Jangan Cuma Minta Mobil dan Rumah Sama Papa

Jangan Cuma Minta Mobil dan Rumah Sama Papa

“Pa, bajunya keliatan bagus ya?” ujar Mama sembari menunjukkan foto baju berwarna merah di hapenya.

“Iya, bagus, Ma. Cocok buat Mama,” kata Papa.

“Beli ya, Pa?”

“Ya, udah. Beli aja.”

“Makasih, Pa. Oh, iya Pa, kayaknya mobil kita udah tua ya. Udah lima tahun umurnya. Gimana kalau ganti, Pa? Malu dong sama itu si Neni, kemaren baru dibeliin mobil sama suaminya.”

“Iya, juga ya Ma. Hemm.. Ya, udah deh nanti Papa ganti. Besok kita ke dealer ya Ma. Mama pilih deh mana yang Mama suka.”

“Oke, Pa. Mama sayang Papa deh.”

Apakah percakapan seperti di atas terjadi dalam kehidupan sehari-hari Mama?

Mungkin, iya. Kebanyakan, tidak. Hehe.. Namun yang sudah pasti, kebanyakan orang akan mendambakan percakapan seperti itu. Lebih tepatnya mendambakan seorang suami yang bisa memenuhi keinginan wanita seperti percakapan itu. Iya kan?

Pada umumnya siapapun istri sudah cukup senang bila sang suami menunjukkan perhatian dan cintanya dengan membawa oleh-oleh branded sehabis piknik, dibelikan sepatu atu baju baru, sering diajak makan malam keluar, liburan keluarga, disapa setiap hari dengan romantis, apalagi dibelikan mobil dan rumah untuk hadiah ulang tahun, pasti girangnya luar biasa bukan kepalang. Hehe.

Itu sangat lumrah alias wajar dan teramat manusiawi. Karena itu bukti yang paling mudah untuk disaksikan.

Saya juga setuju!

Yang ingin saya katakan di tulisan ini bukan hal itu. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Saya tidak akan berkata bahwa Mama yang baik janganlah menuntut mobil, rumah, emas, dan kesenangan wanita lainnya pada suami.

Mama boleh saja tidak meminta, namun bila seorang suami memberikan itu, Mama terimalah dengan hati riang gembira.

Nah, kembali lagi pada pernyataan saya di atas, bahwa pemberian suami berupa mobil, rumah, fashion, perhiasan, atau kesenangan wanita lainnya, adalah tanda cinta seorang suami. Eits, tapi saya juga ingin mengatakan bahwa itu semua adalah ekspresi cinta yang paling rendah. 

Padahal sebenarnya mengekspresikan cinta secara kasat mata atau materiil seperti itu sesungguhnya ada pada level terendah bin paling mudah karena sangat artifisial. Tapi repotnya kadang justru itulah yang paling sering jadi ukuran dan penilaian. Kenapa? Karena semua itu “tampak” mata, riil, bisa dihitung, bisa dilihat, dan siapa pun bisa melakukannya asal punya cukup duit.

Kita sering lupa bahwa cinta sejatinya soal rasa, bukan semata apa yang tampak mata.

Tahukah Mama bahwa ada yang lebih bernilai selain benda-benda material itu? Dan itulah tanda cinta sejati seorang suami.

Pertama; waktu. 

Waktu itu tidak bisa dihargai dengan uang, emas ataupun platinum. Waktu tidak bisa diganti. Waktu tidak bisa diputar ulang.

Maka seorang suami, di tengah-tengah kesibukannya, bisa selalu memberikan waktunya untuk Mama itulah bukti cinta yang melebihi rumah mewah seharga 10 Milyar. Misalnya saja; ada tontonan big match sepakbola, tapi ia lebih memilih menemani Mama mencoba resep masakan baru, itulah tanda cinta sejati.

Ia memberikan “waktunya” untuk Mama.

Kedua; jaminan akan kebahagiaan keluarga di masa depan 

Seorang Papa yang bisa memberikan kartu garansi bahwa keluarganya akan bahagia di masa depan adalah sebuah bukti cinta paling hakiki. Pun masa depan yang dimaksud bukan semata masa depan urusan dunia, tapi juga urusan akhirat.

Memang setiap orang tidak bisa memastikan diri untuk mencapai kebahagiaan setelah kematian, yaitu surga. Namun sudahkah Mama memastikan bahwa Papa menempuh jalan-jalan menuju kesana?

Jarang sekali istri yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang “teramat sangat tidak penting” ini kepada sang suami:

Apakah hari ini kau telah menyebut namaku dalam doamu kepada Cinta Sejatimu, Gusti Allah?

Apakah aku telah benar-benar kau ridhoi dan kau jamin agar kelak berada di surga bersamamu?

Dan bilapun ada, rasanya kebanyakan suami akan lebih memilih untuk menjawab dengan setangkai bunga mawar, sebait puisi dan gaun serta sepatu baru.

.

.

Oleh: Widya, asal Yogya.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu