Hai Suami! Istrimu Ini Juga Butuh Teman & Hiburan, Jangan Menyuruhnya di Rumah Terus

0
961

Berumah tangga, punya anak, jadi istri sekaligus seorang ibu. Semuanya sangat berubah bagi seorang perempuan, berubah dari masa masih gadis dulu. Ada berbagai macam pekerjaan dan tanggung jawab yang harus diemban. Kudu strong dan mengorbankan banyak sekali waktu yang dimiliki.

Saking banyaknya daftar pekerjaan yang harus dikerjakan seorang ibu, seharian di dalam rumah saja terkadang masih terasa kurang. Dari pagi harus mengurus baju kotor dilanjutkan mengurus sarapan anak, kemudian bersih-bersih rumah yang berantakan, lalu masak buat semua keluarga, mengangkat jemuran di waktu yang pas sebab khawatir kalau kehujanan, memandikan anak dan segudang pekerjaan lain yang biasanya seorang ibu lakukan. Ya, tidak semua keluarga memiliki dana yang cukup untuk membayar gaji Asisten Rumah Tangga (ART).

Fix, jabatan saya merangkap istri, ibu sekaligus asisten rumah tangga. Semacam serabutan gitu lah pekerjaannya. Mungkin para ibu pembaca di sini ada yang seperti saya juga ya. Jadi, sebagai sesama pekerja serabutan, kita harus kuat dan saling mendukung, ya.

Itu memang tanggung jawab baru. Tetapi sebagai manusia biasa yang memiliki keterbatasan tenaga, semangat dan keinginan, sering juga merasa kejenuhan yang memuncak.

Hidup terasa seperti berulang terus menerus. Bosan enggak sih kalau seperti ini terus? Ibu-ibu kan juga butuh liburan, aktivitas berbeda yang menyenangkan, dan sebagainya dan sebagainya.

Mana suami kadang banyak tuntutan juga. Misalnya bilang menu masakan kurang variatif, rumah masih berantakan, enggak mau pijat suami yang lagi capek, dan keluhan lainnya. Helloow, sebelum mengeluh lebih banyak lagi, kita tukaran posisi yuk. Sehari saja. Coba gantian rasakan gimana kalau jadi pengurus rumah, masak tiap hari, ngurus anak dan seabrek pekerjaan lainnya, enak enggak?

Beneran, ternyata jadi ibu itu enggak semudah acara Gigi istrinya Raffi di acara Janji Suci itu. Enak benar kalau memang seperti itu.

Gambar terkait

Foto : Ilustrasi


Lebih jauh lagi, jadi seorang ibu berarti siap kehilangan sahabat-sahabat sebelum menikah dulu. Coba saja hitung, berapa banyak sahabat yang sudah hilang sejak masing-masing menemukan jodohnya. Jarang banget ada kesempatan buat kumpul kayak dulu. Apalagi nongkrong malam-malam di cafe. Mana sempat. Jam segitu pasti sudah kecapekan atau jadi jamnya bareng suami.

Padahal sih pas belum nikah mintanya cepat-cepat dipertemukan sama jodoh. Eh, giliran sudah terikat janji suci dan menjalani bahtera rumah tangga, mulai deh kangen masa waktu masih lajang yang bebas dengan banyak waktu luang.

Benarlah apa yang pepatah Jawa katakan “Urip mung sawang sinawang,” atau dalam bahasa gaulnya “Suami rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.”

Seakan-akan menjadi mama muda itu sepaket dengan kehilangan jati diri yang lalu. Jadi orang lain yang lupa pada diri sendiri. Itu sebenarnya tidak enak banget. Apa iya seorang ibu muda harus melepaskan banyak hal dari dirinya ketika sudah punya suami dan momongan?

Hai mama muda, kita perlu mengambil sikap bersama. Oke, masuk ke bagian yang lebih serius.

Biasanya mama muda mengalami shock ketika sudah punya anak dan sibuk ngurus rumah tangganya. Aktivitas super padat plus keluhan-keluhan dari anak dan suami mengharuskannya untuk selalu fokus dengan rumah. Hasilnya, ia menghilang dari pergaulan sahabatnya, menghilang dari tempat nongkrong favoritnya, dan parahnya lagi, hilang dari jati dirinya sendiri.

Lha kok bisa kehilangan jati diri? Iyalah, sebab demi keluarga, mama muda akan meninggalkan hobi-hobinya di masa lalu.

Tetapi apa hal itu yang kemudian bisa membuatmu jauh dari diri sendiri. Seperti kehilangan passion yang membuatmu merasa hidup. Hobimu di masa muda yang kini kau tinggalkan. Kupikir hal itu salah.

Mungkin kau adalah seseorang yang sangat aktif semasa kuliah dulu. Menghabiskan banyak waktu untuk melakukan aktivitas yang membuatmu berkembang dan mendewasakanmu.

Padahal kita tidak harus meninggalkan itu semua. Biar saya ceritakan satu kisah dari hidup saya.

Foto-foto: Istimewa


Semasa kuliah saya senang melakukan hunting foto ke tempat-tempat yang indah. Itu benar-benar membuat saya merasa hidup sebab mampu berkarya dan menangkap keindahan alam. Tetapi semuanya berhenti seketika saat saya jadi mama muda.

Kamera tergeletak dalam lemari tanpa disentuh. Kalaupun dipakai hanya untuk menjepret suasana dalam rumah. Saya tahu itu sama-sama mengambil gambar. Tetapi rasanya berbeda, tentu saja.

Sampai saya mendiskusikan hal ini dengan suami. Saya ingin meneruskan hobi lama ini. Rencananya sebulan sekali atau seminggu sekali kalau boleh, saya ingin jalan-jalan jauh untuk mendapatkan spot foto yang bagus. Sempat khawatir suami akan marah kalau ide itu diutarakan. Tetapi di luar dugaan dia mendukung.

Dia bilang kalau itu hak saya. Dia sadar betul rasanya hidup tanpa passion. Maka saya mulai kembali jalan-jalan dan mengambil gambar. Meski memang, jepretan saya belum layak dipajang di pameran. Mentok diunggah di Instagram sendiri dan selebihnya numpuk dalam folder laptop. Namanya juga hobi, bukan kerjaan.

Tetapi, that’s the point. Meski sudah jadi seorang ibu, kita tetap berhak melakukan hobi yang kita punya. Tidak ada alasan yang bisa bikin mama muda terkurung dalam rumah.

Meninggalkan passion itu berarti meninggalkan bagian diri yang kita cintai. Kita kehilangan diri sendiri. Nah kalau begitu, apalagi yang tersisa dalam diri terkecuali badan yang terus bekerja. Kasihan sekali.

Untuk itu teruslah melakukan sesuatu yang disuka. Kalau memang moms suka travelling seperti saya maka teruskanlah. Kalau ada hobi merajut atau bahkan main futsal, lakukanlah.

Suami harus mengerti kalau istrinya tetaplah orang yang sama seperti saat gadis dulu. Suami tidak boleh melarang istrinya untuk menekuni hobi yang sejak dulu disukainya. Beruntung kalau sepasang suami istri memiliki hobi yang sama. Tetapi kalaupun berbeda, istri berhak melakukan itu.

Jangan sampai hanya suami yang diperbolehkan melakukan hobi bareng temannya saja. Seperti nonton bola sampai malam pake ngajak teman rame-rame ke rumah. Terus bikin suara berisik. Setelah itu si istri disuruh bikin kopi buat mereka pula.

Eh, giliran istri mau ikutan kelas yoga dilarang, enggak dibolehkan ngumpul sama teman lain. itu kan enggak adil banget sebenarnya. Yah, cerita itu dialami temen saya sih. Suaminya benar-benar over protektif melarang si istri dari ini dan itu. Tidak perlu ditanya gimana rasanya jadi istri yang dikurung, pusing tujuh keliling. Dikira ini jaman Siti Nurbaya apa.

Hasil gambar untuk hobi ibu

Foto : Ilustrasi


Sampai kapanpun, saat sudah punya suami, atau punya tiga anak sekalipun, bunda tetaplah perempuan yang sama seperti saat masih gadis dulu. Perempuan yang berhak melakukan hobi dan kesukaannya, melakukan aktifitas yang membuatnya senang, dan sebagainya.

Seorang ibu memang harus melakukan tanggung jawab mengurus rumah tangga dan mengasuh anak. Tetapi bukan alasan yang membuatnya meninggalkan hobi dan kesenangan. Sebab jika ditinggalkan, itu berarti dia telah kehilangan satu sisi diri yang paling dicintainya. Buat para suami, dukung istri kalian untuk melakukan hobi atau kegemarannya. Mengekang istri hanya akan membuat cinta suci kalian berdua terciderai.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here