Jangan Sampai Kejadian, Anak Bahagia tapi Kesehatannya Dilupakan

0
273
Ilustrasi

Usaha orangtua untuk membahagiakan anak seringkali tak sejalan dengan usaha menyehatkan anak. Begitu pula di Indonesia, pemenuhan nutrisi anak masih sangat minim.

Suatu hari saya bertemu dengan seorang teman lama. Ternyata dia sudah berkeluarga dan memiliki anak usia empat tahun. Tentu dia senang jadi seorang ayah. Katanya dia ingin bekerja lebih keras demi kebahagiaan anak.

Waktu saya tanyakan kebahagiaan seperti apa yang dimaksud, ia jawab pendidikan tinggi dan karir yang sukses. Si Ayah ingin anaknya bisa sekolah setingggi-tingginya. Dengan begitu, dia berharap anaknya dapat meraih pekerjaan yang mapan dan mendapat hidup yang lebih layak di masa depan.

Saya kerap dengar rencana seperti itu. Pasti Anda juga begitu, kan. Atau Anda juga memiliki rencana seperti itu.

Kita selalu menginginkan kebahagiaan anak. Tapi kebahagiaan seperti apa?

Ya seperti itu, bahagia apabila anak belajar di sekolah unggulan dan kuliah di universitas ternama. Biar dia bisa kerja di tempat yang bagus dan mendapat gaji yang layak.

Bahagia banget ya kalau nanti anak sukses berkarir. Usaha kita menjadi orangtua berhasil. Sebab begitulah cara menjadi orangtua yang baik. Mengantarkan anak sampai ke gerbang kesuksesan.

Orangtua di seluruh dunia ingin anaknya bahagia. Meski bentuknya beda-beda.

Di Indonesia, kebahagiaan selalu saja soal sekolah di universitas ternama dan mendapat pekerjaan yang layak. Itu tidak salah. Tetapi itu saja tidak cukup.

Sebab tabungan buat pendidikan tinggi kerap tidak imbang dengan tabungan untuk kesehatan. Percayalah, kebanyakan orangtua mau mengeluarkan banyak uang untuk sekolah mahal, tapi hanya sedikit yang mau mengeluarkan uang untuk kesehatan.

Ya, sangat sedikit. Keinginan kita untuk membahagiakan anak hanya berhenti pada pendidikan. untuk soal kesehatan dan gizi, kebanyakan lupa. Ya, kan.

Kesehatan kan enggak hanya waktu anak sakit dan butuh diobati oleh dokter. Tidak, kesehatan itu saat anak tercukupi kebutuhan gizinya.

Baca juga :

Ibu Karir Kewalahan Ngurus Anak 


Jangan Ada Lagi Anak Meninggal Sia-sia di Sekolah


Semua Ibu Ingin Anaknya Cerdas, Tapi Kebanyakan Tidak Mau “Membayar Harganya”

HSBC membuat survei di 16 negara soal keinginan orangtua pada anaknya, salah satunya di Indonesia. Ada fakta yang mengejutkan, ternyata orangtua di Indonesia hanya memprioritaskan kebahagiaan tetapi abai pada kesehatan.

Dari survei itu kita tahu, bahwa anak-anak di Indonesia ini masih kekurangan nutrisi. Sama orangtuanya saja dibiarkan, apalagi sama orang lain. Duh, kasihan kan anak Indonesia, nutrisinya enggak dicukupi.

Kalau diurut berdasarkan penelitian tadi, kira-kira begini prioritas orangtua pada anaknya.

  1. 1. Kebahagiaan anak dalam hidup
  2. 2. Anak sukses berkarir
  3. 3. Anak punya penghasilan yang cukup
  4. 4. Anak bisa mengembangkan potensi
  5. 5. Anak hidup sehat

Betul enggak kalau Bunda di rumah berpikir seperti ini? Meletakkan kesehatan anak di urutan terakhir. Hmm, dipikir-pikir saya juga gitu. Masih mengesampingkan bab kesehatan anak.

Seakan-akan dengan ikut imunisasi rutin di Posyandu sudah cukup membuat anak menjadi sehat. Padahal itu saja tidak cukup.

Peran orangtua di rumah dalam mensuplai kebutuhan nutrisinya sangat dibutuhkan. Bayangkan saja kalau di rumah enggak tersaji makanan sehat untuk anak, bagaimana anak bisa menyerap pelajaran di sekolah dengan maksimal?

Padahal, pikiran yang hebat hanya terdapat dalam tubuh yang kuat. Nah kalau tubuhnya kurang sehat, bagaimana bisa pikiran anak jadi hebat.

Jadi, jangan salahkan jika anak mendapat nilai rendah kalau kita belum memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Tanpa nutrisi yang cukup otak tidak akan bisa berpikir maksimal. Kalau tidak maksimal pelajaran tidak akan terserap dengan baik dan menyebabkan nilai ujiannya jadi rendah. Dan ujungnya, masa depan anak bisa terancam.

Pola pikir kita harus diubah, Ma. Untuk membahagiakan anak, orangtua tidak cukup dengan membelikan banyak mainan dan mengajaknya piknik ke taman bermain. Kesehatan perlu dijadikan prioritas utama untuk membuat anak bahagia.

Bayangkan saja kalau pas Anda ingin mengajak anak ke taman bermain tapi badannya lemas dan tak bertenaga sebab kurang vitamin. Kan enggak asik.

Makanya, Anda tidak boleh puas hanya dengan membelikan mainan. Anda juga harus memastikan kalau anak sudah tercukupi gizinya.

Cek lagi deh usaha yang sudah dibuat selama demi membahagiakan anak. Apa sudah cukup? Apa baru sedikit? Atau malah, sama sekali belum?

Ayolah, Anda ini seorang mama muda yang hebat. Mama yang menginginkan kebaikan dan kebahagiaan untuk anak.

Masa depan anak harus cerah. Masa depannya harus lebih baik dari orangtua. Jangan sampai anak gagal bahagia.

Serius. Saya kaget sekali membaca hasil survei tadi. Ternyata soal prioritas kesehatan, orangtua Indonesia masih kalah dibanding negara lain di ASEAN seperti Thailand dan Vietnam.

Hmm, kenapa Indonesia masih kalah dengan mereka. Padahal para orangtuanya juga sudah banyak tahu soal nutrisi anak. Tapi masih saja tidak peduli dengan kenyataan itu.

Padahal setiap orangtua pasti ingin anak-anaknya menjadi penerus bangsa yang bisa tampil di kancah Internasional. Jika memang begitu, kesehatan perlu diprioritaskan, sebab kesehatan adalah kunci kebahagiaan.

Sekali lagi, kesehatan adalah kunci kebahagiaan anak.

Tidak akan ada kebahagiaan tanpa kesehatan yang memadai. Mari perbaiki cara pandang terhadap pola asuh anak.

Benar kalau Anda menginginkan pendidikan setinggi mungkin buat anak. Benar kalau Anda juga mengharapkan anak mendapat pekerjaan yang dia inginkan. Tapi semua itu perlu dukungan kesehatan tubuh. Sebab tanpanya semua sia-sia.

Orangtua yang baik adalah mereka yang mau membahagiakan anak. Tapi kebahagiaan tidak hanya ditentukan keberhasilan karir atau pendidikan tinggi, tetapi juga kesehatan tubuh dan kecukupan nutrisi.

Setiap anak layak merasakan kebahagiaan. Dan itulah tujuan hidup banyak orang saat ini.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here