Ibu Ingin Cepat Pulang, Nak

0
45

Matahari perlahan menuju ufuk barat. Mobil-mobil mulai mengular di jalanan. Angka penanda waktu di handphone sudah menunjukkan pukul lima sore. Pada jam-jam inilah jalanan Jakarta berubah menjadi arena perebutan laju kendaraan.

Ribuan kendaraan berjejalan dalam jalan raya yang terasa makin menyempit. Walaupun sebeanrnya dari dulu lebar jalan hanya segitu saja, tapi jumlah kendaraan selalu saja bertambah saban harinya. Membuat kemacetan menjadi hal rumit untuk diselesaikan.

“Sebentar lagi maghrib, saya sudah harus sampai rumah,” batin saya.

Tapi yah beginilah situasi Jakarta. Inginya sih ngebut namun apa daya, mau ngebut dengan motor milik Jorge Lorenzo pun tidak akan bisa dalam situasi macet.

Walaupun badan masih di jalanan, namun pikiran saya sudah sampai di rumah.

“Kira-kira Faraz lagi ngapain ya? Tadi siang dia sudah makan belum ya?” batin saya.

Sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu, bagi saya, pulang malam pun tak masalah. Namun kini, walaupun masih tetap menjadi seorang mahasiswa, pulang sore rasanya sudah kangen sekali dengan rumah.

Maka menjadi seorang ibu yang sekaligus menempuh pendidikan tinggi adalah sebuah hal yang istimewa. Ini menjadi episode kehidupan yang benar-benar berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.

Setiap saat saban pulang kuliah, saya selalu saja berkata pada diri sendiri.

“Ibu ingin cepat sampai rumah, Nak. Bercengkerama lagi denganmu.”

Saya juga selalu saja ingin berkata;

Selamat sore, Nak..

Maaf ya, Ibu baru saja dari menuntut ilmu. Agar lebih menjiwai kemanusiaan diri dan berharap lebih piawai menjadi ibu yang mampu mengenalkan arti dan tujuan hidup padamu.

Maaf ya, Nak. Ibu ingin menjadi ibu yang bisa kau banggakan. Bisa mengajarimu berbagai macam pengetahuan agar kau makin mengerti tujuan hidup manusia. Mohon keikhlasanmu ya, Nak. Agar Allah juga meridhoi langkah ibumu ini.

Bagaimana harimu, Nak?

Hari ini, apa saja yang masuk kedalam kepalamu? Ke dalam hatimu? Ke dalam jiwamu?

Apakah kamu bahagia? Apakah hari ini kamu belajar mandiri?

Maaf ya, Nak.

Ibu mungkin beberapa jam tak bisa menghabiskan waktu bersama denganmu. Bermain denganmu. Atau ngobrol seru dan membacakanmu buku-buku cerita yang tempo hari kita beli bersama.

Tapi doa ibu tak pernah putus. Agar dikala ibu tak disampingmu, engkau selalu dijaga oleh Sang Maha Penjaga.

Semoga Allah menyayangimu dan memastikanmu selamat jiwa dan raga.

.

.

Oleh: Mama Agustin, tinggal di Jakarta.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here