Hikmah yang Bisa Didapatkan Suami Saat Mengantar Istri Berbelanja

0
515

Sejak masih kecil bagi saya perkara baju itu tidak penting-penting amat. Saya amat sangat jarang sekali membeli baju sendiri, maksudnya memilih sendiri. Kebanyakan baju di almari adalah hasil pilihan ibu atau kakak perempuan saya dan “baju seragam kepanitiaan” yang bisa dipakai sehari-hari.

Saya bukan tipe yang fashionable. Baju dan celana yang saya pakai kadang tidak sesuai dengan standar baku, bahkan memakai kemeja yang sesuai standar etiket pria sejati pun saya kurang paham.

Urusan pakain saya lebih mengikuti mahzab Mark Zuckeberg, yang konon katanya hanya memakai satu stel jenis pakaian untuk sehari-hari; kaos dan jeans. Alasannya biar tidak ribet mikirin baju.

“Urusanku kie alam semesta je, mosok gara-gara klambi wae mumet. Makane nganggo koyo ngene wae. Simpel. Wong sugih kan bebas,” mungkin kira-kira begitu alam pikirnya si Mark.

Walau alasannya agak berbeda tapi saya sependapat dengannya. Meski sebenarnya yang terjadi adalah karena saya tidak cukup kelebihan duit dan tidak paham selera fashion.

Tapi tentu soal baju ini bisa berbeda dengan mahkluk yang namanya wanita.

Saya baru menyadari hal itu saat mengantar istri untuk berbelanja baju di Muslim Fair. Rencana awal di rumah sudah kami tetapkan; membeli gamis. Namun kita hanya bisa berencana, istri pula yang menentukan.

Di expo itu sebenarnya berjejalan orang yang menjajakan fashion muslim. Gamis-gamis, krudung dan baju koko dipajang untuk menarik para pengunjung. Pun ditiap stand selalu tampak keramaian orang untuk sekadar melihat-lihat, dan tak jarang juga bertransaksi.

Kalau pikiran pria sih simpel, kunjungi salah satu stand. Pilih yang paling pas. Bayar. Lalu pulang.

Tapi tampaknya urusan baju bagi seorang wanita bisa lebih njlimet.

Sore itu saya mesti berkeliling terlebih dahulu. Mengunjungi dan melihat satu stand ke stand berikutnya. Setelah itu, ulangi lagi. Melihat-lihat, nanya-nanya harga. Lalu setelah itu, muter lagi. Lihat-lihat lagi.

Hasilnya; tidak jadi beli !

Kok bisa?

“Gak ada yang cocok,” kata istri.

“Lah tadi yang katanya bagus di stan itu?”

“Di rumah kan sudah ada warna hijau. Sama. Mau nyari yang warnanya beda kan.”

Masya Allah, puluhan stan, ratusan baju, ratusan model dan satu pun tidak ada yang berkenan di hati. Tidak ada yang pas. Tidak ada yang cocok. Dan pulang dengan tangan hampa.

Kok bisa? Saya sendiri masih tidak habis pikir. 

Tapi begitulah mahkluk yang bernama wanita. Mungkin kita mesti memahami bahwa memang ada perbedaan cara pandang antara suami dan istri. Hal-hal yang kadang dianggap sepele oleh suami, bisa jadi menjadi sebuah hal amat penting bagi seorang istri. Dan sebaliknya.

John Gray, orang yang mengatakan kalau pria dari Mars dan wanita dari Venus dalam bukunya, bila pria dan wanita mampu menghormati perbedaan-perbedaan mereka, cinta memiliki kesempatan untuk lebih bertumbuh. Karena ada perbedaan ini merupakan sifat dasar, maka benturan yang terjadi bukanlah karena mereka jahat, namun hanya berbeda. Nah, jika hal ini dapat diolah dan masing-masing menghormati perbedaan yang menyebabkan benturan itu, cinta yang telah ada berkesempatan untuk berkembang terus.

Salah satu perbedaan diantara pria dan wanita adalah ketika pria melakukan komunikasi, mereka ingin to the point, dan umumnya hanya ingin mendengarkan jika mereka merasa percakapan memiliki point penting. Perempuan menikmati berbicara untuk kepentingan diri sendiri, dan senang mendengarkan tanpa melihat situasi.

Maka sangat wajar bila seorang istri cenderung lebih ribet pada hal-hal yang seringkali dianggap sepele oleh para suami. Tak ada yang perlu diubah dari hal itu. Yang perlu dilakukan hanyalah memahaminya.

Cobalah mengerti, kata sebuah lagu.

Lantas bagaimana cara memahaminya?

Bicara. Ya, bicara. Hanya dengan bicara apa yang dimaksud dalam hati bisa tersampaikan. Hanya dengan bicara apa yang ada dalam pikiran bisa terkomunikasikan. Manusia adalah mahkluk verbal yang dikaruniai kemampuan bicara.

Lalu bagaimana memulai bicara?

Simpel saja. Contohlah iklan itu, bisa kita awali dengan mari ngeteh, setelah itu mari bicara. Namun jangan pernah lupa bahwa seni dalam berbicara tidak terletak pada kemampuan meyakinkan orang lain lho. Saling bicara bukan sekadar mendikte orang lain. Tapi yang namanya “saling” itu harus ada timbal balik. Artinya kalau “saling bicara” juga meniscayakan “saling mendengar.” Kalau yang bicara suami terus atau istri mulu itu ya namanya bukan saling bicara, bukan ngobrol, tapi pidato.

Jadi, gak kapok ngantar istri belanja kan?

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here