Kok Gak Pakai Asisten Rumah Tangga?

Kok Gak Pakai Asisten Rumah Tangga?

Banyak saudara dan kawan yang melontarkan pertanyaan semacam itu ke saya. Ada pula yang masih ditambah “gak usah sayang-sayang amat sama duit” (nasib punya raut muka jutek, njengkelin, antagonis, tinggi hati, pelit dan medit).

Anggaplah mereka bertanya atas dasar kasih sayang dan rasa iba melihat kerempongan mamah muda (ngaku-ngaku) beranak tiga, tanpa ART (Asisten Rumah Tangga) dan pejuang ldr-an yang ditengokin sebulan sekali (curcol detected). Jadi saya ya cukup nyengir-nyengir badak aja menjawabnya.

Sebenarnya situasi seperti ini bukanlah salah siapa-siapa. Bukan juga salah cinta dan kawan-kawannya. Adalah lebih karena keribetan saya sendirilah, drama ketiadaan ART berawal.  Yaa… alasan utama daripada tidak menggunaken ART adalah karena saya-nya yang kurang merasa mampu menjadi nyonyah.

Alasan yang wagu, terkesan dibuat-buat dan menyusahkan diri sendiri memang. Mau bagaimana, dari sananya saya gak terlalu hobi nyuruh-nyuruh (kecuali nyuruh-nyuruh anak-anak), pekewuh saat ngingetin hal-hal yang kurang pas, dan malas meluruskan banyak hal seperti yang saya mau. Ditambah kehadiran orang asing yang sering bikin saya mati gaya di rumah sendiri dan terpaksa melakukan pencitraan habis-habisan, seperti berpura-pura menjadi ibu bidadari nan baik hati yang gak hobby marah-marah  hingga berusaha bobok siang syantik tanpa ngorok.

Sungguh ibu bidadari lelah bang…

Pernah beberapa kali punya ART dari yang bibi-bibi sampai mbak-mbak remaja alay yang hobbynya pegang hp. Dan hasilnya… ya itu tadi. Cuma bisa grundelan dan menggerutu di belakang karena pekerjaan mereka gak sesuai dengan SOP yang saya inginkan atau biasa saya lakukan. Mau megingatkan  atau membenarkan juga gak enak gitu. Rempong deh eik.

Alhasil karena sudah kebayang bakal seperti itu lagi maka saya putuskan untuk berusaha gak pakai jasa ART. Daripada cuma nambahin grundelan saya yang ujung-ujungnya bikin stres, baper dan gak bahagia sendiri. Yang ada tambah nge-hang lah ibu bidadari.

Ngomong-ngomong, tulisan ini tidak sedang membahas benar salah atau membandingkan mana yang lebih baik lho ya. Ibu-ibu kan bawaannya suka baper kronis. Isi tulisannya apa komentarnya kemana. Yang penting nyolot duluan, nyambung belakangan.

Tulisan ini cuma membahas tentang preferensi. Pilihan. Kesukaan. Lebih khusus lagi pilihan saya, bukan pilihan ibu-ibu lain. Jadi gak ada benar gak ada salah. Gak ada lebih baik gak ada lebih buruk.

Saya lebih suka balon ungu dibandingkan balon ijo, bukan berarti yang suka balon ijo jadi lebih  cemen, nista atau gak mulia karena gak suka balon ungu kan ya? Bukan berarti juga saya nyuruh penyuka balon-balon ijo itu untuk beralih haluan suka balon ungu semua.

Soalnya sempat ada yang berkomentar, “Trus kalau gak ada ART siapa yang ngurusin anak-anak saya mba? Saya kan kerja, gak kaya situ di rumah doang.” Waduh, lha ya wanda to mba. Tau gak wanda? Waaa nda tau. Haha. Emang saya nyuruh situ buat gak pakai ART apa?

Own battle-own battle aja, begitu kata teman-teman di grup whatsap SMA. Battle saya saat ini lagi tidak membutuhkan jasa ART, semua masih bisa saya handle sendiri. Pasti berbeda dengan battlenya ibu-ibu lain dong ya. Ibu yang bekerja misalnya, atau ibu dari anak berkebutuhan khusus, atau sama-sama ibu rumah tangga tapi punya kesibukan luar biasa, atau ibu-ibu wirausaha atau ibu-ibu yang lain.

Banyak kondisi, banyak warna. Gak perlulah disama-samakan jadi sewarna. Jadi kurang harmonis nantinya, gak indah. Emang belum cukup puas ya terjun di kancah perang abadi IRT vs Working mom, Susu formula vs ASI, lahiran normal vs secar dan yang sebangsanya itu?

Masih mau ditambahi tema mulia mana ibu yang pakai ART atau tidak? Duh buuk, so wasting time. Buang-buang energi. Simpelin aja say, butuh ART ya pakailah jasanya. Yang sudah ketemu ART yang pas di hati ya sayangilah mereka, dieman-eman bahasa jawanya, karena cari ART itu seperti cari jodoh, cocok-cocokan.

Yang gak pakai ART ya biasa aja. Gak perlu sok jumawa, “guwe lho, anak tiga gak pakai ART, situ anak baru satu asistennya dua.” Wiiiisss ndak penting sekali itu.

Sebenarnya buat yang menjalankan hidup tanpa ART, gak teramat sangat rempong seperti yang terlihat atau terbayang sih. Kadang memang ada saat-saat yang lumayan menguras emosi, tapi tidak setiap waktu juga. Awal-awal punya bayi, malam-malam yang hanya bisa tidur 2-3jam itu lumayan bikin emosi, sakit kepala yang entah kenapa suka datang di pagi buta itu juga bikin sensi.

Kerapihan rumah yang hanya bertahan paling lama 10 menit kadang juga bikin keki. Mandi yang hanya bisa secepat bebek, gimanalah mau luluran atau latihan karaoke di kamar mandi dengan tenang, sementara si bocah menunggu dengan cucuran air mata di depan pintu.  Dan banyak hal-hal lain yang kadang bikin mama berubah jadi momster. Tapi secara keseluruhan everything is un (der) control, eh… (meski sambil tertatih-tatih dan terbata-bata).

Ini ada beberapa tips ala saya yang lumayan bisa sedikit meringankan kerempongan mengurus rumah beserta bocah di dalamnya tanpa ART

Pertama, Subkontrakkan pekerjaan-pekerjaan rumah yang sekiranya bisa di-subkon-kan ke pihak lain.

Misal: memasak bisa disubkonkan ke warung sebelah rumah (maksudnya beli matengan aja buk),  nyuci nyetrika bisa diberikan ke laundry depan rumah, antar jemput sekolah bisa diberikan ke jasa antar jemput langganan. Jangan lupa, niatkan untuk membuka jalan rejeki pihak-pihak yang bersangkutan, siapa tau hal-hal kecil macam ini yang kelak akan mempermudah kita meraih surga-Nya

Kedua, Turunkan standar kedisiplinan tentang kebersihan dan kerapihan rumah.

Ini hal yang cukup berat dilakukan oleh mama-mama pengidap OCD.

Saat rumah berantakan penuh mainan, cukup hela nafas, ambil sapu dan sapulah segala macem printilan dan cenceremen di lantai ke dalam serok sampah. Niscaya anak-anak akan berebut menyelamatkan mainannya agar tak berakhir di tempat sampah.

Ketiga,  Skip pekerjaan-pekerjaan tak penting dalam hidup seperti SETRIKA.

Bukankah kata orang “life is too short to iron your underpants” kan ya?(Bilang aja males)

Keempat, Pastikan persediaan indomih, coklat dan es krim mencukupi.

Karena hanya mereka yang memahami kegundahan ibu-ibu yang jungkir balik menjaga kestabilan rumah setiap harinya.

Kelima, Pastikan di dalam kotak obat selalu tersedia koyo, balsem, dan bodrex.

Karena merekalah pengganti tangan suami untuk mengurangi sakit kepala dan pegal-pegal di pundak, lutut serta kaki.

Keenam, Selalu aktifkan whatsap dan bbm sebagai ajang untuk menyalurkan emosi (baca:marah-marah) kepada bapaknya bocah sekalipun hanya akan dijawab standar dengan ‘sabar ma, badai pasti berlalu’

Ketujuh, Jangan terlalu memaksakan diri jadi ibu sempurna.

Terlalu antipati sama pospak, bubur bayi instan, frozenfood pabrikan atau susu formula. Dijamin stresss!! Belajarlah jadi ibu yang bijaksana.

Kedelapan, Sekali dua gak masalah nyampah di wall fb sendiri (jangan wallnya orang). Asal jangan keseringan. Terlalu sering mengeluh dan merasa paling rempong sedunia itu tidak bagus untuk kesehatan jiwa.

Kesembilan, Upayakan selalu ada piknik time dan pijet time atau me time,  karena mama juga (cuma) manusia, punya rasa punya hati… *nyanyi. Dan ingat, mama bukan wonderwoman- yang hatinya terbuat dari besi dan baja- ya. Boleh banget kalau sesekali butuh meneteskan air mata dan bahu untuk bersandar.

Kesepuluh, Dan tips terakhir ini lah kuncinya. Selalu katakan ke diri sendiri bahwa jadi ibu itu anugrah, dan punya anak itu berkah. 

Lihat wajah polos mereka. Rasakan dan resapi celoteh dan keceriaan mereka. Hanya soal waktu kok.

Ada berapa banyak pasangan di luar sana yang sangat menginginkan bisa merasakan kerempongan semacam ini. Jadi nikmat manalagi yg akan kau dustakan.

Oke. Demikian tulisan panjang lebar  ini dibuat sekedar untuk menyemangati dan menjaga kewarasan diri. Setiap ibu akan menemukan “ritme” dan “cara”nya masing2-masing dalam menghadapi medan pertempurannya. Temukan dan nikmatilah!!

Ditulis oleh: Yoanita Astrid. 

Comments

Yoanita Astrid

Ibu tiga anak. Tinggal di Jogja.
Close Menu