Cita-Cita Anak Ditentukan Oleh Kebiasaan Orang Tuanya

Cita-Cita Anak Ditentukan Oleh Kebiasaan Orang Tuanya

Kebiasaan saya adalah menulis puisi, bisa juga dibilang hobi, tapi untuk sekarang sudah menjadi karir. Karena saya sudah bekerja sebagai editor sastra di salah satu penerbit, dan juga penulis antologi puisi. Saya berkenalan dengan sastra semenjak kuliah.

Profesi yang lain, saya adalah istri dari seorang lelaki yang juga penulis esai, tapi dia juga penikmat sastra.

Awal mula saya bertemu dengannya di waktu launching buku ke tiga saya yang berdul “Teduh.” Pada kesempatan itu, Ia mengkritik beberapa bait puisi yang menurutnya terlalu klise. Namun ia juga memuji bait puisi saya yang berjudul “Rindu,” hingga membuat ia terasa terenyuh dan mau membacanya berulangkali.

Entah ada apa dengan saya, tiba-tiba saya menaruh rasa kagum. Kejelian dan retorika bahasanya lebih dalam dari puisi saya sendiri.  Akhirnya saya bertanya ke moderator waktu itu perihal namanya. Hingga saya tahu jika dia punya nama Asyari.

Semakin terkesan saat dia kembali memuji antologi puisi saya “Teduh,” dengan kalimat yang memikat setiap penulis sastra, termasuk saya ketika disanjungnya.

Teduh tidak hanya enak dibaca, akan tetapi kalimat dalam setiap baris sebagaimana digambarkan dalam judul Rindu, membuat buku ini lebih lengkap dan berwarna, menerangi keragaman penduduk marginal, saya yakin dari tangan Ilmi El-banna, sastra indonesia menemukan karakternya,” ungkapnya.

Sehabis acara saya mencari biodata tentang mas Asyari, ternyata ia juga seorang penulis esai. Akhirnya kita saling berkenalan, dan mulai chatting di facebook, dan email seputar tentang sastra, yang berujung pada kedekatan sebagai sahabat yang sering nongkrong bareng di malam hari.

Dua tahun berselang, dan kita masing-masing belum punya pasangan, akhirnya kita memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius pada jenjang rumah tangga. Tahun 2005 saya menikah, selang 1 tahun akhirnya saya hamil mudah.

Setelah 9 bulan saya mengandung di bulan September saya melahirkan seorang anak lelaki, yang diberi nama Lugas Subarka. Kelahiran Lugas mengisi kekosongan dalam rumah tangga kami, pada awalnya kami sangat kewalahan merawatnya.

Sebagai keluarga yang tidak banyak tahu tentang kehamilan maupun merawat anak, kami hanya bermodal kasih sayang yang penuh, bahkan setiap kali tangisannya kami hanya menjadikan ia sebagai puisi dan memberi pujian yang berlebihan, tapi tidak tahu cara bagaimana mempraktekkan menjadi ibu layaknya ibu yang lain. Termasuk juga ayahnya.

Sempat kerepotan di usia yang masih bayi, serba rempong dan takut, oleh sebab itu ayahnya awalnya tidak pernah dekat sama sekali walaupun hanya memberikan susu maupun suplai vitamin. Mujurnya kedua orang tua kami berdua turut membantu merawat lugas.

Lugas sekarang sudah berusia 8 tahun, ia sudah bisa diajak bicara dengan lancar. Di usianya yang sudah masuk usia anak-anak kami pun tidak tau bagaimana mendidik anak layaknya anak yang lain, kami mendidiknya secara natural saja. Kami hanya menemani dia bermain ketika di akhir pekan, itupun jika saya dan ayahnya tidak capek, biasanya kami hanya banyak menghabiskan waktu di rumah.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari di waktu santai, kami mempunyai budaya membaca yang kuat. Bahkan ketika kami makan  malam kami selalu bercerita banyak hal tentang buku yang kami baca, terutama buku novel. Lugas hanya diam dan mendengarnya dengan seksama cerita kami.

Seiring dengan perkembangan usia Lugas, ia juga mempunyai tradisi yang sama dengan kami, hampir tiap hari Lugas seringkali acak-acak buku di perpustakaan keluarga. Dan kami memang menyediakan bahan bacaan yang memang pantas dibaca anak-anak, terutama dari yang visual.

Bahkan kebiasaan ini berlanjut ke hari libur, semisal ketika ke pantai, kami kadang hanya menghabiskan waktu untuk membaca, sembari menikmati indahnya pantai dan deburan ombak yang menjadi irama dalam keluarga ceria kami.

“Pa, ma, Lugas pengen menjadi penulis seperti papa dan mama?” kata lugas

“Kenapa pengen menjadi penulis?” tanyaku.

“Biar Lugas bisa terkenal kayak papa dan mama.”

“Boleh sayang, Lugas pengen jadi apa saja boleh, papa dan mama tidak akan pernah melarang Lugas.”

“Tidak ma, Lugas pengen pinter, bisa mendongeng seperti mama dan ayah,” tegasnya.

Dan lugas tumbuh menjadi anak yang terpelajar di sekolahnya, bahkan di usianya yang masih dini, ia mampu banyak memberikan cerita pada gurunya tentang berbagai cerita yang gurunya bahkan tidak tahu.

Terakhir, dalam cerita ini saya cuma ingin memberikan satu hal penting dari pengalaman keluarga kami, Ilmi-elbanna dan Asyari, yaitu perkembangan anak dan masa depannya, tidak lepas dari bagaimana peran orang tua dalam membangun kultur keluarganya.

Comments