Ini 5 Prinsip Mendidik Anak Balita yang Perlu Diketahui Para Ibu

Ini 5 Prinsip Mendidik Anak Balita yang Perlu Diketahui Para Ibu

Berita itu mengatakan ada seorang guru yang dilaporkan ke polisi oleh orang tua murid. Alasannya karena ia mencubit anak. Si Guru beranggapan bahwa anak itu tidak mau disuruh sholat seperti teman-temannya yang lain. Si anak kemudian melapor pada ayahnya, dan si ayah melapor pada polisi.

Sudah berhari-hari kabar itu berseliweran di beranda media sosialku. Pun sudah banyak yang berpendapat pro dan kontra.

Banyak yang membela si guru, tapi tak sedikit pula yang membela si wali murid. Sebenarnya urusan itu simpel saja. Tak perlu dibuat rumit.

Kebanyakan dari kita, juga termasuk aku, saat memasukkan anak ke sekolah berpikir orang tua menyerahkan sepenuhnya urusan mendidik anak pada sekolah. Mungkin sebagian orang tua berpikir, “Kan saya sudah bayar mahal ke sekolah, saya ingin anak jadi cerdas dong.” Saat anak nakal, gurulah yang dikomplain. Saat nilai anak jelek, gurunya yang disalahkan.

Lalu ia abai untuk mendidik anak. Padahal kewajiban mendidik anak itu sebenarnya ada ditangan orang tua bukan pada guru.


Mendidik anak, kata Jenny Gichara, bukanlah sembarang mendidik, melainkan memberikan waktu, cinta, dan raga sepenuh hati serta jiwa untuk meningkatkan pertumbuhan fisik dan mentalnya di kemudian hari.

Lalu bagaimana mendidik anak, apalagi yang usianya masih balita?

Ada banyak cara. Namun menurutku ada beberapa prinsip.

Pertama, belajar konsisten.

Ajari anak untuk mulai bersikap konsisten sejak dini. Misalnya jam berapa untuk mandi, jam berapa untuk tidur, jam berapa untuk bermain.

Makanan apa yang boleh ia makan, apa yang tidak boleh. Belajar konsisten ini memerlukan kerja sama antara ayah dan ibu. Jangan sampai saat ibu mengatakan “ini tidak boleh” lalu anak kemudian merengek pada ayahnya, dan ayah membolehkannya.

Bila anak melanggar, berikan konsekuensi ringan pada anak. Berikan teguran halus agar anak mengerti. Ini akan memudahkan anak untuk diajak kerjasama sehingga orang tua tidak terkesan memerintah atau menghukum.

Kedua, menghabiskan waktu bersama.

Usia 1-3 tahun merupakan usia emas. Masa perkembangan kecerdasan emosional yang pesat, sehingga anak usai ini membutuhkan curahan kasih sayang dan perhatian orang tua.

Habiskan waktu untuk bermain bersama anak, bercerita pada anak, jalan-jalan, dan kegiatan lainnya.

Ketiga, berikan bantuan kepada balita seperlunya saja.

Banyak orangtua yang menganggap bahwa balita belum bisa melakukan banyak hal sehingga orangtua akan cenderung menawarkan bantuan kepada anaknyadalam melakukan sesuatu. Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun akan lebih baik jika orangtua membatasi penawaran bantuan tersebut agar anak bisa mulai belajar mandiri sedari dini.

Keempat, sabar dan perhatian

Sabar, namanya juga masih balita. Kita memerlukan hati yang penuh rasa sabar, ingatlah bahwa kita sedang menghadapi anak yang usianya masih dibawah lima tahun.

Saat anak sudah diberitahu satu kali agar tak melakukan suatu hal, lalu ia mengulanginya lagi; maka bersabarlah. Ulangi lagi untuk menasehati anak.

Saat anak bermain-main dengan makanannya, atau bermain-main dengan pakaian yang telah dilipat; sabaaar. Gunakan saja momen itu untuk mendidiknya makan dengan benar, dan membantu ibu melipat baju.

Kalau anak susah makan, bunda bisa gunkan tips ini saja. Tips Agar Anak Lahap Makan

Kelima, pengertian dan keteladanan.

Jangan menjelaskan pada anak dengan bahasa mahasiswa. Saat anak bertanya tentang sesuatu, jelaskan dengan bahasa yang mudah ia pahami dan mengerti. Balita belum bisa berpikir logis seperti kita. Orang tua yang mesti dituntut untuk lebih pintar dan kreatif untuk menjelaskan hal-hal sehari-hari pada anak.

Begitulah, mendidik anak bukan semata tugas guru. Tapi yang lebih penting itu adalah kewajiban orang tua. Jangan salahkan guru bila anak tidak sesuai keinginan orang tua, tapi teliti dan evaluasi bagaimana kita mendidiknya sejak kecil.

Mengakhiri tulisan ini, aku jadi ingin mengutip kalimat dari Jenny Gichara, bahwa “sesungguhnya orang tua perlu tahu bahwa mendidik anak merupakan bentuk tanggung jawab kepada Tuhan, bukan semata karena tuntutan pernikahan.”

Happy parenting yaa… ^_^

.

.

Oleh: Rini Kusuma, Asal Jogja.

Yuk, follow Line Tutur Mama yaa di Line@ Tutur Mama: Line Tutur Mama.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu