Istrimu adalah Ratumu, Jadikan Dirinya Istimewa

Istrimu adalah Ratumu, Jadikan Dirinya Istimewa

Kau sudah memilih dia jadi istrimu. Sebelum menikah Kau sudah berjanji akan selalu menjaganya, merawatnya, dan membuatnya bahagia selamanya. Ingat lagi janji itu. Mungkin bentuk ucapannya berbeda. Tapi Kau tahu pasti, tujuanmu menikah adalah membahagiakan dirinya. Lalu, kenapa setelah menikah Kau malah jadi berbeda? Tak Kau tunjukkan kasih sayangmu seperti dulu. Itu menyakitkan, Ayah.

Tak sekali pun istri merasa keberatan mengandung anakmu. Sembilan bulan lamanya ia menggotong bayi dalam perutnya. Tidak penting apakah kehamilan akan membuat tubuhnya jadi melar. Tidak penting apakah hamil membuatnya jadi susah tidur dan makan.

Asalkan anak sehat sampai lahir nanti, itu sudah sangat membahagiakan. Tidak ada alasan menyerah seberat apapun rasanya hamil. Kau tentu tak mengerti beratnya kehamilan. Memang istrimu kerap bercerita. Mungkin sesekali mengeluh.

Tapi cerita istrimu tak pernah membuatmu benar-benar mengerti rasanya hamil. Itu tidak mudah, Ayah. Kau hanya mendengar keluhannya. Bukan merasakannya.

Kehamilan pertama istrimu sangat membahagiakan. Kau tak pernah merasakan kebahagiaan yang sungguh-sungguh hebat selain saat menyadari bahwa sebentar lagi Kau akan jadi ayah.

Ayah, kini Kau sudah dipanggil ayah oleh anakmu. Kau tentu bangga memiliki anak yang kelak akan jadi penerusmu. Istrimu juga begitu. Bangga melahirkan anak-anak yang lucu dan menggemaskan.

Tapi Ayah harus selalu ingat, istrimu pernah mengandungnya selama sembilan bulan. Itu perjuangan maha berat yang dirasakan semua ibu.

Tak cukup sampai melahirkan, Ibu tak keberatan menyusui bayi selama dua tahun. Dua tahun itu waktu yang tidak sebentar, Ayah.

Menjadi istri sekaligus ibu itu tidak mudah. Ada berbagai tantangan yang harus dihadapinya.

Mungkin Kau masih juga belum mengerti betapa beratnya menjadi seorang ibu dan istri. Mengurus rumah adalah sebuah pekerjaan. Jangan pernah menganggap itu sebagai hal sepele.

Suami memang bekerja di luar rumah, tapi apa Kau pikir bahwa mencuci baju, mencuci piring, memasak, menyapu, mengepel lantai, mengurus rumah, memandikan anak, bukan sebuah pekerjaan?

Butuh waktu mengerjakan seluruh pekerjaan itu. Dan setiap pekerjaan membutuhkan tenaga sama seperti tenaga yang Kau habiskan di tempat kerjamu. Tidak ada yang berbeda. Istri dan Suami hanya berbagi peran, bukan?

Jadi, jangan Kau sepelekan tugasnya. Jangan Kau anggap remeh sebagai pekerjaan mudah yang tidak sebanding dengan apa yang Kau kerjakan di luar sana. Menjaga rumah tetap bersih dan rapi bukan perkara mudah.

Toh Kau juga merasa senang saat rumah tampak rapi. Bukan begitu? Bayangkan saja saat teman-temanmu datang dan rumah ini berantakan seperti tak diurus. Apa Kau tidak merasa malu dengan rumah berantakan.

Jika itu terjadi, Kau pasti akan menyalahkanku. Menganggapku tidak becus menjadi istri serta tidak mampu melaksanakan tugas-tugasnya yang mudah. Tidak. Istrimu selalu mengurus rumah dengan baik. Sangat baik semampu yang bisa Ia lakukan.

Tak sedikit istri yang mau menambah beban kerja dengan ikut mencari nafkah. Pendapatan harus dinaikkan sebab anak-anak semakin besar dan butuh banyak biaya.

Betapa hebat istri yang mau ikut mencari nafkah. Perjuangannya patut dihargai oleh semua suami. Sedari pagi mengurus rumah lalu dilanjutkan bekerja di luar sana. Apapun jenis pekerjaannya, selama halal, hal itu baik adanya.

Itu sebabnya kedudukan istri begitu dimuliakan dalam agama. Rasululllah saw menyebut sosok ibu sampai tiga kali salah seorang sahabat bertanya “Wahai rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti?”

Maka Rasululullah menjawab “Ibumu, Ibumu, Ibumu” sampai tiga kali. Sungguh, betapa mulia sosok Ibu di mata agama.

Ayah, istri adalah seorang ibu, sosok mulia yang patut dihargai dengan baik. Berilah pernghargaan yang layak pada dirinya.

Istrimu adalah ratumu. Dialah yang menemanimu selama ini dari titik nol sampai Kau dapat memiliki rumah sendiri, menyekolahkan anak, dan merasakan kebahagiaan bertubi-tubi.

Jadikan Istri sebagai ratu, Ayah. Buat Istrimu merasa istimewa, selalu. Sampai tua, sampai jadi debu.

Comments

Close Menu