Dahsyatnya Liburan Bersma ISTRI dan Anak

0
323
A family on the beach holding hands

Mataku terbuka lebar, takjub pada sebuah pemandangan yang sangat indah di sebuah taman kota Sumenep, dari pasangan keluarga yang lengkap bersama buah hatinya, duduk bersama dengan alas memanjang  4-5 meter persegi lengkap dengan keranjang, di dalamnya aneka bekal buat si jantung hatinya.

Ada buah, susu, madu anak, dan kebutuhan lainnya. Pagi itu, tepatnya akhir pekan aku hanya bermain berdua bersama anakku Imam, selebihnya adalah bisik batin yang diiringi irama angin serta pertanyaan, ikut menjadi nada yang tak berhenti aku pikirkan. Kapan suamiku bisa pulang bermain bersama dengan Imam?

“Ma, kapan papa pulang, papa janji mau pulang kemarin tapi belum pulang, Imam kangen papa ma,” tanya anakku

“Papa masih ada kerjaan sayang belum bisa pulang , sabar ya…pasti nanti papa pulang sayang,” jawabku sambil berusaha tersenyum

“Bilangin sama papa, jangan lupa beliin pesawat buat Imam,” ujarnya setengah merengek.

“Iya sayang, sekarang main lagi sana, mama tunggu di sini,” kataku lagi sembari itu mencium keningnya, dan ia juga mencium keningku.

“Sayang Imam,” ujarku

“Sayang mama…” ungkap imam,

Dan ia berlari jauh , sejauh  kedua mataku memandang, tak lupa sesekali aku berteriak memperingatkannya. .

“Hati-hati nak, jangan manjat-manjat nanti jatuh loh”

“Iya ma..” sahutnya dari jarak jauh.

Aku merasa perihatin, aku tau isi dalam hati anakku, betapa ia juga berkeinginan punya teman bermain, sambil kejar-kejaran dan digendong oleh ayahnya. Melewati aneka banyak tanaman yang indah nan sejuk di taman Adipura.

Drrt..drrrt..drrrttt.

Bunyi getar telepon selulerku tiba-tiba membuat aku mengalihkan perhatian dari Imam yang lagi asyik bermain di taman, setelah aku lihat ternyata 1 pesan dari mas Bangbang.

“Ma, papa ijin telat, rapat kantor belum selesai,” demikian bunyi pesannya.

Dengan perasaan lirih serta perasaan kecewa, aku membalasnya dengan kalimat singkat, “Iya papa, semangat,” padahal jujur aku tak menghendaki hal ini, tapi justru seringkali terjadi, hingga suamiku kerap tak ada waktu bersama keluarga.

“Mas jangan lupa, janjinya sama Imam, dia katanya dijanjikan mainan pesawat,” pesanku kembali.

Ia membalasnya dengan sedikit ragu, antara pengen cepat ingin pulang kumpul dengan keluarga, atau mencari mainan buat anaknya yang sudah dijanjikan.

“Iya ma, jika nutut waktunya” balasnya.

“Mending papa pulang terlambat ketimbang tidak menepati janjinya sama Imam, di selalu bertanya kapan papa pulang ma, kasian dia Pa. Apalagi akhir pekan ini tak bisa bermain penuh dengannya, apalagi kalau papa tidak mau memberikan waktu walaupun sebentar untuk memberikan hadiah buatnya,” tulisku lagi.

Setelah percakapan itu, Imam masih saja bermain dengan girang sendiri di dekat air mancur yang tak berhenti meluncur, akupun akhirnya mendekat dengannya, dan bermain tak kalah girangnya dengan orang tua yang lain.

Aku berkeyakinan, seorang perempuan di situasi sesulit apapun ia harus selalu tegar dan kuat di mata anak-anaknya. Ia tidak boleh rapuh, namun hal ini terkadang tidak banyak diketahui oleh banyak suami. Betapa repotnya seorang istri.

Tapi naluri jangan pernah dinafikan, sekuat apapun wanita masih butuh kasih sayang, dimanja, ditunaikan kebutuhanya, baik batin maupun fisiknya. Agar ia bisa dengan tegar dan sabar mendidik serta merawat buah hati yang dibesarkannya. Karena tanpa perempuan seorang lelaki tidak akan bisa menjadi tumbuh perkasa.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB, tanpa disengaja aku dan Imam sudah lama bermain, matahari sudah mulai turun tapi suamiku belum memberikan kabar lagi, kapan ia akan sampai di kota Sumenep, sesuai dengan janji yang telah disepakati untuk bertemu di adipura Sumenep.

15 menit berselang, hp kembali bergetar, “Drrtt, drrtt, drrrttt,” ternyata mas Bangbang sudah di depan Masjid Agung Sumenep, dan Imam pun sudah melihatnya terlebih dahulu, ia lantas memanggil papanya dengan suara keras.

“Papa….Papa….Papa….!!!” aku melihat Imam lari dan mendekati ayahnya. ia sangat senang dan gembira ketika aku melihat raut wajahnya saat menerima hadiah yang diberikan padanya. Aku pun ikut terharu ketika suamiku menyambut hangat anaknya, tak terasa air mataku jatuh.

Aku akhirnya juga mendekat dan mengambil tangan suamiku, menciumnya sebagai tanda hormat seorang istri sekaligus tanda rindu yang tak terbendung, sebagaimana dendam yang harus dibayar tuntas.

Akhirnya kami bergegas mencari restoran terdekat, suamiku mengajak makan bareng, dan tentu aku sangat menyukainya, ini momen yang langkah semenjak ia bekerja di Surabaya.

Aku pun bercerita panjang lebar tentang apa saja yang terjadi selama 5 bulan belakangan ini, aku juga sempat menanyakan hal-hal yang sering mengganjal hatiku.

“Pa, kenapa sih papa harus pulang telat terus? Besok siang juga balik lagi, apakah kantor tidak memberikan kesempatan papa untuk berlibur panjang bersama keluarga?” tanyaku cepat.

“Perusahan yang sekarang papa pengang lagi banyak mengalami permasalahan Ma, aku ingin mama mengerti ya,” jelas suamiku.

“Tapi jujur Pa, Mama kesepian, terkadang mama iri pada banyak pasangan keluarga yang lain, hidup sederhana tapi ia selalu ada buat keluarganya. Aku takut pa, anak kita juga jauh dari kasih sayang ayahnya, setidaknya berikan waktu luang akhir pekan dengan sempurna bersama keluarga,” pintaku sambil menatap matanya.

Suamiku hanya bisa tertunduk, namun ia berjanji akan berusaha memperbaiki semuanya, hal ini demi kebersamaan keluarga di akhir pekan yang sering diabaikannya.

Aku pun terdiam sambil berdoa dan berharap semoga semua bisa terwujud.

 

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here