Kalau Anak Sering Enggak Nurut, Mungkin Kita Belum Benar-Benar Memahaminya

0
1382

Anak kedua saya malas belajar. Semula saya benar-benar tidak mengerti mengapa si bungsu begitu berbeda dengan kakaknya yang rajin dan selalu mendapat nilai tinggi. Sebagai ibu, saya sering merah padanya karena malas. Saya selalu membanding-bandingkan dirinya dengan kakaknya atau teman sebayanya. Jahat sekali memang.

Karena sikap saya yang demikian, si bungsu malah jadi semakin malas dan ogah-ogahan belajar. Ia pun tidak mau dekat-dekat dengan abangnya. Saya pikir, kemarahan demi kemarahan yang saya katakan padanya membuat hubungan kakak adik ini jadi memburuk.

Iya, kadang orangtua jadi faktor utama masalah kehidupan anak. Efeknya seperti yang saya sebut tadi, dia jadi malas di sekolah, tidak akur dengan saudara sendiri, dan kesulitan mengembangkan kecerdasan.

Suatu hari saya pulang ke rumah pada sore hari dan menemukan si kakak sedang mengerjakan PR di kamar. Saya bertanya padanya di mana si adik, dia menjawab di lantai dua sedang bermain.

Saya naik ke atas dan menemukannya sedang asik bermain mobi-mobilan. “Sudah ngerjain PR belum?”

“Belum,” jawabnya singkat meneruskan agenda bermainnya.

Dia tak menggubris ibunya ini, berpaling muka menyembunyikan ekspresi wajah. Saya pikir si kecil agak was-was dan khawatir apabila ibunya marah setelah ini.

“Kerjain dulu, nanti main lagi, ya.” Ucap saya padanya.

Tapi dia mengabaikannya. Tentu saja saya merasa kesal dan ingin sekali bereriak memarahinya. Tapi tunggu dulu, saya masih punya cukup kesabaran untuk menahan diri. Jadilah saya mendekat padanya, duduk di depan tubuhnya yang kecil.

“Ibu mau ngapain?”

“Ngeliatin kamu, kok main terus, nggak mau ngerjain PR?”

Melihat saya terus duduk di depannya, dia jadi kikuk, bingung, dan enggan terus main. Saya tahu dia merasa tidak enak ditemani ibunya. Khawatir dimarahin seperti biasanya. Tapi saat itu sudah sore jelang maghrib dan saya terlalu malas untuk marah-marah sama anak.

Malamnya bisa jadi parah, si anak tidak mau makan malam dan mengurung diri di kamar sambil ngambek. Kan ibunya juga yang repot nanti.

Hal seperti ini tidak hanya sekali. Saya yakin Bunda juga sering mengalami dengan kejadian berbeda. Anak melakukan sesuatu tidak seperti yang kita inginkan.

Keinginan orangtua itu tidak selalu diamini si anak, seringnya malah tidak terjadi. Ya gimana, anak kan bukan robot, dia juga punya keinginan sendiri. Jadi kalau keinginan orangtua enggak terjadi, kadang saya bilang itu wajar.

Seperi keinginan saya sore ini yang tidak terwujud, maunya bikin si kecil belajar, malah dia main aja sendirian di rumah. Saya bisa saja memaksanya dengan kemarahan dan gertakan. Tetapi marah kadang bukan pilihan yang tepat.

Terkadang saya berpikir, apa saya yang egois sama si kecil ya. Maunya nyuruh dia ngelakuin apa yang saya inginkan tetapi tidak pernah mengerti apa yang ingin dia lakukan.

Anak kecil tentu ingin bermain, saya tahu. Tetapi bagaimana dia main, sama siapa, di mana, saya tidak benar-benar tahu. Jurang pemisah antara anak dan orangtua ini kan bahaya.

Saya mungkin agak otoriter di mata si kecil, sering membandingkan dia dengan kakaknya, enggak adil banget deh.

Jurang pemisah antara orangtua dan anak itu masalah besar yang kerap diabaikan orangtua. Saat anak sudah benar-benar jauh dan sulit kembali ke pelukan orangtua, biasanya, barulah dia sadar akan kealpaan-kealpaan saat mengasuhnya.

Itu juga jadi pertimbangan saya tidak marah saat si bungsu maunya maen mulu. Belajar itu penting, tetapi belajar karena paksaan dan rasa takut dimarahi orangtua itu tidak baik juga. Saya sedang belajar menjadi orangtua yang mengerti perasaan anak, itu saja.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here