Hidup Seperti Apa yang Kita Inginkan

Published by Ade Mulyono on

Tuturmama Menjalani hidup seperti apa yang kita inginkan akan lebih baik daripada menjalani hidup seperti apa yang orang lain inginkan.

Suatu sore dalam obrolan santai, seorang teman mengajukan pertanyaan yang mengganggu pikiran saya, “Kapan akan menikah?” Walau saya mengerti pertanyaan semacam itu terbentuk oleh pengaruh kebudayaan yang didorong oleh teologi; bahwa hidup harus menikah, beranak-pinak, dan pada gilirannya tinggal menunggu mati, pertanyaan itu tetap membuat saya kepikiran.

Paling tidak itulah standar hidup yang sebagian orang teguh memegangnya. Sadar atau tidak, percakapan di ruang publik dikepung bahasa teologis. Jika meminjam renungan Louis Althusser, maka segala bentuk perilaku kehidupan adalah ideologi mulai dari makan hingga memilah pakaian.

Satu pertanyaan sederhana yang membuat saya berpikir ulang, “Hidup seperti apa yang kita inginkan?” Jika pertanyaan itu saya layangkan kepada seorang tetangga di kampung—yang setiap hari menghabiskan waktunya di sawah dan hutan, maka jawabannya tidak akan jauh berbeda dengan mereka yang senasib sepenanggungan: kecukupan. Artinya ada sesuatu yang dapat mereka makan. Walaupun tidak pernah pergi ke mal, tidak pernah melihat laut, dan tidak pernah melihat kantor gubernur.

Puisi Gambaran Kehidupan di Bumi

Kata ‘cukup’ di benak orang di kampung atau kelas menengah bawah tentu berbeda ukurannya dengan kelas menengah atas yang hidup di kota. Bagi orang yang hidup di kampung asal ada sesuatu yang bisa untuk makan siang dan sore sudah lebih dari cukup (meski lauknya ikan asin dan sambal). Terlebih jika makanan itu bukan dari hasil meminjam uang tetangganya.

Hidup Seperti Apa yang Kita Inginkan

Pada akhirnya, masalah mendasar dari kita atau bahkan seluruh umat manusia ialah materialisme. Di dalam konteks ini saya setuju dengan dalil Karl Marx, bahwa bukan kesadaran yang membentuk struktur sosial-ekonomi, melainkan struktur ekonomilah (realitas material) yang membentuk kesadaran manusia (masyarakat).

Lalu, apakah masalah terbesar dalam hidup kita adalah ekonomi? Paling tidak ekonomi adalah fondasi yang paling dasar dalam kehidupan. Kata ‘cukup’ terucap secara eksplisit oleh temanku, bahwa ia tidak ada urusan dengan hiruk pikuk politik, korupsi, demokrasi, dan kebebasan. Peduli apa dengan semua itu.

Tentu saya tidak bisa memukul rata bahwa semuanya mempunyai cara pandang seperti itu. Pendeknya, ia hanya ingin hidup tenang dan perut selalu kenyang.

‘Hidup sesungguhnya sederhana, yang hebat hanya tafsirannya’ seperti kata Pramoedya Ananta Toer. Apakah benar pernyataan itu? Kemarin anggapan itu bisa saja benar dan hari ini bisa saja salah.

Hidup, menikah, beranak pinak, dan mati. Apakah sesederhana itu menjalani hidup yang ‘sederhana’? Itu pun tidak akan sesederhana yang kita bayangkan. Ada pergulatan politik, sosial, dan budaya yang saling mengamputasi.

Kehidupan Rumah Tangga Tidak Selalu Berjalan Mulus

Akhirnya saya mengerti, bahwa persoalan ‘kesadaran naif’, bahkan cenderung oportunis dan pragmatis dari jawaban temanku, tidak lain ialah sebuah jawaban yang merepresentasikan pikiran masyarakatnya (kendati tidak semuanya). Hal itu seharusnya bisa dibatalkan jika dari awal ekonomi menunjang hajat hidupnya. Setidaknya ia dapat mengakses pendidikan lebih tinggi yang memungkinkan adanya open minded: jangkauan pengetahuan (critical awareness) guna memenuhi keingintahuannya.

Standar Moral untuk Hidup Seperti yang Kita Inginkan

Dengan cara itu pula ia dapat menginterupsi hal yang tidak sesuai dengan akal pikirannya atau yang selama ini membuatnya keliru dalam memandang persoalan hidup. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Tidak adanya pemikiran kritis (mode of thought) di masyarakat kelas sosial menengah-bawah menyebabkan kesederhanaan dalam berpikir dan bertindak.

Dampaknya ialah masyarakat jauh dari tindakan praktik. Misalnya begini, ada seseorang di kampung yang hidup puluhan tahun lamanya bekerja sebagai buruh tani, tukang becak, ojek pangkalan, guru honorer, dan pekerjaan serabutan lain tanpa ada perubahan nasib. Pertanyaannya, ada apa dengan kehidupan kita ini? Hidup seperti apa yang kita inginkan? Apakah pekerjaan itu kemauan sendiri atau bentuk kepasrahan terhadap kehidupan?

Tentu jawabannya bisa sangat politis, teologis, bahkan filosofis. Ringkasnya subjektif. Tentu Anda bisa mengatakan kita merindukan hidup dengan syariat agama (konservatisme), yang lain bisa juga menginginkan kita merindukan hidup dengan menghargai segala bentuk privasi orang lain tanpa mencampurinya (liberalisme) atau yang lain bisa mengatakan kita merindukan hidup yang setara dalam pelbagai aspek terutama keadilan sosial (sosialisme).

Akan tetapi, dengan melihat realitas sosial yang terjadi di masyarakat, manusia hanya pasrah pada kehidupan dan bersikap dalam bentuk yang fatalistik dengan menganggap segala sesuatunya ialah takdir yang sudah digariskan. Sementara itu di sisi lain, alam ‘kesadaran naif’ masyarakat menganggap setiap persoalan hidup yang menimpa dirinya bersumber dari diri mereka sendiri, bukan dari luar diri mereka.

Memaknai Kehidupan

Pernyataan ‘hidup harus menikah’ menjadi pernyataan umum—yang dengan sendirinya menjadi pengaruh budaya dalam masyarakat. Kita sebagai manusia pada akhirnya tidak bisa memaknai kebebasan yang kita pilih dan menjalani hidup seperti yang kita inginkan.

Manusia menerima pemaknaan hidup yang terbentuk dari budaya dan teologi, dalam hal ini tidak lain adalah agama. Kita tidak bisa menghindar dari kungkungan kebudayaan-teologis itu. Akhirnya kita kehilangan jati diri dalam memaknai kehidupan.

Makna Sebuah Keluarga dalam Kehidupan

Namun, jika kita sepakat bahwa pengalaman itu bersifat eksistensial, maka pilihan hidup untuk menikah atau tidak menikah ialah pengalaman eksistensial manusia. Tentu dengan syarat manusia bebas menentukan pilihan hidupnya dan memaknai sendiri pilihan hidup itu. Jika menyerahkan seluruh pemaknaan hidup pada aturan kebudayaan dan dogmatisme teologi, jelas pemaknaan hidup harus menikah ialah keniscayaan.

Konsekuensi dari pemaknaan pernikahan sesuai norma budaya berarti ikatan pernikahan bersifat heteroseksual. Itu terjadi karena hanya heteroseksual sebagai satu-satunya pemaknaan pernikahan yang masyarakat pahami. Jika kita undang pemikiran queer, jelas pemaknaan pernikahan akan menjadi ‘polemik’ terkait hubungan seksual dan identitas.

Dalam pemaknaan pernikahan sesuai budaya, ada ruang kekuasaan yang lebih pada budaya patriarki—yang hanya dapat memaknai pengalaman seksual, yakni relasi antara laki-laki dan perempuan. Di sisi lainnya pengalaman non-heteroseksual atau relasi seksual yang bersifat satu jenis tidak bisa bermakna pernikahan dalam pengetahuan umum.

Akibatnya pemaknaan pernikahan harus sesuai dengan ketentuan budaya dan juga agama. Di sinilah persoalan-persoalan untuk hidup bersama seperti apa yang kita inginkan menyeruak ke permukaan.

Keadilan, Hidup yang Kita Inginkan

Arti hidup bersama seperti apa yang kita inginkan ialah tentang persoalan keadilan. Pertanyaannya, keadilan versi siapa yang dapat kita jadikan standar moral? John Rawls, Sandel, Nozick yang libertarian, Karl Marx, atau John Stuart Mill yang utilitarianisme?

Keadilan hanya salah satu persoalan di antara banyak masalah yang kita pertanyakan ulang ‘hidup seperti apa yang kita inginkan’. Tentang radikalisme yang belakang ramai kita bicarakan misalnya. Saya justru skeptis melihat tumbuh suburnya radikalisme belakangan ini karena faktor agama.

Kita tidak pernah ingin melihat fakta lain. Agama menjadi obat penenang bagi mereka yang tertindas secara ekonomi. Agama menjadi pelarian semacam harapan untuk menggapai kebahagiaan di ujung (surga). Mungkin juga bahasa radikalisme yang terus menerus penguasa narasikan tiada lain untuk menutupi ekonomi yang tidak bertumbuh? Dan demokrasi yang terus terpuruk?

Jika benar radikalisme mengintai ruang publik kita, seharusnya dari awal pemerintah melihat gejala itu dengan metodologis, bahwa radikalisme dan teror(isme) hanya dapat ditangkal oleh rasa keadilan, ekonomi, dan pendidikan.

Begitu pula kekerasan yang terjadi di Papua dan Wamina (2019). Apakah standar moral menjadi warga negara Indonesia harus tegak lurus ketika membicarakan nasionalisme dengan pendapat negara? Yang terjadi negara tidak sama memandang mereka yang berbeda.

Sepatutnya, negara harus sama memandang warga negara yang berbeda. Nasionalisme harus setara dengan keadilan. Bahwa negara harus membuka akses warga negara yang berbeda. Pengetahuan tentang nasionalisme bisa tumbuh dalam waktu 24 jam, dan cara pandang negara masih dengan paradigma tahun 1950.

Prinsip Universal

Soal lain yang juga tak kalah mendesaknya. Ada sebagian individu bahkan kelompok di masyarakat yang mempercayai prinsip universal. Seperti penjelasan di atas, struktur ekonomi memengaruhi cara pandang atau kesadaran seseorang. Bagi saya prinsip universal tidaklah mutlak, bagaimanapun juga prinsip universal tidak mungkin sama di antara setiap individu atau orang yang pada dasarnya hidup penuh dengan keberagaman.

Setiap individu dari setiap warga negara mempunyai prinsip universalnya masing-masing. Artinya, kita tidak bisa memutuskan prinsip umum tiap-tiap individu. Tidak ada prinsip yang sama. Akan tetapi, setiap individu mempunyai prinsipnya sendiri.

Lalu, apakah pertanyaan temanku yang menuntut bahwa hidup harus menikah ialah sebuah keniscayaan? Apakah seseorang yang menghabiskan waktunya untuk bekerja tanpa ada peningkatan kualitas hidup ialah bentuk keterpaksaan, keterasingan, atau keputusasaan? Hidup seperti apa yang kita inginkan?

Hidup sesuai prinsip masing-masing.

Sumber Gambar: flickr.com


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dhankasri hindisextube.net hot bhabi naked rebecca linares videos apacams.com www tamilsexvidoes lamalink sexindiantube.net chudi vidio sex mns indianpornsluts.com hd xnxxx shaving pussy indianbesttubeclips.com english blue sex video
savita bhabhi xvideos indianxtubes.com xxx bombay live adult tv desitubeporn.com mobikama telugu chines sex video indianpornsource.com video sex blue film sex chatroom indianpornmms.net old man xnxx aishwarya rai xxx videos bananocams.com sex hd
you tube xxx desixxxv.net xossip english stories sanchita shetty pakistaniporns.com mom sex video cfnm video greatxxxtube.com sex marathi videos mmm xxx indianpornv.com sexxxsex xvideosindia indianhardcoreporn.com ajmer sex video