Ibu Ditinggal Suami Tidak Boleh Bersedih, Cukup Anak yang Jadi Penggantinya

Ibu Ditinggal Suami Tidak Boleh Bersedih, Cukup Anak yang Jadi Penggantinya
Ilustrasi (Pixabay.com)

Lantas bagaimana dengan  masa tumbuh kembangnya? Akankah anak berbeda hasilnya tanpa dampingan dari seorang  ayah? Apa sekolah saja bisa membuat anak menjadi lebih perkasa, hebat, dan selalu tangkas setiap harinya?

Pertanyaan itu mungkin akan terbesit di pikiran, dan pasti obrolan batin seorang ibu yang baru berpisah dengan ayahnya, baik karena perceraian maupun panggilan Tuhan yang tidak bisa dicegah atau sebab lainnya.

Saya yakin, di balik itu semua Yang Maha Kuasa akan memberikan sepercik cahaya tersembunyi  yang akan Tuhan perlihatkan pada saya bersama keluarga kecil saya.

Tuhan sendiri bilang, tidak akan memberikan ujian atau cobaandi luar batas kemampuan manusia. Saya percaya dengan itu semua, saya berpijak dengan satu prinsip hidup yang sudah Tuhan titahkan dalam kitab sucinya.

Siapa lagi yang akan saya percaya untuk menuntun pada jalan yang baik, kecuali padanya. Suami sudah pergi meninggalkan saya entah ke mana. Tapi hal itu semua tidak membuat saya lemah dan takut untuk menjalani hidup.

Baca juga :

Kisah Rumah Tangga yang Hancur karena Suami Kebablasan Main Instagram


Terima Kasih Ibu, Sudah Membesarkanku dengan Baik


Tentukan Masa depan Anak di Pagi Hari

Bagi saya, suatu hal yang paling berharga hari ini adalah menikmati usia tua menjadi ibu bersama Bima anak semata wayang. Di mana hari ini, besok, lusa, dan mungkin hari seterusnya tidak akan mengenal ayahnya lagi, kecuali ia hanya mendengar cerita dari teman-temannya yang lain, bahwa ada ayah yang hebat dan kuat, yang selalu bercerita “tentang kancil dan buaya.”

Nasib seorang istri yang ditinggal suami dengan sendirinya akan memaksa ia untuk hidup mandiri atau bangkit dari keterpurukan demi masa depan anaknya, jumlah itu tidak sedikit jika kita amati di Indonesia.

Sedikit mengulas dari artikel yang saya baca dari Tirto.id, ada sekitar 11,8 juta orang tua tunggal di Indonesia. Saya yakin mereka semua adalah orang tua hebat dan kuat. Mungkin salah satunya adalah saya, he he..

Data itu tidak membuat saya pada akhirnya ciut, saya sendiri akan membuktikan jika saya bisa membuat Bima menjadi anak yang berprestasi, tidak akan gagal menjadi orang yang terganggu emosinya karena ditinggal ayahnya.

Walaupun orang tua saya memaksa untuk kembali menikah dengan alasan supaya Bima ada yang memikirkan atau lebih pasnya ada yang bisa menafkahinya.

“Alina, kamu masih muda, kamu masih cantik, pasti banyak orang yang suka sama kamu untuk menikah lagi, kasian kan Bima,” demikian yang sering disampaikan kedua orang tua saya.

Ia merasa kasihan setiap hari melihat saya  sibuk dan selalu sibuk mengurusi banyak pekerjaan rumah tangga. Memang bisa dibilang sekarang saya merupakan kepala keluarga, mengingat usia serta tenaga ayah dan ibu yang sudah tidak sekuat waktu dulu.

Tapi ibu lupa, jika hati dan nurani seorang ibu lebih khawatir dan waswas pada anak-anaknya. Tanpa harus ada orang lain yang menyuruh memikirkan anak, dengan sendirinya seorang ibu akan selalu memikirkan anaknya.

Tapi tekad saya sudah bulat, saya belum mau memutuskan untuk menikah lagi, saya hanya ingin hidup bahagia bersama keluarga kecil saya.  Saya meyakini jika anak adalah hal paling penting yang harus saya utamakan daripada menikah lagi. Saya takut jika ada lelaki yang mau menikahi saya, ia hanya bisa mencintai saya dengan tulus tapi hatinya masih berat untuk bisa menyayangi anak saya, Bima.

Hal paling mendasar yang menjadi alasan saya kenapa saya berani menjadi orang tua tunggal tidak lain supaya saya bisa menciptakan lingkungan yang nyaman buat dia. Bukannya dari sejak dulu ibu adalah guru terbaik buat anak-anaknya, itu karena ia yang mengajarkan kasih dan cinta sesungguhnya.

Intinya adalah, kehebatan anak tergantung pada lingkungan yang baik. Hal ini bisa ia dapatkan di beberapa tempat, pertama bisa di sekolah . Di situ ia akan  menemukan tempat bermain yang dapat menciptakan perkembangan kondisi intelektualnya, dan pada kenyataannya menjadi anak yang kritis. Selain mendapat pelajaran, di sekolah ia pun akan menemukan kecerian bersama teman sebayanya.

Bagi saya sebagai ibu, anak akan hidup di masa depan, bukan hidup bersama ayah maupun ibunya, melainkan pada lingkungan yang baru. Sebab itu kenapa ia harus sekolah.

Berikutnya adalah rumah. bersama ibu, nenek dan kakeknya. Di sana emosi akan terbangun dengan kuat, ada kasih sayang yang kuat, motivasi hidup yang kuat dan hal lainnya. Kalau saya, kunci suksesnya cuma percaya pada madu anak Gizidat sebagai teman yang baik setiap saat.

Thanks Gizidat karena telah menjadi ayah yang baik buat Bima !!

Comments