Demi Keluarga Harmonis, Jauhi 5 Hal yang Bisa Memicu Pertengkaran Hebat

Demi Keluarga Harmonis, Jauhi 5 Hal yang Bisa Memicu Pertengkaran Hebat

Pertengkaran itu bagian tak terpisahkan dari pernikahan. Orang yang bilang kalau menikah denganmu akan selalu bahagia itu enggak berpengalaman. Pasti mereka cuma lihat dari televisi atau film-film. Menikah dan pertengkaran adalah kepastian. Betul lebih banyak bahagianya, tapi namanya hidup, kadang bahagia kadang diterpa nestapa. Itulah namanya takdir kehidupan.

Maka boleh saja suami istri marahan atau diam-diaman. Marah boleh asal jangan sampai membentak, mencaci, apalagi sampai memukul. Duh, enggak banget deh kalau begitu.

Baca juga :

Suami yang Memahami Istri, Akan Berdampak Baik buat Anak-Anaknya


Ini Alasan Kenapa Istri Lebih Mudah Terkena Stres Dibanding Suami


Mama Stres, Butuh Kasih Sayang Papa..Itu Saja!

Meski boleh marah, tapi menghindari momen marah-marahan itu sangat penting. Setidaknya, usahakan agar jangan sampai terjadi pertengkaran hebat yang berlarut-larut dan menimbulkan luka di hati serta membuat retak ikatan cinta antara suami dan istri.

Cukup ngambek-ngambekan saja biar tidak kelamaan. Ngambek semalam, besok pagi sudah bisa sarapan bareng dan ketawa bareng lagi. Perbanyak ketawa bareng daripada cemberut bareng, ya.

Sebaik-baik pasangan suami istri adalah mereka yang menghindari pertengkaran dan menjaga kebahagiaan. Catet!  

Maka hindari beberapa faktor pemicu pertengkaran yang bisa berpotensi membuat suasana rumah jadi mendung dan berkabut seperti disebut di bawah ini. Ya tentu engak baik buat anak-anak, juga keharmonisan rumah tangga.

  1. Pertengkaran dipicu pembagian tugas yang tidak adil. Jadilah saling iri dan merasa paling benar sendiri.

Sebab suami dan istri tinggal di bawah satu atap, maka mengurus rumah adalah tugas bersama. Berbagilah tugas agar semua terlibat mengurus rumah bersama. Baik suami atau istri wajib berperan membangun rumah tangga menjadi lebih baik lagi.

Entah bagaimana pembagian tugas yang dilakukan Bunda di rumah, berbagi tugas itu sangat penting. Lebih penting lagi, berbagilah secara adil sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Kalau suami lebih kuat fisiknya maka dia yang angkat-angkat perabotan dan benerin genteng, istri tidak perlu ikut. Kalau suami enggak bisa masak, ya jangan paksa dia masak. Bisa-bisa masakan gosong semua. Kan malah rugi.

Adil itu sesuai dengan kapasitas diri. Terserah bagaimana bagi-baginya biar keduanya merasa adil.

Kalau enggak adil bisa memicu pertengkaran hebat. Apalagi jika menyangkut pembagian tugas sehari-hari yang dikerjakan sepanjang tahun. Bikin dongkol hati. Memendam perasaan tidak puas sebab merasa kalau dirinya dibebani pekerjaan banyak sementara pasangan lebih santai.

Perasaa iri ini bisa memicu pertengkaran hebat yang menggores hati masing-masing. Satu merasa paling banyak bekerja, satu berkilah kalau pekerjaannya lebih berat. Ini pertengkaran yang sia-sia dan tanpa jalan keluar. Percuma.

Maka sering-sering berkomunikasi untuk membagi pekerjaan. Agar kedua saling bahu membahu membangun rumah tangga dan tidak ada lagi perasaan iri pada pasangan.

  1. Tidak lagi saling memperhatikan

Setelah menikah bertahun-tahun, dua pasangan sibuk sendiri dan jarang sekali bertemu. Keduanya adalah pasangan sibuk yang memilih sibuk mengurusi karirnya. Jarang bertemu, merasa mampu mengurus diri sendiri, dan akhirnya enggan saling memperhatikan satu sama lain.

Kisah tersebut adalah contoh buruk pernikahan berlangsung. Sesibuk dan sehebat apapun suami atau istri, dia tetap butuh perhatian dari pasangan. Juga butuh saling memperhatikan satu sama lain.

Masalahnya, kadang pasangan akhirnya mengabaikan perhatian. Saling tak peduli dan menganggap hal itu bukan masalah. Hubungan suami istri yang sangat kering.

Bagaimanapun, mereka masih menyimpan perasaannya masing-masing. Akhirnya, sebab jarang saling memperhatikan, kasih sayang retak dan pada suatu kali saat terjadi masalah, pecahlah pertengkaran hebat.

Segala kegelisahan dalam hati ditumpahkan dalam satu kali pertengkaran.  Berbahaya sekali.

Meski sibuk atau lelah, tetaplah berusaha memperhatikan pasangan. Perhatian adalah cara terbaik untuk menjaga perasaan dan kehangatan hubungan. Jangan sampai ada satu hati yang terlewat tanpa memberi perhatian terbaik bagi pasangan.

Maka perhatikanlah dengan baik. Amati wajah dan sorot matanya untuk mengetahui isi hati terdalam yang dimiliki istri atau suami.

  1. Masalah Ekonomi Keluarga

Tak bisa dipungkiri kalau salah satu bangunan rumah tangga adalah ekonomi keluarga. Persoalan uang ini dapat menjadi pemicu pertengkaran yang melelahkan. Terkadang masalahnya bukan hanya soal banyak atau tidak penghasilan yang dipunyai.

Tetapi justru masalah pengelolaan uang yang ada. Misal istri maunya belanja baju terus sementara suami tidak memenuhi kebutuhannya. Atau suami yang suka menghabiskan uang untuk hobi padahal uang sekolah anak belum dibayar. Soal pengelolaan ini, butuh pemahaman bersama.

Suami dan istri perlu duduk bersama untuk membicarakan pengelolaan uang yang baik. Keduanya sama-sama berhak menggunakan uang tersebut. Namun di atas kepentingan masing-masing, ada kepentingan keluarga yang perlu dikedepankan. Apalagi menyangkut kepentingan anak yang butuh uang sekolah dan makanan bergizi dalam menunjang masa pertumbuhannya.

Utamakan anak dan kepentingan bersama. Jangan egois. Pertengkaran karena masalah ekonomi bukan disebabkan pendapatan yang kurang, melainkan karena pasangan egois mementingkan dirinya sendiri.

Manusia itu selalu merasa kurang, maka bersyukurlah atas harta yang Bunda miliki saat ini.

  1. Ada kebohongan dalam rumah tangga

Sekali ketahuan berbohong, maka kepercayaan pasangan pada Anda akan berkurang. Benang kepercayaan yang selama ini dirajut bisa putus hanya karena sebuah kebohongan. Wajar saja, sebab dalam sebuah hubungan, kepercayaan sangat dibutuhkan.

Jika salah satu berbohong, maka kepercayaan yang selama ini dibangun bisa runtuh dalam sekejap. Selanjutnya hanya ada sikap saling mencurigai, tidak percaya, dan menuduh pasangan melakukan keburukan. Parah sekali.

Pertengkaran dimulai dari hilangnya rasa percaya pada pasangan, dilanjutkan dengan saling curiga, dan diakhiri dengan hilangnya rasa sayang.

Jangan pernah sekalipun berpikir untuk berbohong pada suami Bunda. Sungguh, jujur selalu lebih baik.

  1. Kehadiran orang ketiga

Orang ketiga tidak selalu berarti ada perselingkuhan. Tentu saja perselingkuhan sangat buruk dan membuat hubungan hancur berantakan. Hanya saja, memiliki teman dekat dari lawan jenis selain pasangan juga menyakitkan.

Misal suami punya teman wanita dan lebih sering bercerita pada temannya daripada istri sendiri. Atau sebaliknya. Bukankah itu sebuah bentuk lain dari kehadiran orang ketiga. Sebab ada upaya menomorduakan pasangan sendiri.

Pasangan adalah tempat berbagi segala hal. Kalau cerita saja lebih memilih teman lain, apa guna pasangan. Jelas dia akan merasa cemburu. Prioritaskan pasangan.

Apalagi kalau sampai terjadi perselingkuhan dalam rumah tangga. Tidak mungkin hati orang yang dikhianati tetap utuh. Pasti retak dan tak akan mungkin bisa kembali lagi seperti semula.

Demikianlah 5 hal yang dapat memicu pertengkaran hebat dalam rumah tangga. Pertengkaran memang wajar, tapi bagaimanapun, lebih baik menghindari hal itu. Sebab semua orang ingin bahagia dan salah satu cara bahagia adalah mengurangi pertengkaran. Jagalah suami atau istri Anda dengan sebaik-baiknya. Jangan bikin marah atau kecewa.

Comments

Close Menu