Jangan Membentak Anak yang Menangis

1
458

Tadi malam, sekitar jam sebelas malam, si kecil terbangun dari tidurnya. Ia menangis. Keras. Sebenarnya sangat jarang si kecil terbangun dari tidurnya di malam hari. Biasanya ia akan bangun saat pagi hari.

“Oaaaa….oooaaaa…” tangisnya. 

Rata-rata anak kecil yang usianya dibawah tiga tahun bila menangis saat terbangun dari tidurnya karena ada beberapa hal. Pertama, karena kepanasan. Kedua, karena haus. Ketiga, mungkin karena mengompol. Dan keempat, karena bermimpi buruk.

Saya tanya, “Kenapa, Nak..?” Tentu saja itu pertanyaan basa basi. Anak usia satu tahun -si kecil usianya baru satu tahun- tentu tak akan bisa menjawabnya.

“Mama, saya menangis karena ruangan kamar ini panas. Saya gerah, Ma. Saya juga haus. Mama bisa ambilkan saya minuman,” tidak mungkin anak bisa bicara begitu bukan?

Pertanyaan basa basi itu, hanyalah sekadar untuk mengalihkan perhatian anak dari tangisannya. Pun ia berfungsi untuk menjalin kedekatan emosional saat anak menangis, bahwa “Mamanya ada disampingnya selalu.”

Sembari bertanya begitu, saya cek kondisi ruangan. Tidak panas. Saya cek apakah anak ngompol atau tidak, ternyata juga tidak.

Saya peluk anak saya. Namun tangisnya belum reda.

“Aduh, gimana ya? Gak biasanya si kecil rewel begini,” pikir saya.

Selang sekitar sepuluh menit kemudian, saya ajak si kecil keluar kamar. Sambil saya tenangkan, saya alihkan perhatiannya untuk melihat-lihat mainan, saya ajak ia jalan-jalan di dalam rumah. Di ruang tamu, di dapur, pokoknya asal jalan aja.

Nah, setelah saya ajak si kecil untuk melihat-lihat malam di teras rumah, akhirnya ia perlahan-lahan bisa lebih tenang. “Oh, ternyata anak ini cuma pengen lihat suasana malam di luar rumah. Hehe.”

Saya bisa lebih tenang. Saya tunjukkan pada si kecil ada bintang, ada pohon, ada mobil yang lewat (kebetulan rumah saya di pinggir jalan raya). Setelah ia mulai tenang, saya ajak lagi ia masuk ke dalam. Gak baik malam-malam anak kecil kelayapan di luar rumah bukan? Hihi.

Di dalam rumah ia ambil mainannya. Main sebentar, ia bosan. Segera ia ambil jelly kesukaannya. Makan satu sampai dua buah, sudah bosan lagi. Saya biarkan saja si kecil melakukan apa maunya. Nah, setelah ia puas, baru saya bujuk si kecil untuk masuk kamar. Untuk tidur lagi.

Dan, alhamdulillah, cara itu berhasil.

Nah, kesimpulannya Bunda, kalau anak rewel tengah malam, segera saja gendong dia. Atau peluk. Tanya padanya sebab kenapa nangis, segera cek kondisi sekitar, apakah ada yang mengganggu kenyamanannya.

Yang paling penting untuk diperhatikan bagi Ayah Bunda, saat anak menangis dan rewel: JANGAN MEMBENTAKNYA…!

Membentak anak yang menangis tak akan menyelesaikan masalah. Bayangkan saja, orang dewasa saat nangis dibentak juga gak bakal diem nangisnya. Lha ini apalagi seorang anak yang berusia dibawah tiga tahun.

Membentak anak yang menangis juga hanya akan menimbulkan luka psikologis dalam diri anak lho. Bersabarlah, namanya juga anak-anak. Wajar kan kalau ia rewel?

Setuju bukan?

Semoga pengalaman saya ini bermanfaat yaa untuk bunda semua. 🙂

.

.

Oleh: Mama Rini, asal Jogja

Comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here