Empat Kiat Untuk Mama yang Bekerja

Empat Kiat Untuk Mama yang Bekerja

Maafkan Mama, sayang..

Mama bukan yang pertama menemanimu disaat momen berhargamu.

Mama bukan yang pertama yang melihat tingkah barumu.

Mama bukan yang pertama merengkuh jari manismu saat engkau pertama melangkah.

Mama bukan yang pertama menghadirkan pelukan saat kau sakit.

Maafkan Mama, sayang…

Mama telah mengambil hak waktumu.

Mama telah melewatkan banyak hal tentangmu.

Maafkan Mama, sayang.

Mungkin itulah isi hati ratusan bahkan ribuan Mama yang ada di dunia ini. Para Mama yang tak hanya menghabiskan waktu sepenuhnya untuk anak di rumah, tapi juga harus membaginya dengan bekerja.

Ya, perdebatan antara Mama bekerja dengan Mama rumah tangga seakan-akan tak ada habisnya. Bahkan beberapa waktu lalu sampai muncul sebuah kalimat di media sosial yang bernada menyindir para Mama bekerja. Bahwa dikatakan, seorang Mama yang menghabiskan waktunya di kantor lebih dari 8 jam, sedangkan untuk anak hanya 2 jam, apakah masih pantas disebut sebagai ibu?

Oh, Ma.. Sungguh hati ini sakit saat mendengarnya. Sakit sekali.

Plis deh, jangan rendahkan Mama yang memilih berkarir dan bekerja di luar rumah. Stop it!

Apakah Mama bekerja selalu menimbulkan mudharat bagi tumbuh kembang anak? Bukankah banyak juga kasus anak terlantar walaupun ibunya tidak bekerja. Pun ada juga kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh ibu rumah tangga.

Lantas apa ukurannya bahwa Mama bekerja tidak lebih mulia dari ibu rumah tangga?

Bagi saya, seorang ibu tetaplah seorang ibu. Seorang ibu tidak diukur dari berapa banyak waktu yang ia habiskan dengan anak, tapi yang lebih penting adalah waktunya bersama anak. Karena memang ada perbedaan besar antara “dengan anak” dan “bersama anak.”

Bisa jadi seorang ibu berada seharian dengan anak di rumah, tetapi ia tidak sedang bersama anak. Dan banyak yang seperti itu.

Ada banyak alasan kenapa seorang Mama memutuskan untuk bekerja, dan saya bukanlah orang yang pantas untuk menilainya. Namun saat Mama memutuskan menghabiskan sebagian waktu untuk bekerja; itu tidak bisa menjadi dalil untuk menghakimi baik buruknya seorang Mama.

Saya memahami perasaan Mama. Saya mengerti. Dan saya juga merasakan hal serupa. Karena itulah Ma, ijinkan saya berbagi kiat buat Mama yang bekerja. Semoga ada beberapa kiat yang saya utarakan menjadi inspirasi untuk Mama dalam menghadapi dilema.

Pertama, perbanyalah berdoa.
Kenapa? Karena anak adalah titipan dari Tuhan. Tentu dalam mendidik dan mengasuh anak tidak akan pernah bisa lepas dari takdir Tuhan. Mau jadi anak yang cerdas, ataupun bandel atau yang lain, semua itu salah satunya terjadi karena doa dari seorang ibu.

Bukankah doa yang mustajab salah satunya adalah doa dari ibu?

Maka Ma, perbanyaklah berdoa. Serahkan urusan anak Mama tidak hanya pada keluarga tapi juga libatkan Tuhan, Pemilil Jiwa manusia.

Kedua, jangan lampiaskan lelah dan amarah di rumah. 
Tentu akan ada banyak tekanan di tempat kerja. Pulang sore mungkin badan sudah lelah. Belum lagi saat di kantor mungkin sehabis dimarahi atasan.

Satu hal yang paling penting; jangan pernah lampiaskan emosi saat di kantor di rumah. Anak tidak tahu masalah Mama dikantor, kenapa anak yang mesti jadi korban? Benar kan?

Maka jadikan rumah sebagai oase. Tempat re-charge kembali energi yang hilang. Jangan jadikan rumah dan keluarga sebagai pelampiasan amarah dan kekecewaaan, tapi jadikan mereka sebagai inspirasi dan motivasi untuk selalu berbuat lebih baik.

Ingatkah pepatah itu, Ma? Rumahku, surgaku. Di surga isinya adalah kebahagiaan.

Ketiga, saat libur gunakan waktu semaksimal mungkin untuk keluarga. 
Habiskan waktu libur Mama bersama keluarga. Isi dengan rekreasi bersama, atau berbagai kegiatan menarik lainnya. Ingat selalu ya Ma, perbedaan antara menghabiskan waktu dengan anak dan bersama anak.

Keempat, berikan pemahaman pada anak makna perjuangan seorang Mama, kemandirian, dan cinta dari Mama

Anak perlu penjelasan Ma. Janganlah menganggap anak tak tahu apa-apa. Ajak anak untuk bicara tentang pekerjaan Mama, berikan anak pengertian betapa Mama mencintainya. Jangan pernah berkata pada anak, “bukan urusanmu!” tentang pekerjaan Mama. Karena hal itu dapat menimbulkan luka batin pada diri anak.

Jangan ada lagi perdebatan mana yang lebih baik antara ibu rumah tangga ataupun ibu yang bekerja dan berkarir. Janganlah hal itu diperdebatkan. Yang perlu kita lakukan adalah terus berusaha dan belajar bagaimana cara menjadi orang tua yang baik.

Menjadi orang tua yang mengasuh anaknya penuh cinta dan mendidik anak agar ia mampu mencapai harapannya di masa depan.

.

.

Oleh: Aeni, asal Jawa Tengah.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu