Ini Alasan Kenapa Menunggu Istri Itu Bisa Seperti Antri Sembako. Lama Nian Oi..

0
414

Menjadi kaum Adam yang konon katanya berasal dari Planet Mars tentu saja punya cara pandang yang berbeda dari Kaum Hawa yang Planet asalnya adalah Venus. Padahal tentu saja, di Mars dan Venus sampai detik ini sudah terbukti tidak pernah ditemukan kehidupan.

Tapi tentu saja itu cuma perumpamaan. Bahwa yang namanya laki-laki itu pola pikirnya cenderung simpel dan praktis, tapi kalau perempuan katanya cenderung ribet dan rumit.

Ada yang mengatakan kalau itu cuma mitos, ada juga yang mengatakan kalau itu ilmiah. Entahlah mana yang benar, mau mitos atau ilmiah yang jelas hal itu terbukti empiris di kehidupan sehari-hari.

Misalnya yang dialami oleh seorang suami dalam cerita dibawah ini.

Seorang suami yang tidak mengerti pekerjaan rumah tangga sedang menunggu istrinya masuk mobil. Mereka akan mudik ke kampung halaman pada libur akhir tahun ini. Si suami sudah menunggu 25 menit lebih tetapi istrinya belum keluar rumah juga.

Dia agak panik sebenarnya tetapi memilih tetap berada di mobil. Suami yang bingung akhirnya membuka gadget dan membuka media sosial untuk mengusir rasa bosan. 15 menit sudah berlalu tetapi belum ada tanda-tanda sang istri keluar rumah.

Ia mulai khawatir dan berniat masuk ke rumah. Tetapi, sebelum melaksanakan niat itu, sang istri kelua rumah lalu masuk ke mobil. Perasaan khawatir yang sedari tadi hinggap di hati suami lenyap seketika.

Sambil melihat istrinya yang keringetan dan terburu-buru, suaminya heran, habis ngapain aja si istri ini? Dia pun bertanya, “Kamu habis ngapain aja, Ma. Kok lama banget.”

Bukannya langsung menjawab, si istri justru memandang aneh pada suami, seperti agak jengkel dengan pertanyaan tadi. Lalu sebentar kemudian, sang istri menjawab dengan suara ketus.

“Aku tadi tuh ya, pah. Matiin lampu kamar kita. Matiin juga lampu kamar anak-anak. Nyabut colokan listri TV. Nyabut colokan listri dispenser. Matiin Wi-FI. Nyabut charger hape dan beresin satu per satu, biar rapi. Matiin kipas angin yang masih nyala, matiin kran di kamar mandi.

Lalu aku ke dapur, ngecek kompor masih nyala atau enggak. Lalu ngecek ada barang ketinggalan atau enggak. Gitu, Papa.”

Mendengar jawaban sepanjang dan sedetail itu, nyali suami langsung menciut, tidak berani memprotes istri yang sangat lama tadi.

Istrinya pun kelihatan puas memberi jawaban sepanjang itu dan mungkin berpikir, “Emang enak jadi istri, ngurus rumah seabrek yang masih berantakan.”

Untung saja, suaminya lalu memikirkan kehebatan istri mengerjakan semua itu dalam waktu 15 menit, dipikir-pikir, si istri mampu mengingat semua detail rumah dan membereskannya tanpa satu pun tersisa.

Suami berpikir betapa jauh istri dengan dirinya. Dia sama sekali tidak tahu di mana setrika diletakkan, saklar lampu dapur di mana, apalagi alat pel ditaruh di mana. Rumah bagi sang suami hanyalah tempat beristirahat dan memandang waja istrinya.

Tidak pernah ikut beres-beres, tidak pernah ikut merapikan ranjang di pagi hari, dan tidak pernah menyalakan lampu di sore hari.

Aduh, sang suami merasa dirinya sangat jauh dari ruah sendiri, mungkin seperti kebanyakan suami yang tidak pernah ikut mengurus rumah sendiri. Di dunia ini sangat banyak suami demikian, punya rumah tapi tidak tahu detail rumah sendiri.

Mudahnya, semua pekerjaan diserahkan pada istri. Oh, kenapa nasib istri di dunia ini sebegitu berat. Tempat tinggal bersama diurusnya sendiri, padahal ada suami lho. Seandainya semua istri mengungkapkan keluhannya, maka mereka akan mengeluhkan suami yang tidak mau turun tangan megurus rumah.

Kembali lagi ke kisah tadi, suami masih diam saja tidak berani berkomentar. Dia terpojok.

Istri belum puas memberi jawaban, meski sudah cukup panjang jawaban tadi. Tapi sepertinya dia ingin bicara lagi, lalu dia benar-benar bicara lagi.

“Nah, pas di dapur ada makanan yang masih bisa dimakan. Ditaruh diatas meja, ya udah aku beresin. Lumayan buat bekal perjalanan. Nih, kalau mau,” kata istri sambil nyodorin roti isi coklat.

“Lalu,” katanya, “ternyata botol minumannya belum diisi, ya udah aku isi dulu. Pakai air hangat dan bikin teh. Terus pas keluar kok nginjak mainan anak, ya aku taruh di tempatnya. Lalu pas sampai di pintu, aku ingat kalau belum pakai parfum, ya sudah balik lagi ke kamar, pakai parfum sebentar. Terus sudah. Kunci pintu, sampai deh di mobil.”

Suami tambah diam, menutup mulut sepanjang waktu sampai istrinya benar-benar puas memberi jawaban. Seandainya sang istri mau bicara sampai tiga jam, mungkin sang suami akan diam dan menurut, tanpa protes.

Bagaimanapun suami menyadari, istrinya bekerja terlalu keras di rumah. Banyak hal yang harus diingat dan dibereskan. Makanya jawabannnya sangat panjang. Pasti melelahkan mengurus rumah sendirian. Mungkin lebih lelah dari bekerja di kantor yang hanya duduk dan menatap layar komputer.

Aduh, istri, perjuanganmu berat tetapi mengapa suami sangat sulit menyadarinya.

Dalam cerita ini, suami baru menyadari setelah jawaban panjang dan bawel dari istri. Sang suami mulai merenungkan kehebatan istrinya mengurus rumah, pasti lelah. Usai berlibur nanti, dia ingin membantu istrinya mengurus rumah.

Sebaiknya, istri di seluruh dunia lebih bawel saat menceritakan lelahnya beresin rumah agar suami sadar dan bertaubat.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here