Empat Cara Menjadi Mama Muda yang Kreatif

Empat Cara Menjadi Mama Muda yang Kreatif

Suatu sore Jundi, putra saya, susah sekali untuk disuruh mandi. Saya bujuk dia, tidak mempan. Saya gandeng tangannya untuk berjalan ke kamar mandi, belum sampai pintu ia sudah lari lagi ke ruang tamu.

Biasanya saya bujuk dengan mengatakan “sikat gigi yuk, Mas” dan Jundi akan senang hati mengikuti. Alasannya karena ia bisa “makan” pasta gigi rasa strawberry.

Namun bujuk rayu pasta gigi rasa strawberry sore itu tak mampu menggoyahkan iman Jundi untuk tidak mandi.

Haduh.

Saya tak habis akal. Saya ambil pasta gigi dan sikat giginya. Saya oleskan pasta gigi yang berwarna merah menggoda di atas sikat mungilnya.

“Baik, Mas Jundi. Apakah kamu masih tahan dengan godaan ini,” batin saya.

Lalu saya goyang-goyangkan sikat gigi itu dihadapannya.

“Mas Jundi…,” panggil saya.

Ia menoleh. Tertarik namun hal ia belum mau berdiri.

Heemm… Anak ini baru ngeyel ternyata. Lalu saya nyanyikan lagu itu, lagu yang saya gubah sendiri. Nadanya saya comot dari sebuah lagu anak.

“Gigi putih punya siapa?” saya bernyanyi.

“Punya Mas Jundi!” teriaknya sambil heboh.

“Gigi bersih punya siapa?”

“Punya Mas Jundi!” (sambil heboh)

“Gigi putih bersih punya Mas Jundi.” (tetep heboh)

Akhirnya dengan kehebohan menyanyikan lagu, saya berhasil menggiringnya ke kamar mandi. Disana ia pegang sikat gigi itu, lalu ia asyik jilat-jilat pasta giginya. Sembari itu satu per satu pakaiannya saya lepaskan, dan saya mandikan.

Itulah salah satu cara yang saya lakukan untuk menjadi Mama muda yang kreatif dalam menghadapi tingkah polah anak.

Cara pertama yaitu pandai mengarang lagu.

Tak perlu Mama tahu seluk beluk not balok. Tak perlu suara merdu seperti Raisa. Tak perlu lirik lagu yang puitis dan mendayu. Untuk pandai mengarang lagu, Mama hanya memerlukan wajah ceria. Sedikit ingatan nada lagu anak-anak, lalu karanglah sepuasnya sesuai situasi dalam menghadapi tingkah anak.

Kedua, jadilah mama yang pintar bercerita atau mendongeng.

“Aduuuh, saya kan nggak punya bakat….!” Mungkin itu yang akan Mama katakan saat pertama kali disuruh mendongeng buat anak.

Tenang Ma, sama saya juga nggak punya bakat tuh. Hehehe.

Bahkan Jundi suatu ketika sukses membuat saya mlongo karena dengan tiba-tiba dan tanpa basa basi ngeloyor pergi pada saat saya  sedang semangat mendongeng untuknya. Duh, sakitnya tuh disini lho, Ma. (Nunjuk muka. He..he..)

Itu dulu, kalau sekarang saat dia menangis bisa langsung tenang. Karena saya menawarinya untuk bercerita atau mendongeng.

Ssst… ternyata ada rahasianya lho Ma.

Tahukah bahwa anak tidak menuntut kita untuk hebat mendongeng. Tidak menuntut kita berekspresi dengan bermacam macam suara.

Namun anak bisa tenang ketika kita mendongeng dengan sepenuh hati, bercerita dengan menghayatinya, dan bercerita dengan melibatkan anak di dalamnya. Sehingga pesan dan rasa yang kita bawakan akan sampai pada anak.

Materi cerita juga perlu diperhatikan lho Ma…

Cerita harus sesuai dengan fase usia anak.  Menurut Dr. Kamaluddin Husain pengarang buku Melatih Otak dan Komunikasi Anak,  anak-anak yang belum memasuki masa sekolah sangat cocok diceritakan seputar hubungan kekeluargaan, binatang, cerita lucu atau anekdot.

Anak usia enam sampai sepuluh tahun lebih menyukai cerita magis yaitu cerita tentang orang-orang yang memiliki kehebatan atau kekuatan khusus. Anak yang lebih besar lagi menyukai cerita-cerita nyata, atau kisah tentang suatu kaum.

Ketiga, bisa menggambar

Anak memasuki usia delapan belas bulan biasanya sangat suka coret coret. Pada usia itu jundi sudah bisa membuat garis vertikal, horisontal dan lingkaran benjol sana benjol sini.

Tak jarang ketika saya sedang menemaninya, dia memberikan crayonnya dan meminta saya menggambar. Saya tak pandai menggambar, tetapi Jundi sangat menyukai dan ketagihan dengan gambar yang saya buat. Dari situ saya berfikir Jundi pasti akan senang dan bangga kalau saya bisa menggambar yang lebih bagus.

Akhirnya saya belajar dari tutorial tutorial yang saya lihat di internet. Banyak kok berseliweran tutorial menggambar berbagai macam bentuk di Google. Cari aja, Ma!

tingkah jundi saat mendorong kursi
tingkah jundi saat mendorong kursi

Keempat, peka terhadap situasi

Setiap peristiwa yang dialami oleh anak merupakan perbendaharaan pengetahuan yang akan menempel dalam pikiran dan perasaannya. Sangat sayang sekali jika setiap momen terlewat begitu saja tanpa ada pelajaran penting yang diserap oleh anak kita.

Oleh karenanya kepekaan Mama dalam melihat situasi sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak.

Saya memiliki cerita saat bersama jundi.

Di rumah, kami memiliki lemari plastik khusus untuk menaruh pakaian jundi. Lemarinya pendek dan cukup mudah diraih oleh tangan mungilnya.

Suatu hari setelah pakaian beres disetrika dan ditata dalam lemari, saya meminta ijin pada jundi yang sedang asyik dengan mainannya untuk pergi mandi. Tak perlu waktu lama karena khawatir Jundi akan merengek saya sudah kembali. Lumayan heran juga, tumben Jundi tidak menyusul dan memukul-mukul pintu kamar mandi.

Eeehh, ternyata dia sedang asyik menarik-narik baju. Mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari  dan menumpuknya di lantai. Rasa lelah menyetrika belum juga hilang. Emosi membuncah. Untung saja saya sudah membaca tips agar tidak stres mengasuh anak. 

Maka saya sadar marah bukanlah solusi, bahkan akan menambah masalah baru.

“Mas Jundi…” saya panggil sambil berdiri di sebelahnya.

Yang dipanggil mendongak sembari tersenyum tanpa merasa bersalah dan kembali sibuk menarik baju bajunya. Hilang semua rasa jengkel berganti gemas melihat senyum lugunya.

Saya dekati dia dan saya ajak melipat kembali pakaiannya.

“Sekarang mas Jundi bantu bunda lipat pakaiannya ya,  supaya rapi dan nggak kusut”

Tampak dia berusaha membantu. Meskipun tak membuat baju semakin rapi. He..he.

Momen itu saya gunakan untuk mengenalkan jenis warna pada jundi. Tak perlu pakai emosi dan tangisan, akhirnya pekerjaan beres dan anak bisa banyak belajar. Belajar membantu orang tua, dan juga belajar pengetahuan lainnya.

Begitulah, Ma. Seperti sebuah ungkapan itu, bahwa orang tua yang suka marah pada anak hanyalah orang tua yang kurang mampu menemukan cara kreatif untuk menghadapi sikap anak.

Tingkah anak, utamanya usia balita, memang kadang menyebalkan. Ada saja berbagai macam tingkah lakunya yang bisa memancing emosi orang tua.

Karena itulah Mama perlu mencari berbagai cara kreatif untuk mengasuh anak. Semoga cerita diatas bisa memberikan inspirasi ya, Ma.

Selamat belajar menjadi Mama muda yang kreatif. Happy parenting, Ma…

.

.

Oleh: Tantri Mega Sanjaya, Mamanya Jundi.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu