HomeCurhatTutur Untuk MamaHati-hati Gangguan Psikosomatis Pada Mamah Muda Akibat Kurang Piknik

Hati-hati Gangguan Psikosomatis Pada Mamah Muda Akibat Kurang Piknik

Syahdan, pada suatu ketika, tersebutlah seorang mamah muda (mamud) cantik jelita nan bijaksana beranak tiga mendatangi sebuah Rumah Sakit hendak mengkonsultasikan keluhan yang akhir-akhir ini dirasakannya.

Masuklah dia ke ruang dokter syaraf dan terjadilah percakapan berikut: “Begini Dok, sudah dua bulan ini punggung sebelah kiri saya sering tiba-tiba kesemutan terutama saat posisi cuci piring,” kata mama muda tersebut.

“Kesemutan itu lama-lama merambat ke kepala (pernah ngerasain kesemutan di kepala buibu?), mulut, telapak tangan, kaki, semua-semua jadi sering sekali kesemutan. Terus rasanya lemes banget Dok, gak punya energi, dada rasanya sakit, punggung berasa remuk redam setiap kali bangun tidur, sering sakit kepala, bla bla bla bla bla….. ,” tambah mamud tersebut bersemangat dan sedikit mendramatisir.

Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter berkata “Lha jangan-jangan itu cuma psikosomatis, karena kamu stres. Sakit kok nggladrah-nggladrah gak karuan sampai mana-mana,” kata Dokter, galak.

Anaknya berapa?” tanyanya lebih lanjut sambil melihat dua batuta yang mondar-mandir di ruangannya.

“Tiga dok, sama yang bayi, ” jawab si mamud mama imud, eh…muda.

“Wah ya wis jelas itu, jenuh….”

Si Mamud pun bengong, “Oh gitu ya Dok, bisa ya, stres bikin sakit fisik? Gak ada indikasi sakit jantung atau yang sebangsanya kan Dok?” Lanjut si mamud yang masih penasaran kok jawabannya sesederhana itu.

Dokter pun menjawab dengan agak sebal “Sakit jantung apanya, wong bisa ngomong nritik-nritik, runtut,  ndangkik-ndangkik kaya gitu kok jantung. Kecuali kalau Anda pas ngomong ngos-ngosan, sesak napas…”

“Duuuuh salah guwe, kebanyakan ngasih micin jadi gini nih, gak meyakinkan,” batin si Mamud.

“Tapi Dok, waktu periksa ke klinik dekat rumah katanya bisa jadi ada indikasi sakit jantung, terus disuruh cek EKG,” si mamud masih ngeyel.

“Ya itu kan dokternya cuma nurut-nurutin aja maunya kamu, mau tes EKG lagi? Saya bikinkan pengantarnya!” jawab dokter makin galak.

“Nggg….gak usah deh Dok, jadi gak ada yang bermasalah kan sama tubuh saya?” tanya mamud lagi dengan agak nggondok.

“Enggak, janganlah masih 30 tahun kok sudah sakit kaya gini.”

“Jadi saya harus ngapain ya Dok?”

“Ya silakan aja, mungkin anda bisa lebih mendekatkan diri pada Allah, bermunajat, atau mungkin makan-makan, jalan-jalan, PIKNIK… atau apalah kesukaan anda,” jawab dokter.

Tentu saja jawaban dokter itu membuat hati si mamud sorak sorai bergembira, bergembira semua… Yess!! PIKNIK!!! La la la ye ye ye, habis ini harus segera bikin proposal piknik atas rekomendasi dokter yang ditujukan ke si bapak. Dan si Mamud itu pun mulai mengkhayalkan liburannya dengan bahagia

–TAMAT–

Jadi, apakah pesan moral  yang bisa diambil dari kisah based on true story di atas?

Satu. Gak usah lebay kalau memeriksakan diri ke dokter. Katakan secukupnya, tak perlu terlalu banyak bumbu. Lihat akibatnya? Penyakit kesemutan yang dikeluhkan jadi kelelep info-info tambahan yang kurang penting, jadi gak fokus.

Yang kedua, penyakit yang diakibatkan kurang piknik (baik secara langsung atau tidak) itu nyata adanya. Bukan sekedar sandiwara, bualan semata, atau meme lucu-lucuan di dunia maya.

Ya, namanya psikosomatis. Gangguan psikosomatis digunakan untuk menyatakan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor psikis/mental, seperti stres, cemas, kecewa, depresi, dan lain-lain.

Psikosomatis ini menyebabkan rasa sakit atau gangguan pada fungsi tubuh meskipun tidak tampak kelainan pada pemeriksaan x-ray, tes darah atau lainnya.

Kalau dulu jaman SD kita hafal mati adagium “men sana in corpore sano“, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, hari ini tampaknya pepatah itu sudah terpatahkan. Bisa dilihat dari makin banyaknya orang-orang dengan fisik yang sehat namun jiwanya sakit. Sebutlah itu koruptor, pembohong, psikopat, orang-orang stres, depresi dan teman-temannya.

Tibalah kita di jaman “Corpus sanum in mente sana” atau di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat. Saat ini banyak sekali macam penyakit fisik yang disebabkan atau diperparah oleh jiwa yang kurang sehat.

Ngomong-ngomong, ada lho sebuah profesi yang beresiko tinggi mengalami stres, cemas atau depresi. Yap, profesi ibu rumah tangga. Profesi adiluhung nan mulia, tanpa tanda jasa yang berbalas surga. 24 jam sehari, 7 hari  seminggu tiada henti berjibaku mengolah rasa, jiwa dan raga demi masa depan nusa dan bangsa. Hidup ibu RT! Merdeka!! (Halaheem…)

Kerempongan, kemultitaskingan serta kegiatan yang selalu sama dan berulang-ulang itu rentan memicu kejenuhan, stress, atau lebih jauh lagi depresi pada diri seorang ibu. Itulah kenapa ibu rumah tangga adalah salah satu makhluk yang paling butuh piknik di muka bumi ini.

Oleh karenanya penting sekali memastikan kesehatan jiwa seorang ibu. Se-urgen menyelamatkan Nobita dari pembullian yang dilakukan Giant dan Suneo. Sepenting perjalanan ke barat mencari kitab suci yang dilakukan Guru Tong dan keempat muridnya.

Ibulah seharusnya orang pertama yang wajib diupayakan kebahagiaannya. Karena ibu yang bahagia akan membahagiakan anak-anaknya. Pun ibu yang sedih, gundah gulana biasanya juga akan menggalaukan anak-anak dan lingkungan sekitarnya. Kebahagiaan seorang ibu adalah tanggung jawab semua pihak, keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Dear bapak-bapak, mau kan ibu dari anak-anak anda bahagia lahir batin gemah ripah loh jinawi tata tentrem raharja?

Naah… Salah satu caranya adalah dengan sering-seringlah mengajaknya piknik, selain transferan teratur dan berlebih tentu saja, juga kado-kado kecil berupa berlian dan intan permata. Kalau belum bisa semua ya minimal 5 gram Logam Mulia tiap bulannya juga tak apa (mama matre mama matre ke laut aje).

(Mohon jangan diprotes ya, ini mencari alur biar psikosomatis bisa nyambung sama piknik sudah cukup sulit, apalah lagi ketambahan bantahan anda)

Sebagai tambahan, berikut Saya tuliskan beberapa ciri yang menandakan kapan saatnya seorang ibu perlu diajak piknik.

1. Sakit fisik yang setelah dilakukan pemeriksaan, tidak diketahui penyebabnya.

Merasa lemah letih lesu lunglai tanpa sebab. Sakit kepala yang sering datang tak diundang pulang tak diantar. Siklus menstruasi yang tiba-tiba menjadi tidak teratur. Sakit di hampir semua bagian tubuh, dsb.

2. Mendadak pemarah

Ketika si mamah mulai merasa terganggu/malas/emosi saat diminta bikinin susu, gorengin nugget, bacain cerita atau bermain pasaran oleh si bocah. Ketika mama menjadi cepat marah hanya karena mendengar pertengkaran kakak adik dalam memperebutkan posisi utama tidur di sebelah mama. Ketika mamah menjadi cepat murka menghadapi hal ecek-ecek semacam susu tumpah di lantai, baju kotor bergantungan di kapstok atau kompor gas yang mendadak mati saat proses memasak baru sepertiga jalan.

Nah saat mamah mulai uring-uringan tanpa sebab yang jelas dan logis, itulah pertanda bahwa dia sudah mulai lelah jiwanya. Piknik salah satu solusinya.

3  Mendadak pelupa

Ibu adalah seseorang di rumah yang paling tahu seluk beluk segala cenceremen di rumahnya. Lebih-lebih lagi, ibu adalah spesialis pencari barang hilang. “Mah, di mana kaos kaki kakak yang batik kotak-kotak?” “Tuh di kamar depan, di dalam lemari laci ke 62 tumpukan paling kiri.” Jawab si ibu, detail dan presisi. 

“Mah di mana kunci motor ayah tadi ya?” “Tuh di kantong celana ayah yang kemarin bolongnya udah mama jahit.” Mah, dimana es krim yang kemarin adek taroh kulkas?” “Oooh itu udah di dalam perut adek, kan kemarin udah dimakan, mau modus yaaa?” “Mah di mana presiden waktu ada demo 411 kemarin?” Eh… Maaf maaf, saya mulai ngelantur. Mungkin karena lapar.

Nah, saat ibu yang biasanya ingat segalanya mendadak berhenti sejenak di depan kulkas untuk mengingat-ingat apa yang hendak diambilnya tadi, itu adalah salah satu alarm tanda bahaya bahwa si ibu sedang butuh relaksasi.

4 Mendadak baperan

Kezel lihat suami istri posting foto romantis. Nyinyir lihat orang-orang posting foto makanan, tempat piknik, anak-anak mereka dll. Zebel sama status-status yang gak se-ide dengannya. Delcont,  unfolow, blokir. Mendadak melow tanpa alasan yang jelas. Pokoknya semua orang salah. Gak ada yang bisa mengerti aku. Aku gak bisa diginiin. Kalian semua jahat…

Adakah salah satu ciri di atas yang sedang anda rasakan Moms?

Jika ya, maka segeralah letakkan peralatan perang sehari-hari anda. Berikan jeda sesaat untuk diri anda. Relaksasikan jiwa dan pikniklah!

Ditulis oleh: Yoanita Astrid

Comments

comments

20 Comments

Ratih

Mbak, tulisannya bagus banget. Bahasa ibu seadanya jadi buat pembaca langsung paham. Ringan tapi bobotnya oke.
Dan, sebagai seorang ibu bekerja, saya setuju bahwa ibu RT lebih butuh PIKNIK 🙂

Reply
Mom reno

Persis sekali sama yg ku alami setahun yg lalu sampai skrg msh ada jejaknya ( kadang sakit kepala seperti kesemutan ) bolak balik ke dokter gak ada penyakit dalam. Tapi badan ini rasanya remuk, lemas, tdk semangat dll. Klu mau di bilang kurang piknik kyknya engga jg sih, tp memang penyakit psikis itu terkadang muncul sendiri. seperti kecemasan lah…

Reply
Hanita

Ya ampun mom.. aq baca artikel mu lha kok kayanya semua aq alamin.. hahahaha…pinter bgt nih gaya nulis nya.. sering2 ya mom bantu qta2 ungkapin isi hati.. hahahaha sukses selalu mom!!

Reply
Tiah

Cara penulisan yang bagus.. saya bacanya sampai ketawa2x sendiri hahaha.. dan sedihnya ternyata saya mengalami semua gejala2x BUTUH PIKNIK tersebut

Reply
Elly agustin

Mbak tulisannya bagus bgttt…
… Slalu Baper… Suami apa dikit ku marahin… Heheee…
Untung suamiku slalu ngertiin…

Reply
Bang yol

Dari awal sya sudah menduga spa penulisnya…
Pasti ibu2…
Ternyata dugaan itu benar adanya..hehe

Reply
Meita

Betul banget deh kalo lagi jenuh jenuhnya bawaannya sensitif mulu.. gampang banget marahnya, uring uringan.. wah, ini perlu ditunjukin ke si bapaknya anak anak sebagai kode keras

Reply
Rachma

keren mbak yoanita,,sangat menginspirasi saya yang sangat suka piknik,, kudu merengek2 suami kl udah jenuh pengen refreshing,,
solusi yang sangat tepat,PIKNIK !!

Reply
Nur

Sumpah tulisannya bgs bgt, saya sgt terhibur hanya dgn ngebaca tulisan mba tanpa harus PIKNIK .
Saat ngebaca ini saya sdg nyusuin bayi sy & saya ketawa cekikan, sibayipun berhenti menyedot & menatap sy dgn heran. Mungkin dia mulai menyadari bahwa mamanya kurang piknik .

Smangat nulis lg ya mba Yoanita astrid, sangat mengobati

Reply
Stevanny Pattipeilohy

hallo Bu Yoan, saya sukak gaya penulisan anda.
Betapa pentingnya piknik untuk dilakukan bagi para ibu mamud…heheheh..
Ditunggu tulisan2 lainnya.

Reply
taty

TUlisannya ngena banget…aku suka loh mbak baca tulisan kyk gini..jd stressnya dikit2 dah hilang dgn tulisan mbak..thank..

Reply
Sus liris woro

Bangeettt akunya…suami sering ngajak piknik, bilangnya biar mama gak bosen dirumah….tapiiii tetep aja bawa anak2…ya sama ajahhhh deh rempongnyaaaaa……piknik sendiri itu baru sesuatuuu banget…..iya nggak mom…

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *