Kenapa Seorang Ibu Harus Pintar?

Kenapa Seorang Ibu Harus Pintar?

Seorang Ibu itu harus PINTAR. Harus Cerdas. Harus Jenius.

Kenapa?

Karena ia adalah tempat bertanya pertama kali si kecil.

Saat si kecil sudah menginjak balita, saat ia sudah bisa belajar bicara dan ingin tahu apa saja. Maka ia akan sering bertanya pada Ibunya.

Mungkin suatu ketika anak akan bertanya, “kenapa langit warnanya biru?”

Atau pertanyaan lain yang lebih rumit, “Darimana adek lahir?” Bisa juga saat makan si kecil akan bertanya, “Buat apa adek makan telur ini? Telur ini datang darimana sih Bund? Kok adek gak boleh makan ini sih Bund?”

Saat ia mandi ia bisa jadi malah sibuk bertanya, “Kok air ini gak boleh diminum kenapa? Kan adek haus?”

Sewaktu berjalan-jalan di taman, anak sibuk kesana kemari. Melihat-lihat. Rasa ingin tahu mendorongnya untuk menyentuh bunga-bunga. Melihat tawon dan kupu-kupu. Belarian di rerumputan.

Tenang, saya yakin si kecil tidak akan bertanya, “Bagaimana cara menghitung luas dan keliling lapangan bola?” Tidak. Ia tidak akan bertanya seperti itu ya Bunda..

Tapi bisa jadi tiba-tiba si kecil nyeletuk, “Bund, kupu-kupu itu lahir darimana ya? Bund, kenapa bunga warnanya merah? Ada gak bunga yang warnanya kuning?”

Hemm.. bisa pusying bila anak terus saja bertanya dan ibu tak bisa menjawabnya. Walaupun tak tahu jawabannya, seorang ibu harus pintar-pintar “ngeles” agar anak tak lantas kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Karena tak semua hal ilmiah bisa dipahami anak usia balita lho… 🙂 

Ada berapa pertanyaan yang saban hari dilontarkan si kecil, dan seorang ibu harus bisa menyiapkan jawaban untuk semua pertanyaan itu.

Maka seorang ibu harus pintar. Bukan berarti seorang ibu harus kuliah hingga jenjang S3 atau bahkan kalau ada S4, hingga S7. hehehe. (Loh, gelarnya udah mirip merk hape.. 😀 -bukan promosi lho.. )

Tapi bila seorang Ibu bisa menempuh pendidikan tinggi, itu juga bagus. Cara berpikir yang didapatkan dari pendidikan tinggi itu bisa digunakan untuk menjelaskan berbagai hal pada anak.

Seorang Ibu harus cerdas, agar ia bisa menjelaskan banyak hal atas pertanyaan anak. Dan bila anak sudah diberi jawaban, si kecil tak lantas kemudian diam. Ia justru akan bertanya pertanyaan yang lebih sulit. Pertanyaan yang gak muncul di lembar ujian sekolah dulu.

Tapi jangan marah ya Bunda… Jangan marah bila anak bertanya mulu.

Bukankah itu tanda bahwa kemampuan berpikir anak makin meningkat? Bukankah banyak bertanya adalah salah satu tanda bahwa anak itu cerdas?

Walaupun hal itu nantinya juga bakal meningkatkan level sebel dan senewen Bunda. 😀

Maka seorang Ibu harus pintar.. Dan juga sebenarnya seorang Ayah harus cerdas juga. Tapi maaf yaa, Bapak-bapak, tulisan ini saya fokuskan dulu buat si Ibu. Hehehe.

Seorang ibu harus cerdas, maka banyak-banyaklah belajar dan membaca. Jangan karena sudah lulus kuliah lalu berhenti membaca. Jangan ya. Banyaklah membaca buku, jangan cuma membaca status media sosial doang ya. 😀 kalau membaca status ini bolehlah, sambil di share ya Bunda.. ^_^

Seorang ibu harus pintar, maka ia harus belajar. Bila ada kesempatan menuntut ilmu, silahkan tuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan dimana saja. Gak harus di bangku kuliah. Yang penting adalah: MAU BELAJAR.

Hadirnya ibu yang pintar dalam suatu rumah saja, sudah luar biasa dampaknya. Kalau kata teman saya, namanya Wina Risman, karena tauladan dari ibu, jawaban atas pertanyaan, walau yang paling sederhana sekalipun, tidak ada jawaban yang lebih baik dari jawaban seorang ibu, walau hanya lulus sekolah dasar sekalipun.

Orang lain, mungkin dengan malasnya akan menjawab : Ngak tahu! Atau “aaah, nanya mulu”.

Tapi, jika seorang ibu yang ditanya, sedikit banyaknya ia akan merasa: jawabannya diperlukan oleh sang anak. Untuk menyempurnakan kemampuan berpikirnya. Walau saat menjawab itu ia sedang melakukan hal lainnya.

Seorang Ibu harus pintar dan cerdas. Bunda setuju? Kalau setuju silahkan di share tulisan ini yaaa.. ^_^

.

.

Oleh: Rini Kusuma, Asal Jogja. 

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu