Ganti Televisi Dengan Buku

0
102

Seorang anak, usianya masih tiga tahun, duduk berjam-jam di depan televisi. Tangannya memegang toples yang berisi camilan. Ia tampak tenang. Diam.

Namun apa yang ia tonton? Ternyata jam tayangan kartun telah usai. Berganti dengan tayangan hiburan musik yang sesekali diisi dengan candaan tak bermutu. Pun anak itu mulai gonta ganti channel. Menonton sinetron yang penuh drama picisan di stasiun lain.

Anak itu diam. Khusyuk. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia sedang menikmati di dikte oleh kotak ajaib yang bernama televisi.

Pemandangan seperti itu jamak kita dapati. Selagi ibu memasak di dapur, agar anak diam dan tenang, tak jarang kebanyakan orang tua menyetelkan televisi untuk anak-anaknya.

Tahukah Mama Papa, bahwa ternyata televisi lebih banyak membawa dampak buruk bagi anak?

Fauzil Adhim, pakar pareting, menyatakan bahwa tidak ada stasiun TV yang mengudarakan acara yang benar-benar mengaktifkan otak anak, dan menggugah anak terlibat dalam proses berfikir. TV justru menyedot perhatian anak yang dalam jangka panjang bisa mempasifkan otaknya. Belum lagi soal content (isi). Film-film yang ditayangkan maupun iklan pariwaranya sebagian besar tidak layak untuk dikonsumsi anak.

Lebih lanjut ia berkata bahwa, menurut ahli-ahli psikiatri Amerika Serikat, tayangan TV yang sering disaksikan anak adalah tayangan-tayangan yang tidak dikemas untuk anak, sehingga banyak menonton TV menyebabkan anak otaknya pasif dan cenderung tidak suka berpikir. Dan jika anak tidak suka berpikir, maka anak cenderung tidak mampu mengkomunikasikan perasaannya dengan baik. Dan itu berarti menambah kesulitan kita dalam mendidik anak.

Ada banyak persoalan yang muncul gara-gara televisi. Kotak ajaib ini memang amat menarik perhatian anak. Ia bisa menampilkan gambar dan suara. Sebenarnya tidak ada yang keliru bila tayangan itu memperhatikan kebutuhan tumbuh kembang anak, hanya saja di Indonesia televisi kita lebih banyak menampilkan tayangan dan iklan yang tidak mendidik daripa tayangan yang edukatif. Inilah problemnya!

Mengutip penelitian yang dilakukan oleh Reza Hernawati (2011) televisi telah mengubah cara berpikir anak. Anak-anak yang terlalu banyak menonton televisi biasanya akan tumbuh menjadi sosok yang sulit berkonsentrasi dan kurang perhatian pada lingkungan sekitar. Mereka hanya terpaku pada televisi. Anak-anak lebih bersifat pasif dalam berinteraksi dengan TV, bahkan seringkali mereka terhanyut dalam dramatisasi terhadap tayangan yang ada di televisi.

Disatu sisi TV menjadi sarana sebagai media informasi, hiburan bahkan bisa sebagai kemajuan kehidupan, namun disisi lain TV dapat menularkan efek yang buruk bagi sikap, pola pikir, perilaku anak.

Jadi, Mama Papa, masihkah anak akan terus dijejali dengan televisi?

Mama Papa, untuk mengatasi itu gantilah televisi dengan buku. Ya, buku jauh lebih bermanfaat daripada televisi. Buku yang kita sajikan pada anak, bisa kita pilah dan pilih; mana buku yang baik, dan mana buku yang tidak baik.

Orang tua bisa memulai untuk mengakrabkan, menjadikan anak suka dan menanamkan kepada mereka bahwa membaca itu sangat penting serta penuh manfaat. Bisa jadi awal-awal, saat anak usianya masih batita anak hanya akan memainkan buku yang Mama berikan padanya. Merobeknya, melemparnya, namun itu semua tidak apa anak lakukan. Wajar.

Siasati hal itu dengan memberikan buku yang tak mudah rusak.

Buku rusak masih bisa diganti. Bila rusaknya tidak parah, masih bisa digunakan. Namun yang lebih penting adalah orang tua memberikan dorongan kepada anak untuk berusaha menyukai buku.

“Inilah yang jauh lebih penting untuk kita tumbuhkan pada diri anak-anak kita di usia mereka yang sangat dini. Bukan sekedar kemampuan mengeja atau menunjukkan nama-nama benda dalam buku,” ujar Fauzil Adhim dalam salah satu tulisannya.

Nah, namun yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah tidak menuntut untuk anak bisa membaca sejak dini. Ya, kecintaan dan menumbuhkan kemauan anak pada buku itu jauh lebih penting daripada mengajari anak untuk bisa membaca huruf.

Fauzil Adhim mengulas bahwa; banyak anak yang telah terampil membaca di usia dini, tetapi begitu memasuki usia SD mulai kehilangan gairah membaca. Mereka bisa mengeja saat baru memasuki kelompok bermain (playgroup), tapi saat remaja sangat enggan menyentuh buku. Dan inilah yang banyak kita jumpai. Anak-anak dilatih untuk mampu membaca saat mereka masih balita, tapi begitu usia sekolah hilang gairahnya membaca, hilang pula antusiasme belajarnya.”

“Apa artinya? Kemauan membacalah yang lebih penting kita bangun. Tak usah bergenit-genit dengan kemampuan anak membaca dan berhitung di usia dini. Kalaupun kemudian mereka mampu membaca di usia dini, tidak menjadi masalah sepanjang itu akibat dari minat besarnya terhadap membaca. Bukan akibat dilatih. Kemauan yang kuat memudahkan anak meraih kemampuan. Sebaliknya, kemampuan tanpa kemauan akan menjadikan mereka mudah mengalami kebosanan dan kejenuhan membaca. Malas belajar merupakan akibat berikutnya,” terangnya.

Mama Papa, jadi bila anak Anda masih berusia batita, tak perlulah dipaksa untuk sudah bisa membaca. Kenalkan saja anak pada buku. Berikan ia mainan berupa buku.

Lalu, yang bisa Mama Papa lakukan, BACAKAN cerita untuk anak. Dengan itu perlahan-lahan anak akan tumbuh lebih cerdas dan lebih tangguh.

Bukankah begitu? Mari kita tumbuhkan kepada anak-anak kita kecintaan terhadap buku dan pengetahuan.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here