Ketahuilah, Anak Tidak Selalu Salah. Kalau Bunda Sering Marah Padanya, Mungkin Bunda Sedang Kelelahan dan Stres

0
1632
dampak marahin anak

Maunya saya tak pernah marah pada anak kesayangan, tapi ternyata gagal. Setidaknya saya memarahi anak setiap minggu, selalu saja ada hal yang menjebol amarah. Terkadang kesalahan kecil anak menjadi pemantik kemarahan saya. Tentu saja, setelah marah saya selalu menyesal, tetapi hal itu tak menghentikan kebiasaan buruk ini.

Bunda juga tak ingin marah-marah dengan anak, kan?

Tentu saja, anak yang kita tunggu sejak awal pernikahan dan kita lahirkan dengan susuah payah malah jadi sasaran amarah ibunya sendiri? Kan enggak banget sebenarnya.

Tapi mau bagaimaa lagi, kadang kita kelepasan sampai enggak bisa mengontrol emosi sendiri. Jadi ya sudah, anak jadi korban.

Lebih buruk lagi, kemarahan yang kita sampaikan akan berakibat buruk pada mental anak. Bayangin aja kalau kita marah setiap hari pada sang buah hati, apa yang akan terjadi padanya selain sakit hati dan takut pada ibunya.

Setelah itu, akan ada jarak yang menjauhkan kita dari anak. Itu pasti, sudah banyak terjadi.

Oleh sebab itu, seringkali saya berpikir kembali di malam hari setelah marah pada anak di seore hari. Berpikir soal apa yang menyebabkan saya marah, sebab seringkali saya naik pitam karena persoalan sepele, seperti anak yang memecahkan piring.

Apa sih artinya satu piring dibanding dengan perasaan anak. Lah di rumah kan ada banyak piring, nah kalau pecah satu enggak jadi masalah serius buat rumah. Tapi bisa-bisanya saya marah besar padanya sampai menyebut anak sendiri kurang hati-hati dan lain sebagainya.

Kalau sudah marah, sulit sekali mengontrol ucapan sendiri. Jadi deh keluar kata-kata yang jelas menyakiti anak.

Ya, marah enggak selalu dipicu persoalan serius. Kadang masalah sepele. Saya yakin, anak pasti berpikir ibunya keterlaluan. Toh kita pernah jadi anak-anak juga dan tahu rasanya saat dimarahi orangtua.

Karena saya marah sebab masalah sepele, jadi masalahnya ada pada diri sendiri, bukan sama anak.

Dari perenungan panjang lebar saya menemukan sebuah kesimpulan, yang bermasalah itu saya sendiri. Bukan anak yang bermasalah, tapi ibunya.

Saya pikir saya llelah dan stress dengan banyak tuntutatn hingga membuat stres dan mudah marah. Saya jadi sensitif meliihat kesalahan anak walau sangat kecil.Sementara itu saya jadi lupa dengan tugas dan beban sendiri, iya lupa.

Aya terlalu fokus menguliti kesalahan anak, seperti mencari-cari kesalahannya agar dapat melampiaskan emosi, itu saja.

Saya ingat banyak hal di luar sana yang menekan perasaaan saya hingga berhasil membuat stres, pusing enggak karuan memikirkan semua permasalahan yang menumpuk dan tak kunjung selesai.

Begitulah saya, marah pada anak sebagai cara melepaskan emosi dan stres yang menumpuk di kepala. Entah bagaimana dengan Bunda semua.

Tapi saya pikir, saya perlu menyelesaikan masalah sehingga bisa lebih tenang dan melihat persoalan secara objektif, agar tidak marah-marah terus sama anak. Kasian banget dia, pasti merasa tertekan kalau dekat dengan ibunya.

Ya, saya selalu meminta maaf pada anak dengan berlaku baik setelah marah, menyuruh makan dan memasak yang enak.

Tapi di usianya saat ini. Tujuh tahun, saya melihat dia mulai menjaga jarak dengan ibunya. Sedih tentu saja. Melihat anak sendiri tidak lagi terbuka pada ibunya adalah sebuah kegagalan besar.

Wajar jika anak agak menjauh di saat dewasa, tetapi anak saya baru berusia tujuuh tahun dan dia sudah tak lagi senang berceritpada ibu sendiri.

Bagaimanapun saya baru berani bicara seperti ini melalui tulisan, sementara pada anak sendiri masih tidak terbuka. Saya hanya mengamati dan melihat kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya setiap hari.

Dan lebih buruknya, saya belum menemukan cara memperbaiki hubungan dengan anak yang sudah terlanjur saya rusak. Mungkin Bunda dapat membantu saya mengatasi masalah ini.

Pengalaman saya menjadi ibu baru seumur jagung. Baru punya anak satu. WSebab suami saya bukan tipikal pendengar yang baik. Dia tidak teerlalu beerminat mendengar cerita sesentimentil ini.

Jujur saja saya jarang ngobrol masalah-masalah baper begini dengan suami.

Paling dia akan menanggapi dengan ‘oh begitu’. Ya Tuhan, masalah ibu dan anak ini tidak bisa diselesaikan dengan cara ngobrol dengan suami pendiam seperti dia.

Saya merasa masih punya peluang untuk memperbaiki hubungan dengan anak,tapi apa saya masih bisa menghapus luka di hatinya, entahlah.

Saya menulis ini di malam hari setelah sore harinya marah pada anak sebab dia bermain kotor-kotoran. Saya marah karena dia mengotori bajunya dan menambah beban cucian lagi, sepele sekali kalau dipikir kembali.

Mungkin saya kurang banyak baca soal parenting, memang demikian adanya. Jadi saya mengasuh sesuai kehendak hati saja tanpa pernah memikirkan dampak panjangnya.

Semoga saja saya bisa menjauhkan diri dari penyakit emak tukang marah yang saban hari ngomong keras-keras ke anak sendiri, semoga saja begitu.

Saya tahu, seorang ibu melahirkan anak tidak untuk selalu dimarahi. Tidak, tidak begitu. Mana ada ibu yang maunya begitu, hanya ada ibu yang tak stres dan tidak bisa mengontrol emosinya sendiri sehingga melampiaskan amarah pada anak.

Saya hanya bisa berbagi satu hal ini, emosi ibu dan anak bagaikan cermin. Kalau anak dimarahi terus, tidak selalu anak punya masalah, melainkuan justru ibunya.

Mungkin ibu sedang kelelahan dan stres sehingga mudah emosi. Itu sangat menyebalkan.

Ibu ingin membesarkan anak  dengan baik, namun setiap kemarahan membuat pertumbuhannya terlukai. Anak jadi takut dan menjauh dari orangtua sendiri.

Begitulah buruknya marah, mungkin dapat melepas emosi sesaat tetapi berakibat panjang di hati anak.

Setiap kali marah, saya selalu menyesal.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here