Hati-hati! Trauma Masa Kecil Bisa Membekas Hingga Dewasa

Hati-hati! Trauma Masa Kecil Bisa Membekas Hingga Dewasa

Ini cerita teman saya, seorang perempuan lajang berusia 28 tahun bernama Dewi yang belum juga menikah. Kini, ia sudah mampu hidup mandiri dan tinggal terpisah dari orang tuanya. Hal paling penting yang bisa diceritakan dari teman saya itu adalah trauma masa kecil yang masih membekas sampai saat ini.

Trauma semasa kecil sangat sulit dihapuskan. Terutama jika pengalaman pahit itu dialami dalam usia belum matang antara 8 sampai 11 tahun. Tidak jarang, akibat tekanan masa kecil, masa besar seseorang diliputi perasaan frustasi yang dibawanya dari masa lalu. Terkadang orang itu bisa menangis hanya sebab mengenang masa kecil yang menyakitkan.

Teman saya ini besar di dalam keluarga yang Broken Home. Kedua orangtuanya sering bertengkar di depannya. Pertengkaran dua orang dewasa itu Dewi saksikan di depan matanya. Dulu ia sering menangis sendirian. Kondisi rumah yang tidak hangat benar-benar membuat Dewi frustasi.

Tidak berhenti di sana, perlakuan ibu Dewi pada dirinya juga tidak layak ditiru ibu manapun yang ingin memiliki anak hebat. Ibunya ini selalu membentak Dewi dan memberi perintah seenaknya. Tidak jarang, Dewi disuruh mencuci piring selepas maghrib saat gelap sudah turun.

Dewi kecil yang seharusnya belajar di jam-jam tersebut akhirnya menurut saja apa yang diperintahkan ibunya. Dewi selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap harinya.

Kalau ibunya sedang marah, Dewi kecil sering jadi sasaran ibunya. Dibentak dengan suara tinggi tanpa memperhatikan kalau saat itu Dewi sedang menggigil ketakutan. Parahnya lagi, marahnya itu hampir setiap hari. Dewi memang pernah bercerita kalau ia sering mendapat amukan dan amarah ibunya. Terdengar menyeramkan, sih.

Hasilnya, Dewi selalu berusaha menghindari ibunya. Ia lebih merasa nyaman jika bercerita dengan ayahnnya. Beruntung ayahnya seorang yang baik dan mau mendengarkan cerita-ceritanya. Meski kalau sudah membicarakan soal perlakuan ibunya, ayahnya hanya diam atau mengalihkan topik pembicaraan. “Ibu kamu itu baik kok,” begitu selalu jawaban ayahnya jika Dewi ingin curhat soal ibunya.

Ayahnya terkesan selalu berusaha menutup-nutupi fakta keadaan rumah tangga di hadapan anaknya. Padahal sudah jelas, Dewi sudah terlalu sering melihat pertengkaran kedua orangtuanya. Tetapi entah mengapa, ayahnya masih saja berusaha menutupi kenyataan pahit tersebut.

Dewi sendiri juga hampir tidak pernah berbicara dengan ibunya. Kalaupun ada, ujung-ujungnya pasti jadi ribut. Kalau sudah begitu, ia pasti lebih memilih diam di kamar sendirian daripada harus menemani ibunya yang sedang menonton tv di ruang tamu. Saya mencoba memahami jika berada di posisi Dewi, pasti sangat tidak enak dan sungguh tidak nyaman.

Mudah-mudahan saja hari ini sudah tidak ada lagi orang tua yang memperlakukan anaknya seperti itu.

Dewi kecil mengalami trauma berat saat ia dipukul ibunya. Sampai sekarang ia masih saja teringat kejadian-demi kejadian yang dulu dialaminya dan seperti jadi luka yang selalu menghantui kehidupannya. Ceritanya begini, selepas maghrib Dewi mencuci piring. Sebab ia sudah lelah usai seharian bersekolah, Dewi tidak berhati-hati dan memecahkan sebuah mangkok besar.

Mangkok besar itu hanya satu-satunya yang dimiliki keluarga. Tak disangka, ibu Dewi marah besar dan memukul Dewi di pipinya cukup keras. Dewi pun menangis merasakan kesakitan. Namun ibunya tak peduli, bukannya meminta maaf dan mendiamkan anaknya, ia malah tambah marah dan menantang Dewi untuk melanjutkan tangisnya sampai pagi.

Luka yang dirasakan Dewi memuncak pada saat perceraian kedua orangtuanya di saat ia berusia 11 tahun. Mungkin itu jalan terbaik bagi kedua orang tuanya yang selalu bertengkar, tetapi tidak untuk Dewi. Memang ibunya jahat, tetapi dengan perceraian ia jadi kehilangan sosok seorang ibu. Ya, Dewi ikut ayahnya yang tidak pernah mau menikah lagi. Fokus membesarkan Dewi yang saat itu jadi anak pendiam, murung, dan malas bergaul.

Hingga saya mengenal dirinya di kantor, Dewi adalah sosok orang yang temperamental, mudah marah jika diperlakukan kasar sedikit saja. Bukan berarti Dewi jadi sosok yang berani, karena sebenarnya ia merasa ketakutan jika ada seseorang yang berkata padanya dengan nada tinggi. Sampai saat ini Dewi hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang masa lalu.

Saya sendiri lambat laun jadi mengenal siapa Dewi. Kami bersahabat karena berada di satu desk. Seiring berjalannya waktu Dewi banyak bercerita pada saya. Termasuk juga pengalaman masa kecil yang saya ceritakan di atas.

Sebenarnya Dewi anak yang baik. Dia selalu berusaha keras menghapus kenangan pahit di masa lalu dan berusaha jadi sosok baru yang hangat dan perhatian tanpa peduli betapa buruk masa kecilnya. Ia mencoba terus belajar untuk melupakan kekerasan di dalam rumah yang pernah ia tinggali dulu.

Sejak masa kuliah, ia putuskan untuk melepas komunikasi dengan kedua orang tuanya. Baik ayah apalagi ibunya. “Ayahku memang baik, tetapi aku lebih suka hidup sendiri,” kata Dewi.

Hingga akhirnya ia pergi ke Ibukota dan menemukan kehidupan baru di sini. Tentu ia seorang pekerja keras yang tahan banting. Perempuan paling tangguh yang pernah saya kenal. Tetapi di balik ketangguhan yang ia perlihatkan, sesungguhnya Dewi begitu rapuh seperti kaca retak yang jika disentuh sedikit saja akan pecah. Dewi adalah sosok yang sangat tertutup.

Dewi menjalani hidupnya seperti itu. Berjalan pelan sambil menggotong beban berat masa lalu. Perlakuan orang tua yang buruk selalu meninggalkan luka yang membekas sampai dirinya dewasa. Saya hanya berusaha menjadi teman terbaik bagi Dewi, sebab kehidupan masa kecil saya jauh lebih bahagia dibandingkan dengan hidupnya.

Ia mengajarkan saya untuk berani hidup mandiri. Bukan berarti saya akan putus hubungan dengan orang tua seperti halnya Dewi.

Di sisi lain, Dewi yang pendiam itu hanya memiliki sedikit teman. Sulit diajak berinteraksi dengan orang lain kecuali ia benar-benar sudah kenal dan merasa nyaman. Ia benar-benar tidak suka diteriaki apalagi dibentak. Ia juga tidak tahan mendengar nada suara yang tinggi. Sebab semuanya itu akan mengingatkannya kembali pada bayang-bayang kekerasan yang pernah dilakukan ibunya.

Dewi juga masih memegang pendirian untuk tidak menikah. Ia tidak pernah mau memiliki pacar sampai saat ini meski tidak sedikit yang jatuh hati padanya. Ia takut menikah dan takut kejadian di masa kecilnya terulang kembali.

Bagi dewi, pernikahan adalah penjara yang menghasilkan pertengkaran antara suami dan istri setiap hari.

Untuk soal ini, saya benar-benar belum menemukan solusi bagi Dewi. Sampai kapan dia akan memendam perasaan sakit yang terus saja digotongnya kemana-mana. Menjadi sosok tertutup yang sulit menerima kehadiran orang baru dalam hidupnya.

Masa kecil adalah kunci bagaimana seseorang menjadi dewasa kelak. Apabila anak-anak diberi pengalaman pahit dan menyakitkan, hal itu akan membekas dalam dirinya sampai dewasa. Jadi trauma dan luka yang akan selalu menghantui hidupnya.

Jika anda memiliki seorang anak, perlakukan mereka dengan baik. Jangan dibentak apalagi sampai dipukul keras. Rasa sakit akibat dipukul memang sebentar, tapi traumanya akan terus berlanjut sampai berpuluh-puluh tahun ke depan.

Comments

Close Menu