Jangan Sampai Anak Malah Merasa Asing Dengan Ayahnya Sendiri

Jangan Sampai Anak Malah Merasa Asing Dengan Ayahnya Sendiri

“Tulullut… tululuuut.. tuluuut…”

HP saya berbunyi. Panggilan video call dari nomor istri saya. Melihatnya saya langsung antusias. Setelah saya angkat tampaklah wajah istri dan anak saya di layar hape ukuran 5 inch itu.

“Halooo…. ” kata saya. “Adek lagi ngapain…?”

“Baa..baaa….” ucap anak saya belum begitu jelas. Maklum usianya masih hitungan bulan.

“Papah kangeeeen, Nak…” kata saya.

***

Kemajuan jaman dan industrialisasi terkadang membuat seseorang harus bekerja jauh dari kampung halaman. Berpisah dari keluarga, istri dan juga anak. Saya adalah salah satunya, harus bekerja di luar kota meninggalkan anak yang baru berusia enam bulan.

Baca juga: Tidak Ada Ibu Sempurna di Dunia Ini, Tapi Selalu Ada Ibu yang Dicintai Anaknya

Satu tahun sejak menikah, saya mulai sering meninggalkan istri. Terkadang di kota sebelah, namun tak jarang pula berada ribuan kilometer dari rumah tercinta. Sebagai ayah, saya merasa sedih.

Padahal, saya sudah menemukan surga saya di dunia, yaitu kelurga. Saya tak ingin pergi tetapi kondisi berkata lain.

Maka tak ada pilihan selain menjalankan tugas kerja itu. Terkadang, saya harus pergi meninggallkan istri sampai empat bulan sebab mendapat proyek di luar pulau Jawa. Tiap kali hendak berangkat, bola mata istri saya membasah. Tidak rela membiarkan suaminya pergi berbulan-bulan di luar sana. Apa daya, saya hanya bisa menghiburnya dengan sebuah janji, akan menelpon setiap malam.

Jika sebuah proyek selesai, saya pastikan langsung pulang menuju rumah. Sudah tidak kuat menahan rindu pada istri yang saya cintai. Namun itu tidak pernah lama. Sebab satu minggu setelah tinggal di rumah, biasanya sudah ada tanggung jawab baru yang menuntut saya segera pergi lagi.

“Hal itu terus berlanjut. Tidak apa-apa selagi masih muda, semua ini demi masa depan kami,” pikir saya.

Namun pikiran itu tidak selamanya bisa say tanggung sendiri. Terlebih ketika istri hamil untuk pertama kalinya.

Pada satu sisi, saya merasa begitu senang sebab sebentar lagi akan jadi ayah. Di sisi lain, saya juga merasakan kesedihan yang teramat dalam sebab akan jauh dari anak. Dan itu benar-benar terjadi. Anda tahu, waktu itu saya tak punya pilihan lain.

Baca juga: Mah, Ajarkan Anak Berani Melawan Bully Bukan Menghindari Bully

Maka selama masa kehamilan, istri saya berjuang sendirian memeriksakan kandungannya. Memenuhi kebutuhan gizi bayi sendiri. Seringkali saya terenyuh mendengar keluhannya yang semakin sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau sesekali muntah dan merasakan pusing.

Saya bisa apa, berada di jarak yang begitu jauh dengan tuntutan pekerjaan super padat membuat hubungan jarak jauh ini terasa begitu berat. Namun saya tetap mencoba menghibur dirinya.

Terkadang ia jadi begitu cengeng dan sentimentil. Merengek manja meminta saya segera pulang ke rumah. Istri saya itu, bicara sambil menangis merasakan beratnya ditinggal suami. Saya pun merasa kasihan padanya. Tetapi semua ini harus dilalui, bukan?

Sampai di hari yang paling saya sesali dalam hidup, tak dapat menemani proses kelahiran anak pertama saya. itu sungguh menyedihkan. Dari jarak yang jauh saya hanya bisa mendengar suara bayi kami berdua. Saya tak mampu lagi menahan tangis mendengar suara istri saya. Meminta maaf atas kebodohan suaminya yang lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan dengan keluarganya sendiri.

Usai kalahiran, satu minggu berada di lokasi pekerjaan terasa sangat lama. Saya benar-benar kehilangan semangat bekerja, nafsu makan dan sulit tidur. Sampai dua minggu kemudian saya pulang dan melihat anak saya untuk pertama kali.

Betapa kecil wajahnya, kulitnya putih kemerahan. Saya mencium pipinya untuk pertama kali. Sungguh perasaan yang begitu hebat menjadi seorang ayah. Sebuah perasaan baru menghampiri hati saya. Perasaan menjadi seorang ayah dan tanggung jawab baru, membesarkan anak kami.

Baca juga: Lakukan Hal Ini Agar Suami Bunda Menjadi Seorang Ayah yang Hebat

Tetapi saya kemabli tersadar, bahwa hanya akan ada sedikit waktu untuk kami bersama. Maka bagaimana nanti istri saya akan melewati hari-hari bersama anaknya saja. Apakah ia mampu mengasuh bayi dengan tanpa kehadiran sang suami. Tentu saja itu berat. Terlalu berat untuk perempuan selembut dirinya.

Saya libur bekerja sampai dua bulan setelah melahirkan. Belajar menjadi ayah adalah hal baru. Ikut begadang menjaga bayi mungil yang kerap terjaga. Ternyata begitu, bayi yang baru lahir belum memiliki jadwal tidur seperti orang dewasa. Pastilah ibu saya begitu kerepotan mengurus saya ketika masih bayi.

Sungguh, saya begitu menikmati peran baru itu. Merasa telah melewati satu fase penting dalam kehiduapn setiap laki-laki: jadi ayah.

Tak terasa dua bulan berlalu dan say harus kembali meninggalkan istri dan anak. Kali itu sungguh lebih berat dari biasanya. Malam hari sebelum berangkat saya tidak bisa tidur. Hanya berbaring di ranjang sambil menatap pada anak yang baru dua bulan bersama ayahnya.

Bulan terus berganti dan saya kembali punya kesempatan ke pulang ke rumah. Saat itu anak sudah berusia tujuh bulan. Sudah pintar membuat ibunya tertawa dengan tingkah lakunya. Tetapi sungguh, ia kebingungan melihat saya.

Mungkin bertanya-tanya siapa orang ini. Mengapa ia ikut tidur bersama dirinya di malam hari. ibunya memang mencoba menjelaskan siapa saya bagi dirinya. Tetapi anak itu masih bayi, hanya membalas perkataan ibunya dengan dekapan yang semakin erat.

Itu resiko yang musti saya terima. Menjadi seorang asing bagi anak sendiri. Apa saya sedih? Tentu saja. Di luar sana saya bekerja demi keluraga kecil saya, tetapi bahkan anak saya sendiri tak mengenali ayahnya. Ya, itu resiko berat pekerja jauh seperti saya ini.

Baca juga: Apakah Kita, Orang Tua yang Tergesa-Gesa dan Suka Memaksa Anak?

Saya hanya bisa menerima. Belajar mendekati si kecil dengan baik agar ia mengerti bahwa pria asing ini adalah ayah yang akan selalu melindunginya.

Saya ikut merasa sedih. Apa iya, anak pertama kami berdua akan tumbuh besar tanpa perhatian yang memadai dari ayahnya. Bagaimana jika ia terus menerus merasa asing pada saya sampai besar nanti, tentu hal itu sangat menyedihkan. Semua kerja keras akan terasa kosong apabila anak saya tak mengenali siapa ayahnya.

Beruntunglah orang tua yang bisa selalu dekat dengan anak. Mendapat pekerjaan yang tak mengharuskannya berada jauh dari rumah. Sungguh, sebaik apapun pekerjaan di luar sana, berada jauh dari anak tetap terasa tidak enak. Saya katakan sekali lagi, saya sudah menemukan surga di rumah, dan saya tak ingin jauh darinya.

Kini istri saya tengah hamil yang kedua. Dan sebaiknya anda tahu, saya kini bekerja di dalam rumah. Mungkin tidak semenjanjikan pekerjaan dulu, tetapi itu jauh lebih membahagiakan istri dan anak saya. Saya hanya tak ingin merasakan penyesalan untuk kedua yang kedua kalinya, tidak mendampingi proses kelahiran.

Baca juga: Wahai, Ayah Bunda.. Jangan Suka Marah-Marah, Buatlah Anak Nyaman dan Senang di Rumah

Berada di dekat keluarga adalah sebuah kenikmatan tiada tara. Saya berusaha untuk terus berada dekat dengan mereka. Mengamati ekspresi wajah istri saat kesal yang justru memperdalam palung cinta padanya. Atau melihat anak pertama saya yang sudah pintar merepotkan ayahnya sebab sering mengganggu saat saya bekerja.

Saya tahu, si kecil hanya minta perhatian dan gangguan itu bukanlah masalah. Biar saja saya terus diganggu, agar hari-hari di masa lalu yang sempat ia lewati tanpa kehadiran ayahnya bisa terganti. Seperti halnya janji, hutang kasih sayang pada anak dan istri harus saya tebus tuntas.

 

anak susah makan

Comments

Close Menu