Demi Suami Aku Mau Berkorban, Supaya Anak-Anak Tetap Bahagia

0
543
Ilustrasi

Jangan tanyakan kapan aku jatuh cinta pada senja, sebab kaulah yang paling tau jawabannya. Dari sekian lama aku menunggu hingga akhirnya kita menyatu, dikaruniai segumpal darah yang telah menyinari keluarga kita.

Tapi kenapa tiba-tiba kau gugurkan dengan bermaksud untuk memilih pergi jauh dari anak-anakmu termasuk aku.

Sejauh ini aku masih bingung dengan keputusanmu, apakah selama ini aku tidak patuh pada dirimu, kurangkah aku berbakti atau yang lainnya hingga kau tidak berani untuk mengungkapkannya.

Bicaralah yang tegas hingga aku mengerti dengan apa yang kau mau suamiku.

Apakah kau juga tak melihat Bima dan Sakula yang merupakan darah dagingmu? Kini mereka tumbuh menjadi anak yang baik dan patuh padamu, walaupun seringkali kamu membentaknya, tapi mereka selalu bangga padamu sebagai ayahnya, dan bercerita perihal kehebatanmu sebagai hero dalam rumah tangga pada teman-temannya.

Bukannya kau juga yang banyak mengajarkan bagaimana menjadi orang yang baik, patuh pada gurunya, selalu berbuat baik pada orang lain. Tiba-tiba kau akan menjelma menjadi orang lain di depannya?

Berpikirlah buat mereka berdua suamiku, bagaimana jika ia merindukanmu hingga aku melihat kucuran air mata kesedihan terus saja menjadi benalu di hatinya, apakah kau tidak merasa kasihan?

Ingat sekali lagi Mas, berpikir buat anak-anakmu adalah jauh lebih penting daripada kau memikirkanku.

Lantas bagaimana jika anakku sering bertanya semisal kau pergi meninggalkan halaman rumah ini. “Kemanakah ayah ma?”

Lantas jawaban apa yang tepat untuk menjawabnya?

Jika aku berkata jujur padanya, bukannya itu bisa mengganggu perkembangannya? Tak mungkin aku melakukanya. Sebagai ibu aku tetap saja lebih mementingkan anakku lebih cerdas dan hebat. Pertimbangkanlah untuk tetap bersamaku, mas.

Tahukah kau Mas, Aku pun tak mau berpisah denganmu, bukan berarti aku tidak bisa mendapatkan orang yang lebih mapan darimu, meskipun ada, aku masih berpikir bagaimana dengan buah hati kita dan cintaku yang begitu tulus apa adanya padamu Mas tak bisa tergantikan dengan yang lain.

Mari kita bicara seperti dulu kala ketika aku lelah dan kau dengan mudahnya bisa menyelesaikan banyak masalah. Kau tempat yang nyaman untuk bersandar. Apakah kamu sudah lupa begitu kita bisa mempertahankan hubungan kita.

“Ma, aku malu. Aku merasa tersudut di mata banyak orang dan tetangga, aku tidak bisa merawatmu menjadi perempuan yang kau impikan seperti yang aku janjikan dulu.”

“Uang pendapatan Papa hanya tersisa untuk kebutuhan anak-anak kita, lain lagi yang kecil, butuh suplemen maupun susu  dan lain sebagainya. Papa malu akan ini semua.”

“Pernahkah aku berpikir tentang itu mas? Tidak terlintas sedikit pun di pikirku hal seperti itu, apalagi membuat kamu merasa terbebani, cukup kamu selalu bersamaku di setiap hari, itu lebih dari cukup buat aku”

“Tapi ma, aku malu sama ibu mertua dan tetangga lain yang suaminya memberikan nafkah yang cukup buat istri-istrinya tidak hanya pada anaknya saja.”

“Aku tak meminta apa-apa darimu mas, sebelum aku menjadi seorang ibu yang penuh kasih pada anak-anaknya, kaulah orang yang pertama mengajari aku tentang ketulusan itu sendiri, hingga aku merasa menjadi orang paling beruntung di muka bumi ini.

Aku bisa merasakan apa yang membuat suamiku risau selama ini, tentu pertama adalah lingkungan, tapi aku juga harus berpikir lebih dalam, supaya aku bisa mendapatkan penghasilan setidaknya aku bisa merawat diri, supaya ia merasa tidak terbebani.”

“Cukup kau biayai anak-anak, aku sudah bangga denganmu mas, dan aku akan mencari penghasilan yang bisa dikerjakan di rumah, setidaknya aku kembali merawat diriku..”

“Maaf Ma, hanya ini yang bisa aku lakukan padamu…”

“Ini sudah lebih dari cukup mas, bagiku mas adalah lelaki terbaikku dan ayah yang selalu dirindukan oleh anak-anaknya.”

“Maaf ma, papa juga tidak mau kehilangan mama sebagai istri dan ibu yang luar biasa buat anak-anakku.”

Dari pengalaman ini aku dapat banyak pelajaran yang lain, bahwa berkorban demi anak terus menerus hingga lupa merawat diri juga bukan hal yang baik.

Sebagai seorang suami yang ia pikirkan tidaklah hanya soal anak saja, melainkan istrinya juga harus bahagia. Aku tahu hal itulah yang membuat ia merasa terbebani.

Oleh sebab itu, demi dia aku mau berubah. Karena aku tahu hanya dia lelaki yang hebat dan kuat yang harus selalu dipertahankan demi masa depan anak-anak.

“Love you may husband.”

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here