacanya.

“Adalah cinta yang merubah jalanya waktu. Karena cinta waktu terbagi menjadi dua. Denganmu dan rindu, untuk membalik masa,”

“Apa kabar cinta? Lima tahun tak berjumpa, bukan jalan tenang yang aku dapat, melainkan petaka hati yang terus setiap hari aku rasakan. dan anak kita Intan setiap saat sebelum ia berangkat sekolah selalu bertanya siapakah mamanya?”

“Aku tak menjawabnya Eva, aku terlalu lemah di depannya, aku merawatnya dengan tulus supaya aku bisa melihat kamu di matanya. Tapi bagaimana bisa aku memberikan jawaban yang bisa di setiap saat dia bilang ingin diantar mamanya ke sekolah, sama halnya dengan teman-temannya yang lain.”

“ Detik memang tidak akan pernah melangkah mundur, tapi kertas putih selalu ada, jika masih ada kesempatan kedua, aku ingin kembali kepadamu sebagai suami yang sah, bukan karena apa-apa tapi buat anak kita.”

(Rangga)

“Waktu tidak pernah berjalan mundur dan hari tidak pernah terulang, tapi pagi pagi selalu menawarkan cerita yang baru. Aku mau mas,” balasku melalui surat yang akan ditujukan padanya.

Akhirnya aku kembali padanya demi anakku, karena tidak ada cinta yang abadi selain memberikan cinta yang utuh buat anak. Walaupun di sore itu Arjun mengungkapkan perasaan yang sama mencintaiku seutuhnya, tapi aku memilih Rangga dan Intan sebagai jalan hidupku yang terakhir.

 

 

*Seperti dituturkan Eva di Bandung kepada Tutur Mama*

Comments

Close Menu