Jadilah Ibu yang Sabar dan Penyayang Bukan Pemarah

Jadilah Ibu yang Sabar dan Penyayang Bukan Pemarah

Anak saya, terlihat seperti ingin menjauh dari keluarga. Ia seorang anak laki-laki dan merupakan yang pertama. Orang bilang anak pertama selalu menunjukkan rasa tanggung jawab dan siap membantu orang tuanya kapan saja. Tetapi anak saya tidaklah demikian, dan kala menuliskan cerita ini, saya benar-benar tengah dilanda kebingungan.

Setiap orang tua ingin bisa selalu berdekatan dengan anaknya sampai dewasa nanti. Sampai saat itu, berbagai cobaan silih berganti menguji ketahanan saya dalam mengasuh si buah hati.

Masa kecil anak pertama saya begitu berbeda dengan anak kedua. Putra pertama kami, Lugas, dibesarkan keluarga baru yang keadaan ekonominya masih pontang-panting. Seperti kebanyakan pasangan baru, ekonomi kami pas-pasan. Pendapatan suami ditambah pendapatan saya kala itu diprioritaskan untuk menabung membangun rumah dan kebutuhan paling dasar sebuah keluarga.

Baca juga: Wahai, Ibu.. Menyesalah Bila Kesibukanmu Membuat Jauh Dari Anak

Itu sebabnya masa kecil Lugas tidak terlalu istimewa sebenarnya. Memang ia mendapat curahan kasih sayang sebanyak yang ia. Lugas anak pertama. Tetapi Lugas tak mendapat mainan yang bagus, pikhnik yang menyenangkan, seperti teman-temannya dulu. Saya dan suami berusaha menabung dan memangkas kebutuhan yang tidak terlalu mendesak. Kami fokus menabung.

Tetapi dunia anak tetaplah dunia anak. Lugas tentu tidak peduli dengan apa yang diprioritaskan orang tuanya dan kerap meminta berbagai jenis mainan yang dipunyai temannya. Tetapi kami tidak pernah mau menurutinya. Ia menangis. Tetapi saya malah memarahi anak pertama saya. Suami saya juga tak kalah galak.

Kami berdua memang dipersatukan oleh karakter keras kepala. Malangnya, sikap itu terus berlanjut pada pola asuh Lugas. Kasihan Lugas. Tetapi sebagaimana semua penyesalan, penyesalan saya begitu terlambat.

Sejak usia tiga tahun, masa anak mulai usil dan banyak minta, ia amat sering berulah. Terkadang mengganggu saya waktu masak, atau berlari-lari dalam rumah pada malam hari. Saya yang temperamental ini sangat sering marah. Reflek mengatakan “jangan” dengan volume tinggi. Seketika itu Lugas memang diam, tetapi kalau diperhatikan raut mukanya langsung berubah drastis seperti ketakutan.

Sampai usia 7 tahun, Lugas tumbuh di bawah sikap keras ayah dan ibunya. Kondisinya memang begitu berat sehingga kami terpaksa mengurangi ongkos hidup demi mempersiapkan hunian yang layak dan sebagainya.

Baca juga: Mah, Ajarkan Anak Berani Melawan Bully Bukan Menghindari Bully

Hal berbeda terjadi pada pola asuh anak kedua kami, Nala. Saat Nala lahir, usia Lugas sudah delapan tahun. Anak perempuan itu membawa pengaruh di keluarga kami. Jujur saja, kami berdua begitu mendambakan anak perempuan sejak dulu. Usia saya dan suami juga kian bertambah dan mungkin, kadar keras kepala yang kami miliki sudah agak berkurang.

Jadilah Nala tumbuh dalam limpahan kasih sayang. Mungkin kami berdua sudah banyak belajar dari kesalahan-kesalahan pola asuh yang diterapkan pada Lugas. Sikap kami pada Lugas pun melunak.

Tetapi tujuh tahun diasuh orang tua yang galak dan temperamental sudah cukup banyak menggores luka di hati Lugas. Sepertinya luka itu masih membekas dan menjadi trauma panjang yang tak bisa ia lupakan.

Anak sulung kami itu tumbuh besar sebagai seorang anak yang dingin. Tidak banyak bicara pada siapapun termasuk orang tuanya sendiri. Ia begitu tertutup pada kami. Tidak pernah menceritakan masalah-masalah yang dihadapinya di sekolah. Meski saya coba untuk menanyakan kondisi sekolahnya dengan lembut, ia memilih untuk mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Jembatan emosional antara Lugas dengan saya kian menjauh. Dan saya kesulitan untuk mengembalikan sikap manja yang pernah ia tunjukkan di masa kecil sebelum akhirnya lenyap diterjang amarah orang tuanya sendiri. Benar, sikap-sikap saya dan suami membekas di hatinya.

Baca juga: Lakukan Hal Ini Agar Suami Bunda Menjadi Seorang Ayah yang Hebat

Dan, ya, sulit sekali menghilangkan efek trauma di hati anak sulung saya itu. Nala yang kini sudah kelas 6 SD adalah anak gadis yang ramah. Selalu pulang tepat waktu usai bersekolah dan suka bantu orang tua. Ia memang gadis yang pendiam, mungkin tidak terlalu suka bicara sebab khawatir melukai perasaan orang tua. Atau belajar mengurangi konflik dengan orang tua. Entahlah, saya termasuk orang tua yang buruk yang tak dapat bersikap terbuka dengan anak sendiri.

Nala kerap menyaksikan sikap Lugas yang dingin dan tertutup di hadapan orang tuanya. Lugas kerap pulang sore atau bahkan malam hari. Tidak langsung pulang ketika sekolah selesai dan lebih meilih bermain bersama teman-teman sekolahnya di luar.

Saat pulang, ia hanya bilang habis main ke rumah teman, ada PR. Kadang saya hanya mendiamkannya, tetapi tak jarang emosi saya tersulut sebab melihat sikap Lugas yang menjawab sekadarnya dengan sikap sangat cuek.

Kalau saya marah, ia akan diam seperti mendengarkan kemudian meninggalkan saya dan masuk ke dalam kamar. Selalu seperti itu. Orang tua mana yang tak sedih menyaksikan anaknya yang tumbuh dalam sikap diam.

Usai marah, saya berfikir dan merefleksikan diri, mungkin ini memang sebab kesalahan saya sejak dulu itu. Seakan saya tak cukup membatasi keinginannya untuk memiliki mainan, saya juga banyak melarangnya untuk memperlihatkan ekspresi lincah layaknya anak kecil lainnya.

Saya dengar, di masa 0-8 tahun anak cenderung mementingkan keinginannya. Ia baru belajar tetapi belum benar-benar memahami soal baik dan buruk. Yang paling dipentingkan olehnya adalah keinginan sehingga amat wajar jika anak bergerak sesuai dengan keinginannya, bukan aturan yang pantas dan berlaku.

Sebenarnya berterika atau berlari dalam rumah di malam hari buakn persoalan besar, toh bising anak hanya terdengar dalam rumah sendiri, tidak tembus sampau rumah tetangga. Tetapi dasar saya orang yang temperamen, cepat emosi, masa kecil Lugas yang lincah diwarnai hujan amarah dari saya. Maka, sejak kecil keinginan-keinginan Lugas yang membuatnya berekspresi ditekan begitu kuat oleh ego orang tuanya sendiri.

Baca juga: Wahai, Ayah Bunda.. Jangan Suka Marah-Marah, Buatlah Anak Nyaman dan Senang di Rumah

Tidak lama lagi Lugas lulus SMA. Ia sempat bilang ingin melanjutkan kuliah di luar kota saja. Sebenarnya saya tidak masalah dengan keinginan itu. Tetapi saya menyimpan ketakutan kalau-kalau ia tidak tinggal di rumah lagi.

Ya, kalau si sulung pergi dari rumah dan tinggal di luar kota, ia akan semakin menjauh dari saya. Bukan sekadar jauh dalam jarak, melainkan juga jauh secara emosional.

Selagi tinggal dalam rumah saja sudah begini kondisinya, apalagi jika benar-benar komunikasinya benar-benar terputus. Tetapi saya tak mungkin melarangnya pergi. Anak itu sudah seharunya mendapatkan hak untuk melanjutkan pendidikan ke tempat yang ia mau. Mengejar mimpi, ya, mengejar mimpi di tempat yang jauh di sana. Di tempat yang bisa memberinya teman dan ilmu pengetahuan.

Sebagai orang tua saya akan mendukung kemanapun Lugas pergi. Hanya saja, saya ingin dia menghapus trauma masa kecilnya. Orang tuanya ini memang mudah tersulut emosi dan naik pitam, tetapi dalam hati, selalu mengharapkan yang terbaik untuk anak.

Kini saya hanya bisa mengambil hikmahnya. Berusaha memperbaiki hubungan dengan Lugas dan membesarkan Nala dengan lebih baik dan penuh perhatian. Berusaha lebih keras menjaga diri untuk sabar dan mengurangi amarah dan bentakan yang hanya akan membuat seorang anak semakin menjauh dari orang tuanya sendiri.

Comments

Close Menu